“PHP” Kepada Profesor

PHP . Istilah ini mungkin tidak asing di telinga kita. Pikiran langsung tertuju kepada sosok pria atau wanita yang kerap mengumbar cinta dan janji kepada lawan jenis.

Tulisan ini memang soal PHP tetapi bukan pemberi harapan palsu, melainkan pemerintah harap perhatian. Subjeknya Pemerintah Kota Tangerang sedangkan objek ialah seorang pegawai honorer di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Rawa Kucing yang dijuluki si profesor.

 DSC_0898

Hamidi nama aslinya, sebutlah Prof. Hamidi. Pria berjuluk profesor ini sama sekali tak punya gelar akademis setingkat profesor. Tapi dari gagasannya, nama Kota Tangerang bisa harum berkat serangkaian riset yang berhasil menciptakan bahan bakar minyak berbasis sampah plastik.

“Awal mula melakukan percobaan ini pada 2008, tetapi masih gagal terus. Mulanya hasilnya masih minyak mentah yang keruh,” katanya saat berbincang dengan saya di salah satu bilik di TPA Rawa Kucing, Kota Tangerang.

Keingintahuan dan keisengan itu awalnya di lakukan di rumah. Percobaan demi percobaan untuk menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) setara premium dan solar dari sampah plastik maupun sayur dan buah diseriusi total sejak akhir 2014.

Kegiatan itulah yang membawa Hamidi akhirnya gabung dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Tangerang, khususnya TPA Rawa Kucing. Dia menerima resmi ajakan joint dari pemkot pada April 2015 karena penasaran bakal sejauh mana pemerintah mau membantu.

Bagi pria ramping berkaca mata itu temuannya layak diapresiasi serius oleh Pemkot Tangerang bahkan kalau perlu pemerintah pusat. Keberhasilan menghasilkan bensin daur ulang dari sampah plastik bisa bikin kota ini, bahkan Indonesia, lebih mandiri dalam pemenuhan kebutuhan BBM.

Berdasarkan catatan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) realisasi penyaluran bahan bakar minyak (BBM) solar bersubsidi selama semester  pertama tahun ini sejumlah 6,95 juta kiloliter (kl). Adapun kuota solar bersubsidi dalam pagu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015 dialokasikan 17,05 juta kiloliter atau baru terealisasi 41%.

Kuota bahan bakar minyak bersubsidi pada tahun ini turun dari 46 juta kiloliter menjadi 17, 85 juta kiloliter setelah pemerintah mencabut subsidi premium per 1 Januari 2015 atau turun 61,19%. Perinciannya, kuota solar dan minyak tanah masing-masing sebanyak 17,05 juta KL dan 0,85 juta KL.

“Kalau berpikir secara ekonomi, ini akan sanngat menguntungkan karena bahan bakunya murah bahkan gratis cuma sampah. Ini bernilai tambah tinggi,” tutur Hamidi.

Kenyataan yang ada belum menunjukkan sikap antusias berarti dari pemerintah. Peran dia di jajaran pemerintahan Kota Benteng saja, ibaratnya,  cuma remah-remah kerupuk. Laboratorium, alias ruang kerja tempatnya mangkal, hanya bilik triplex 3 x 4 meter yang pengap.

Pada tahun lalu, Hamidi bercerita, dia menemui wali kota membawa proposal tentang riset bensin daur ulangnya. Kala itu dia sembari membawa bukti, ada beberapa sampel berupa bahan bakar setara minyak tanah, solar dan premium hasil mesin daur ulang plastik buatannya.

Wali Kota Tangerang, imbuh dia, tampak antusias dengan temuan tersebut. Proposal tersebut selanjutnya diarahkan ke meja DKP.

Opsi yang muncul dua, pertama, pemkot memberikan bantuan sekali lantas selesai atau, kedua, Hamidi gabung dengan DKP untuk mendalami studinya. Penuh prasangka baik, walhasil tawaran kedua yang diambil.

Hamidi mengklaim dari 100% ilmu memroduksi BBM berbasis sampah plastik sekitar 80% dia kuasai. Dari satu proses produksi bahkan dia tahu bagaimana agar hasil akhir lebih banyak mengeluarkan solar, premium atau minyak tanah.

Sedikit banyak dia menjelaskan kepada Bisnis perincian proses produksi. Mulai dari jumlah sampah plastik yang dibutuhkan, sistem pengapian, cara kerja mesin, sampai hasil akhir. Tapi Hamidi enggan hal ini diekspos tetapi dipastikan harga ecernya tak lebih mahal dari Rp5.000 per liter.

Alasannya? Dia menjawab, “Sekarang saya tanya, saya cuma tenaga honorer, layakkan hal seperti ini saya keluarkan? Apalagi temuan ini berguna sampai anak cucu kita”. Mungkin bukan hanya sampai cicit tetapi hingga dunia berakhir karena sampah tidak akan habis.

Oleh karena itu jika menemuinya sekilas di TPA Rawa Kucing tidak akan ditemukan rangkaian mesin apapun yang sedang beroperasi mengolah sampah plastik jadi bensin. Di sana Hamidi hanya berkenan menjalankan riset daur ulang sampah sayur jadi BBM.

Hamidi menjelaskan alasan temuannya layak diapresiasi lebih serius oleh pemkot karena bahan bakar yang dia hasilkan sudah bening dan nyaris layak dipakai pada kendaraan. Bensin daur ulang dari sampah plastiknya hanya perlu dipoles sejengkal lagi tetapi dia sengaja menahan diri.

“Saya lihat banyak orang lakukan percobaan serupa tetapi hasilnya belum memuaskan,” ucapnya. Tidak memuaskan yang dimaksud  ialah hasilnya biasanya masih minyak mentah yang ketika didiamkan kembali beku, kalaupun jadi bensin tetapi masih keruh.

Jika demikian mengapa tidak kembangkan sendiri saja? Pertanyaan ini mungkin mengambang di benak orang dan sayapun demikian. Hamidi mengaku ingin mengembangkan semua percobaannya secara mandiri sampai bisa dimanfaatkan masyarakat secara massal.

Namun ada punya pertimbangan lain. “Regulasi kita memberatkan. Dan lagi kalau terus saya kembangkan ini, secara pribadi bisa berdampak buruk ke saya. Mungkin saya akan banyak dapat ancaman”.

Ada kepentingan bisnis lebih besar yang kemungkinan menjegal. Sebut saja, sikap kontra dari para pengusaha stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Bisa-bisa mereka mencak-mencak karena bensin buatan Hamidi dipastikan lebih murah ketimbang premium dan solar.

Apabila temuan Hamidi disosialisasi masif tentu bakal mengedukasi masyarakat lebih baik. Mereka mungkin jadi lebih cinta kepada sampah. Ya betapa tidak, rongsokan yang sekilas tak berguna itu ternyata bernilai tambah tinggi.

Pada akhirnya bisa memberi solusi domino. Masyarakat lebih peduli terhadap sampah dengan mengumpulkan dan memilahnya. Pengelolaan sampah kota lebih efisien. Masyarakat bisa mendapatkan bensin lebih murah dan pemkot dapat tambahan pendapatan.

Seluruh komponen dari proses pengolahan plastik jadi BBM pun tidak ada yang sia-sia. Sisa air dari bensin yang dihasilkan bisa jadi pestisida dan ampas plastik diubah menjadi briket. “Ini juga bisa jadi usaha kreatif masyarakat cuma bermodal rajin ngumpulin sampah,” ucap Hamidi.

Itu baru dari aneka plastik belum lagi sampah sayur dan bebuahan. Hasil akhirnya berupa etanol dapat dipakai untuk mendongkrak kualitas kimiawi BBM temuan Hamidi.

Terpisah dari percobaan si profesor, pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian ESDM dikabarkan akan menghibahkan mesin khusus pendaur ulang sampah menjadi bahan bakar minyak. Kemungkinan harus menunggu lebih dari setahun lagi sampai alat buatan India ini datang ke Rawa Kucing.

Hamidi mengaku tidak terintimidasi. Sistem kerja alat ini tampaknya berbeda dengan mesin buatannya, entah mana yang lebih baik. Yang pasti, hasil akhirnya pun kemungkinan besar perlu diproses lebih lanjut.  Padahal untuk taraf yang sama alat pirolisis si profesor bekerja lebih simpel dan murah.

“Kalau alat itu datang, katanya akan dijadikan operator, sekadar operator. Mana penghargaan dari pemerintah kepada anak kreatif negeri sendiri?” kata pria berusia 36 tahun itu.

Kini Hamidi tetap menjali tugas hariannya di laboratorium mini di Rawa Kucing. Dia tetap menahan diri untuk mempublikasikan kepada pemkot. Profesor terus menyimpan kabar dirinya sudah dapat jawaban agar si bensin bisa dioperasikan normal di kendaraan untuk diri sendiri.

Semoga Pemerintah Kota Tangerang bukan tukang tebar pesona yang suka beri harapan palsu. Pemerintah diharap menyisihkan bperhatian lebih serius, “Mau dibawa ke mana sih arah pengembangan temuan ini oleh mereka?” celoteh profesor.

6 thoughts on ““PHP” Kepada Profesor

  1. Insya Allah pasti ada jalan nya, kalo Allah dah berkehendak apapun ppasti terjadi, sama halnya bang hamidi bisa nemuin hal ginian kan datangnya dari Allah, subhanallah bang. Soon or later u’ll be someone that the people will look for you, need of your finding and reset. Sukses my bro.

  2. Sukses terus Hamidi, keep on fighting on what you believe..InsyaAllah pasti ada jalan yg terbaik…niat dan tujuannya sdh baik, InsyaAllah hasilnya juga baik, keep the faith

  3. Sukses terus pak.hamidi. Luar biasa! Saya doakan semoga cepat terealisasi di rawa kucing. Dan para investor melihat keseriusan pak.hamidi untuk membantu rakyat indonesia. Insya allah jalan baik selalu ada. Tetep semangat pak.. (YARUKI)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s