Tegar

aku mengeja namamu seperti lantun dzikir yang membalut bulir tasbih. terpisah-pisah namun tetap menjadi serangkai utuh, yang paripurna. waktu itu kau sampaikan, jangan menyerah dengan isi kepalamu sendiri. karena hati dan musuh ada di dalam otakmu saja. di luar itu damai.
lalu aku berkata kepadamu, aku tidak cengeng. aku tidak mengeluh kawan. akupun bukan kalah. aku hanya sedang berhenti dari kesibukan kepalaku untuk bernapas dan merapal namamu. ritual yang kulakukan diam-diam seperti kelabu yang menjalari awan putih sore ini.

kubilang kala itu, namamu seperti sengat listrik yang menengangkan dan mengisi daya. Aku suka merapal asmamu untuk dzikirku…

tegar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s