Biru

TELAPAK jempol tanganku menyentuh layar ponsel. Menggesernya ke atas dan ke bawah, memeriksa setiap pesan yang masuk dan belum kubalas sejak dua jam terakhir. Saat inilah momentum tatkala aku merasa ada bara di dalam dada; marah. Tepatnya ketika aku membuka pesan baru di baris paling bawah. Bukan masalah dengan si pesan, tetapi perkaranya terletak pada satu chat yang ada tepat di bawah pesan ini.

 

Berubah.

 

Bukan, bukan mood-ku yang berubah. Maksudku, iya betul, mood-ku lantas berubah. Tapi yang kuceritakan di sini adalah perubahan foto profil. Gambar profil nomor yang kunamai “Bagas”, berganti dalam kurun waktu dua jam terakhir.

 

Tampak di sana selembar kertas film khusus rontgen menampilkan foto hitam putih lekuk janin berusia sembilan bulan. Ada lengkungan setengah lingkaran menyerupai kepala. Garis oval putih sisanya menunjukkan itulah si badan. Foto ini tampak syahdu karena kuyakin pasti dibubuhkan efek lawas oleh pemilik.

 

Sudah sembilan berlalu. Berusaha kujaga dan tetap kujalin komunikasi dengan Bagas. Aku hanya ingin belajar tegar dan lapang. Ini kupelajari secara khusus dalam mata kuliah “Bagas” tepat sejak suatu kamis pada bulan Desember silam. Kamis yang seharusnya bisa kukenang dengan rasa manis, kenyataannya malah menjadi sadis.

 

Memilih untuk tak menjadi tua dalam tanda tanya, aku bicara dengan Bagas tentang yang sebenarnya. Dia menunduk dan seperti sungguh menyesal. Apakah itu menyesal karena menghianatiku, atau menyesal karena aksi hidung belangnya kuketahui lebih cepat. Ah.. aku harap yang pertama.

 

Aku memutuskan untuk undur diri dari hubungan kami. Dua pekan kemudian kudengar kabar Bagas sudah menikah dengan perempuan itu. Wanita yang menikmati hangatnya pelukan bagas di atas kasur ketika aku sedang mumet memikirkan proyek kantor nun jauh di Kalimantan.

 

Sekilas tampak biasa saja kejadian pergantian foto profil Bagas. Apa yang harus aku perkarakan? Setiap kertas rontgen ada pemiliknya, terserah mereka mau menyimpan di dalam amplop saja atau mempublikasikan, via foto profil perpesanan misalnya, maka apa urusannya denganku?

 

Mmmm…

 

Mungkin, masalahnya karena itu adalah gambar profil nomor bernama Bagas, seseorang yang menyebabkan rinduku harus tabah.

 

Marahku membiru.

 

Seketika aku merasakan bayang berwarna biru merambat perlahan menutup layar ponselku, lalu leptop, kemudian membalut seluruh dinding ruangan tempatku terduduk. Biru itu seperti cat akrilik kental yang merambat perlahan dari bawah ke atas. Setitik demi setitik tertutup merata. Bahkan bola mataku kini juga ikut teraliri. I feel blue.

 

Karena Bagas aku menangis karena harus hidup di masa kini, bukan masa lalu. Ya, masa lampau saat dia bertanya, “jika benar kamu merasa kelabu, mengapa tak coba lukis dirimu dalam balutan warna lain?”

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s