Dari Sampah Plastik Hijrah ke Hidroponik

DSCF0785
Jajaran tanaman hidroponik milik Hamidi. [dok. pribadi]
GELAS plastik bekas pakai Pop Mi serta sampah gelas Starbucks dan J’Co berdiri saling sejajar di rak kayu. Jumlahnya ratusan, memenuhi suatu pekarangan salah satu rumah di Jalan Siswa Raya, Kecamatan Belendung, Kelurahan Benda, Kota Tangerang.

Aneka gelas plastik bekas pakai itu bukan menjadi pajangan melainkan fungsinya menjelma sebagai pot tanaman. Bagian bawahnya dibolongi lantas di selipkan semacam kain sehingga tampak seperti buntut. Si buntut ini dicelupkan ke dalam potongan botol plastik berisi air.

“Ini namanya tanaman hidroponik. Jadi airnya langsung terserap [melalui kain yang tercelup ke air]. Makan sendiri tanamannya,” kata Hamidi kepada saya, di Tangerang, awal Mei lalu. Dialah yang menerapkan cara bercocok tanam hidroponik ini di halaman rumahnya.

Kamus bebas Wikipedia mengutarakan bahwa hidroponik berasal dari kata Yunani yaitu hydro yang berarti air dan ponos yang artinya daya. Hidroponik juga dikenal sebagai soilless culture atau budidaya tanaman tanpa tanah.

“Jadi hidroponik berarti budidaya tanaman yang memanfaatkan air dan tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam atau soilless,” demikian tulis Wikipedia [https://id.wikipedia.org/wiki/Hidroponik].

Hidroponik  tak lain merupakan cara menanam dengan memanfaatkan air saja, tanpa tanah. Yang menjadi fokus adalah pemenuhan nutrisi bagi si tanaman. Kendati bertumpu kepada air, tetap saja kebutuhan air oleh tanaman hidroponik lebih sedikit daripada yang pakai medium tanah.

DSCF0787

Cocok tanam hidroponik adalah kreatifitas Hamidi yang kedua setelah proyek pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak siap pakai.  “Ini [hidroponik] saya gerakkan karena butuh [dana] untuk mengembangkan Mi Plas [BBM dari sampah]. Saya butuh uang untuk Mi Plas,” ucap Hamidi.

Dia berencana menjual tanaman hidroponiknya. Pria berkacamata ini sengaja menanam sayur-sayuran alias tumbuhan yang sehari-hari lazim dikonsumsi masyarakat. Sayuran produksinya dijamin organik karena tak menggunakan pestisida, hanya pupuk cair khusus yang dibuatnya pula dari sampah organik.

Namun Hamidi belum memikirkan serius metode penjualan tersebut, berapa harga yang akan dibanderol, dan bagaimana rantai distribusinya. Sejauh ini dia terus mengembangkan kebun hidroponiknya untuk kebutuhan personal bersama keluarga.

Kebun hidroponik yang dikembangkannya sejak November 2015 ini berisi aneka sayur sebut saja, selada, bayam, pak coi, kacang panjang, tomat, cabai, dan lain-lain. Selain menanam sayuran ini, hamidi juga membuat pupuk cair serta berusaha melakukan pembibitan sendiri.

“Katanya Camat mau datang, kalau benar, saya mau sampaikan saya mau minta bibit. Karena belum semua tanaman ini sudah bisa saya bibitkan sendiri,” ujar pria asal Betawi itu.

Saat ini bibit yang sudah tidak perlu dibeli Hamidi lagi adalah caisin, bayam, bayam merah, selada, kacang panjang, kemangi, cabai, dan tomat. Dalam menyemai bibit tentu butuh waktu berbeda-beda antartanaman.

Bapak tigak anak itu menjelaskan untuk pakcoi butuh sekitar sebulan masa tanam sampai bisa dipanen, sawi sekitar 26 hari, bayam sekitar 22 hari, selada sekitar sebulan, dan tomat antara tiga sampai 3,5 bulan.

Lantaran tidak ada bantuan bahan kimia, masa tanam jadi lebih lama dibandingkan dengan sayur yang menggunakan pestisida.

DSCF0788
Pot tempat penyemaian bibit tanaman sebelum ditanam dengan metode hidroponik. [dok. pribadi]
 Sebetulnya, imbuh Hamidi, dalam bercocok tanam dia bisa menggabungkan pupuk cair dari sampah organic dengan Urea, NPK, dan perangsang buah. Tapi sejauh ini dirinya belum melakukan ini, Hamidi tetap bertahan sealami mungkin.

Dalam menyemai bibit baru dibutuhkan waktu antara sepuluh sampai dengan 15 hari. Kurun waktu ini dibutuhkan untuk menunggu bibit sampai bertunas sekitar tiga hingga empat daun.

Hamidi memang berencana fokus melakukan hidroponik tanaman-tanaman yang dibutuhkan sehari-hari. Tapi ke depan tidak hanya sayuran yang akan dia tanam melainkan pula bebuahan. Sekarang mulai dirintis hidroponik buah melon.

Dia menyatakan tujuannya membuat kebun hidroponik sebetulnya hendak mengedukasi masyarakat bahwa bercocok tanam tidak harus mahal dan berlahan luas. “Kita bisa manfaatkan barang yang sudah dibuang yang dianggap sampah,” kata Hamidi menutup perbincangan.

 

2 thoughts on “Dari Sampah Plastik Hijrah ke Hidroponik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s