Dari Sampah Plastik Hijrah ke Hidroponik

DSCF0785
Jajaran tanaman hidroponik milik Hamidi. [dok. pribadi]
GELAS plastik bekas pakai Pop Mi serta sampah gelas Starbucks dan J’Co berdiri saling sejajar di rak kayu. Jumlahnya ratusan, memenuhi suatu pekarangan salah satu rumah di Jalan Siswa Raya, Kecamatan Belendung, Kelurahan Benda, Kota Tangerang.

Aneka gelas plastik bekas pakai itu bukan menjadi pajangan melainkan fungsinya menjelma sebagai pot tanaman. Bagian bawahnya dibolongi lantas di selipkan semacam kain sehingga tampak seperti buntut. Si buntut ini dicelupkan ke dalam potongan botol plastik berisi air.

“Ini namanya tanaman hidroponik. Jadi airnya langsung terserap [melalui kain yang tercelup ke air]. Makan sendiri tanamannya,” kata Hamidi kepada saya, di Tangerang, awal Mei lalu. Dialah yang menerapkan cara bercocok tanam hidroponik ini di halaman rumahnya.

Kamus bebas Wikipedia mengutarakan bahwa hidroponik berasal dari kata Yunani yaitu hydro yang berarti air dan ponos yang artinya daya. Hidroponik juga dikenal sebagai soilless culture atau budidaya tanaman tanpa tanah.

“Jadi hidroponik berarti budidaya tanaman yang memanfaatkan air dan tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam atau soilless,” demikian tulis Wikipedia [https://id.wikipedia.org/wiki/Hidroponik].

Hidroponik  tak lain merupakan cara menanam dengan memanfaatkan air saja, tanpa tanah. Yang menjadi fokus adalah pemenuhan nutrisi bagi si tanaman. Kendati bertumpu kepada air, tetap saja kebutuhan air oleh tanaman hidroponik lebih sedikit daripada yang pakai medium tanah.

DSCF0787

Cocok tanam hidroponik adalah kreatifitas Hamidi yang kedua setelah proyek pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak siap pakai.  “Ini [hidroponik] saya gerakkan karena butuh [dana] untuk mengembangkan Mi Plas [BBM dari sampah]. Saya butuh uang untuk Mi Plas,” ucap Hamidi.

Dia berencana menjual tanaman hidroponiknya. Pria berkacamata ini sengaja menanam sayur-sayuran alias tumbuhan yang sehari-hari lazim dikonsumsi masyarakat. Sayuran produksinya dijamin organik karena tak menggunakan pestisida, hanya pupuk cair khusus yang dibuatnya pula dari sampah organik.

Namun Hamidi belum memikirkan serius metode penjualan tersebut, berapa harga yang akan dibanderol, dan bagaimana rantai distribusinya. Sejauh ini dia terus mengembangkan kebun hidroponiknya untuk kebutuhan personal bersama keluarga.

Kebun hidroponik yang dikembangkannya sejak November 2015 ini berisi aneka sayur sebut saja, selada, bayam, pak coi, kacang panjang, tomat, cabai, dan lain-lain. Selain menanam sayuran ini, hamidi juga membuat pupuk cair serta berusaha melakukan pembibitan sendiri.

“Katanya Camat mau datang, kalau benar, saya mau sampaikan saya mau minta bibit. Karena belum semua tanaman ini sudah bisa saya bibitkan sendiri,” ujar pria asal Betawi itu.

Saat ini bibit yang sudah tidak perlu dibeli Hamidi lagi adalah caisin, bayam, bayam merah, selada, kacang panjang, kemangi, cabai, dan tomat. Dalam menyemai bibit tentu butuh waktu berbeda-beda antartanaman.

Bapak tigak anak itu menjelaskan untuk pakcoi butuh sekitar sebulan masa tanam sampai bisa dipanen, sawi sekitar 26 hari, bayam sekitar 22 hari, selada sekitar sebulan, dan tomat antara tiga sampai 3,5 bulan.

Lantaran tidak ada bantuan bahan kimia, masa tanam jadi lebih lama dibandingkan dengan sayur yang menggunakan pestisida.

DSCF0788
Pot tempat penyemaian bibit tanaman sebelum ditanam dengan metode hidroponik. [dok. pribadi]
 Sebetulnya, imbuh Hamidi, dalam bercocok tanam dia bisa menggabungkan pupuk cair dari sampah organic dengan Urea, NPK, dan perangsang buah. Tapi sejauh ini dirinya belum melakukan ini, Hamidi tetap bertahan sealami mungkin.

Dalam menyemai bibit baru dibutuhkan waktu antara sepuluh sampai dengan 15 hari. Kurun waktu ini dibutuhkan untuk menunggu bibit sampai bertunas sekitar tiga hingga empat daun.

Hamidi memang berencana fokus melakukan hidroponik tanaman-tanaman yang dibutuhkan sehari-hari. Tapi ke depan tidak hanya sayuran yang akan dia tanam melainkan pula bebuahan. Sekarang mulai dirintis hidroponik buah melon.

Dia menyatakan tujuannya membuat kebun hidroponik sebetulnya hendak mengedukasi masyarakat bahwa bercocok tanam tidak harus mahal dan berlahan luas. “Kita bisa manfaatkan barang yang sudah dibuang yang dianggap sampah,” kata Hamidi menutup perbincangan.

 

a random babble about creative industry

*sipping coffee*

*daydream*

ehem ehem… *check sound*

…WELL, we have four economic sectors, which are agriculture, manufacturing, services, and the last one is creative industry. We are going through a period of growth in the creative industry sector. Therefore, we should focus on human resources instead of natural resources.

 

Several short term problems can be solved by creative industry, such as slow economic growth after the last crises (average 4,5% per annum), high rates of unemployment (9% – 10%), high rates of poverty (16% – 17%), and also poor competitiveness.

 

Creative industry tends toward a greener economy and is creating added value for products and services. Therefore, this sector is expected to answer some challenges on the issues of global warming, utilization of renewable energy, deforestation, and carbon emission.

 

Basicaly, all opportunities are also challenges. Creative industry creates chances but it also had obstacles to face. At least, we have  five fundamental problems, which are human resource quality and quantity, easy doing business, appreciation for creative industry player, how fast information and technology growing, and not many funding institution wants to help the creative industry.

 

Eventhough we have so many homework here, I believe, capital isn’t so important. Experience isn’t so important. You, said Harvey Firestone, can get both these things. “What is important is ideas. If you have ideas there isn’t any limit to what you can do with your business”.

hmmm… *sipping coffee*

*sleep*

Tangsel Wajib Berbenah Pekerjaan Rumah

tangsel
Peta Wilayah Kota Tangerang Selatan [Sumber:  jakarta.panduanwisata.id]
KOTA Tangerang Selatan menjadi satu-satunya perkotaan di Tangerang Raya, Provinsi Banten yang mengikuti pemilihan kepala daerah serentak pada tahun ini. Tak tanggung-tanggung penyelenggaraan pilkada di kota ini ditetapkan sebagai proyek percontohan di Indonesia.

 

Percontohan yang dimaksud ialah untuk melihat seberapa efisien penyelengaran demokrasi di Tangerang Selatan. Sejumlah 30 duta besar negara sahabat akan disuguhkan betapa fasilitas publik dapat dipergunakan secara kondusif untuk pelaksanaan suksesi.

 

Ketua Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Tangerang Selatan Mohamad Subhan mengatakan pilkada wali kota dan wakil wali kota akan dihadiri sejumlah tamu kenegaraan di antaranya 30 duta besar, komisioner KPU RI, KPU luar negeri, dan tamu undangan lain.

 

“Mereka akan memonitor proses pemungutan suara dan proses penghitungan surat suara,” ujarnya.

 

Ada beberapa tempat pemungutan suara (TPS) yang akan dikunjungi dan masing-masingnya semacam memiliki latar belakang filosofis tertentu. Misalnya TPS yang ada di sekolah, ini menunjukkan sekolah sebagai fasilitas negara yang bisa dipakai dalam proses demokrasi.

 

Selain itu, imbuhnya, ada pula TPS yang dekat dengan pasar. Lokasi ini identik sebagai fasilitas umum yang aktivitasnya tetap bergulir saat momentum pilkada. “Walaupun tidak ada libur di pasar, tetapi proses demokrasi tetap bisa jalan,” kata Subhan.

 

Pilkada Tangsel berlangsung di 2.245 tempat pemungutan suara. Dari tiga pasang calon hanya para calon wali kota saja yang akan mencoblos karena para calon wakil wali kota bukan warga Tangsel.

 

Namun mari sejenak alihkan fokus teropong dari panggung politik ke jalanan.

Tampaklah betapa kota ini punya segudang pekerjaan rumah yang harus diselesaikan menyangkut penyelenggaraan pelayanan kesehatan, infrastruktur, pendidikan, maupun pelayanan dasar di sejumlah kecamatan.

 

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Tangerang Public Transparency Watch (Truth) bahkan berani melabeli Pemerintah Kota Tangsel dengan tiga cap negatif. Pemkot diklaim gagal mewujudkan pelayanan dasar dengan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih di empat bidang tersebut.

 

Selain itu, Pemkot Tangsel juga disebut gagal mewujudkan peningkatan pelayanan dasar. Dan cap terakhir adalah praktik pelayanan dasar sarat praktik pungutan liar (pungli). Pungli yang dimaksud baik berupa korupsi, pemerasan, maupun suap-menyuap.

 

Pungutan liar (pungli) dinyatakan sebagai masalah terbesar dalam penyelenggaraan pendidikan di Tangerang Selatan. Ini diperoleh dari hasil studi Sekolah Anti Korupsi (Sakti) yang Truth dan Indonesia Corruption Watch (ICW).

 

Jupry Nugroho dari Sakti Tangerang menyatakan penelitian dilakukan secara acak terhadap 20 Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Didapati ada 98% pungutan liar dalam berbagai aktivitas belajar dan mengajar di sekolah di berbagai wilayah Tangerang Selatan.

 

“Pungli ini ada dalam pembelian buku, seragam, dan pengambilan rapot,” ucapnya. Selain itu, pungutan liar juga beredar dalam kegiatan pengadaan uang komputer, study tour, uang Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), ekstrakulikuler, dan gedung sekolah.

 

Jupry menyatakan kondisi tersebut menunjukkan penyelenggaran pendidikan di Kota Tangerang Selatan belumlah bebas biaya alias gratis. Selain pungli masalah lain yang membelit adalah penyediaan fasilitas pendidikan. “Sebagai contoh perpustakaan dan toilet,” ujar Jupry.

 

Sakti Tangerang melansir 60% fasilitas perpustakaan sekolah dasar negeri dalam keadaan buruk. Kondisi yang sama berlaku untuk 90% toilet SDN di Tangsel.

 

Sektor pendidikan, imbuh Jupry, hanya salah satu dari empat obyek penelitian yang menyangkut pelayanan dasar di Tangerang Sealtan. Obyek lain yang turut disoroti adalah kesehatan, infrastruktur jalan, serta pelayanan di tujuh kecamatan.

 

Adapun di bidang kesehatan dinyatakan seratus persen Puskesmas di Kota Tangerang Selatan tidak memiliki armada Puskesmas Keliling. Ini disampaikan Acho Ardiansyah dari Sakti Tangerang berdasarkan obyek penelitian dari 23 Puskesmas.

 

“Kami ambil dua responden dari masing-masing Puskesmas,” tutur dia.

 

Secara keseluruhan Sakti Tangerang menemukan sembilan masalah di bidang kesehatan. Contohnya, 91% Puskesmas tidak memiliki sistem pengendali kebisingan dan 83% tidak mencantumkan informasi ketersediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan.

 

Belum lagi ada 80% Puskesmas tidak mencantumkan informasi ketersediaan obat yang mereka miliki. Adapula pusat layanan  kesehatan yang tak mencantumkan informasi tentang tarif berobat sekitar 70%.

 

“Sejumlah 61% Puskesmas juga tak melibatkan masyarakat dalam menyusun standar pelayanan kesehatan,” tutur Acho. Ditambah lagi 65% dari mereka tidak punya info ketersediaan pemberdayaan masyarakat.

 

Sementara itu, pada aspek infrastruktur jalan Sakti Tangerang menyatakan seratus persen jalanan di Kota Tangerang Selatna tidak memiliki pengaman.

 

Oki Anda S. dari Sakti Tangerang menuturkan ditemukan sembilan masalah utama terkait infrastruktur jalan raya di Tangsel termasuk soal pengaman jalan. Porsi masalah terbesar setelah perkara pengaman jalan adalah 95% jalanan tidak menyediakan tempat pemberhentian angkutan umum.

 

“Sebesar 93% permintaan perbaikan jalan itu tak direspon oleh pemkot Tangerang,” ujar Oki.

 

Kenyataan di lapangan, imbuhnya, sekitar 75% jalan di Tangsel tidak diperbaiki secara rutin. Belum lagi masing-masing 73% saluran air dalam keadaan buruk dan dengan kondisi jalan yang ada sering menyebabkan kecelakaan.

 

Adapun tiga masalah terakhir adalah ketiadaan  trotoar pada 65% jalan raya, tidak adanya gorong-gorong di 60% jalan, serta 55% dari infrastruktur yang ada pun tak punya rambu jalan. “Studi ini terhadap 20 jalan kota di Tangerang Selatan,” ucap Oki.

 

Menanggapai berbagai masalah yang menjadi benang kusut ini, Wakil Koordinator Truth Suhendar menilai sebetulnya tidak sukar untuk mengatasinya. Kata kunci yang dia sebutkan adalah niat terutama dari pemerintah untuk mengurai kekusutan yang ada.

 

“Contohnya untuk mengikis budaya pungli di sektor pendidikan butuh kepemimpinan yang kuat dan kemauan politik untuk menghentikannya,” kata dia. Pemimpin yang dimaksud tidak hanya kepala daerah tetapi juga kepala dinas terkait bahkan kepala sekolah.

 

Pemimpin tersebut tidak hanya sekadar menggaungkan untaian kaliman melainkan tindakan nyata. Misalnya dengan membuat regulasi daerah tertentu menyangkut pungli di area pendidikan dibarengi layanan pengaduan melalui pesan singkat dan sanksi tegas.

 

Selain regulator tentu peran masyarakat tidak bisa dikesampingkan. Harus ditingkatkan kesadaran orang tua murid dan siswa itu sendiri. Kesadaran yang berangkat dari logika sederhana bahwa setiap bentuk permintaan biaya selalu mensyaratkan bukti pembayaran dibarengi laporan pertanggungjawaban.

 

“Masyarakat harus berani untuk meminta dan mempertanyakannya,” tutur Suhendar menutup wawancara.

“PHP” Kepada Profesor

PHP . Istilah ini mungkin tidak asing di telinga kita. Pikiran langsung tertuju kepada sosok pria atau wanita yang kerap mengumbar cinta dan janji kepada lawan jenis.

Tulisan ini memang soal PHP tetapi bukan pemberi harapan palsu, melainkan pemerintah harap perhatian. Subjeknya Pemerintah Kota Tangerang sedangkan objek ialah seorang pegawai honorer di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Rawa Kucing yang dijuluki si profesor.

 DSC_0898

Hamidi nama aslinya, sebutlah Prof. Hamidi. Pria berjuluk profesor ini sama sekali tak punya gelar akademis setingkat profesor. Tapi dari gagasannya, nama Kota Tangerang bisa harum berkat serangkaian riset yang berhasil menciptakan bahan bakar minyak berbasis sampah plastik.

“Awal mula melakukan percobaan ini pada 2008, tetapi masih gagal terus. Mulanya hasilnya masih minyak mentah yang keruh,” katanya saat berbincang dengan saya di salah satu bilik di TPA Rawa Kucing, Kota Tangerang.

Keingintahuan dan keisengan itu awalnya di lakukan di rumah. Percobaan demi percobaan untuk menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) setara premium dan solar dari sampah plastik maupun sayur dan buah diseriusi total sejak akhir 2014.

Kegiatan itulah yang membawa Hamidi akhirnya gabung dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Tangerang, khususnya TPA Rawa Kucing. Dia menerima resmi ajakan joint dari pemkot pada April 2015 karena penasaran bakal sejauh mana pemerintah mau membantu.

Bagi pria ramping berkaca mata itu temuannya layak diapresiasi serius oleh Pemkot Tangerang bahkan kalau perlu pemerintah pusat. Keberhasilan menghasilkan bensin daur ulang dari sampah plastik bisa bikin kota ini, bahkan Indonesia, lebih mandiri dalam pemenuhan kebutuhan BBM.

Berdasarkan catatan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) realisasi penyaluran bahan bakar minyak (BBM) solar bersubsidi selama semester  pertama tahun ini sejumlah 6,95 juta kiloliter (kl). Adapun kuota solar bersubsidi dalam pagu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015 dialokasikan 17,05 juta kiloliter atau baru terealisasi 41%.

Kuota bahan bakar minyak bersubsidi pada tahun ini turun dari 46 juta kiloliter menjadi 17, 85 juta kiloliter setelah pemerintah mencabut subsidi premium per 1 Januari 2015 atau turun 61,19%. Perinciannya, kuota solar dan minyak tanah masing-masing sebanyak 17,05 juta KL dan 0,85 juta KL.

“Kalau berpikir secara ekonomi, ini akan sanngat menguntungkan karena bahan bakunya murah bahkan gratis cuma sampah. Ini bernilai tambah tinggi,” tutur Hamidi.

Kenyataan yang ada belum menunjukkan sikap antusias berarti dari pemerintah. Peran dia di jajaran pemerintahan Kota Benteng saja, ibaratnya,  cuma remah-remah kerupuk. Laboratorium, alias ruang kerja tempatnya mangkal, hanya bilik triplex 3 x 4 meter yang pengap.

Pada tahun lalu, Hamidi bercerita, dia menemui wali kota membawa proposal tentang riset bensin daur ulangnya. Kala itu dia sembari membawa bukti, ada beberapa sampel berupa bahan bakar setara minyak tanah, solar dan premium hasil mesin daur ulang plastik buatannya.

Wali Kota Tangerang, imbuh dia, tampak antusias dengan temuan tersebut. Proposal tersebut selanjutnya diarahkan ke meja DKP.

Opsi yang muncul dua, pertama, pemkot memberikan bantuan sekali lantas selesai atau, kedua, Hamidi gabung dengan DKP untuk mendalami studinya. Penuh prasangka baik, walhasil tawaran kedua yang diambil.

Hamidi mengklaim dari 100% ilmu memroduksi BBM berbasis sampah plastik sekitar 80% dia kuasai. Dari satu proses produksi bahkan dia tahu bagaimana agar hasil akhir lebih banyak mengeluarkan solar, premium atau minyak tanah.

Sedikit banyak dia menjelaskan kepada Bisnis perincian proses produksi. Mulai dari jumlah sampah plastik yang dibutuhkan, sistem pengapian, cara kerja mesin, sampai hasil akhir. Tapi Hamidi enggan hal ini diekspos tetapi dipastikan harga ecernya tak lebih mahal dari Rp5.000 per liter.

Alasannya? Dia menjawab, “Sekarang saya tanya, saya cuma tenaga honorer, layakkan hal seperti ini saya keluarkan? Apalagi temuan ini berguna sampai anak cucu kita”. Mungkin bukan hanya sampai cicit tetapi hingga dunia berakhir karena sampah tidak akan habis.

Oleh karena itu jika menemuinya sekilas di TPA Rawa Kucing tidak akan ditemukan rangkaian mesin apapun yang sedang beroperasi mengolah sampah plastik jadi bensin. Di sana Hamidi hanya berkenan menjalankan riset daur ulang sampah sayur jadi BBM.

Hamidi menjelaskan alasan temuannya layak diapresiasi lebih serius oleh pemkot karena bahan bakar yang dia hasilkan sudah bening dan nyaris layak dipakai pada kendaraan. Bensin daur ulang dari sampah plastiknya hanya perlu dipoles sejengkal lagi tetapi dia sengaja menahan diri.

“Saya lihat banyak orang lakukan percobaan serupa tetapi hasilnya belum memuaskan,” ucapnya. Tidak memuaskan yang dimaksud  ialah hasilnya biasanya masih minyak mentah yang ketika didiamkan kembali beku, kalaupun jadi bensin tetapi masih keruh.

Jika demikian mengapa tidak kembangkan sendiri saja? Pertanyaan ini mungkin mengambang di benak orang dan sayapun demikian. Hamidi mengaku ingin mengembangkan semua percobaannya secara mandiri sampai bisa dimanfaatkan masyarakat secara massal.

Namun ada punya pertimbangan lain. “Regulasi kita memberatkan. Dan lagi kalau terus saya kembangkan ini, secara pribadi bisa berdampak buruk ke saya. Mungkin saya akan banyak dapat ancaman”.

Ada kepentingan bisnis lebih besar yang kemungkinan menjegal. Sebut saja, sikap kontra dari para pengusaha stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Bisa-bisa mereka mencak-mencak karena bensin buatan Hamidi dipastikan lebih murah ketimbang premium dan solar.

Apabila temuan Hamidi disosialisasi masif tentu bakal mengedukasi masyarakat lebih baik. Mereka mungkin jadi lebih cinta kepada sampah. Ya betapa tidak, rongsokan yang sekilas tak berguna itu ternyata bernilai tambah tinggi.

Pada akhirnya bisa memberi solusi domino. Masyarakat lebih peduli terhadap sampah dengan mengumpulkan dan memilahnya. Pengelolaan sampah kota lebih efisien. Masyarakat bisa mendapatkan bensin lebih murah dan pemkot dapat tambahan pendapatan.

Seluruh komponen dari proses pengolahan plastik jadi BBM pun tidak ada yang sia-sia. Sisa air dari bensin yang dihasilkan bisa jadi pestisida dan ampas plastik diubah menjadi briket. “Ini juga bisa jadi usaha kreatif masyarakat cuma bermodal rajin ngumpulin sampah,” ucap Hamidi.

Itu baru dari aneka plastik belum lagi sampah sayur dan bebuahan. Hasil akhirnya berupa etanol dapat dipakai untuk mendongkrak kualitas kimiawi BBM temuan Hamidi.

Terpisah dari percobaan si profesor, pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian ESDM dikabarkan akan menghibahkan mesin khusus pendaur ulang sampah menjadi bahan bakar minyak. Kemungkinan harus menunggu lebih dari setahun lagi sampai alat buatan India ini datang ke Rawa Kucing.

Hamidi mengaku tidak terintimidasi. Sistem kerja alat ini tampaknya berbeda dengan mesin buatannya, entah mana yang lebih baik. Yang pasti, hasil akhirnya pun kemungkinan besar perlu diproses lebih lanjut.  Padahal untuk taraf yang sama alat pirolisis si profesor bekerja lebih simpel dan murah.

“Kalau alat itu datang, katanya akan dijadikan operator, sekadar operator. Mana penghargaan dari pemerintah kepada anak kreatif negeri sendiri?” kata pria berusia 36 tahun itu.

Kini Hamidi tetap menjali tugas hariannya di laboratorium mini di Rawa Kucing. Dia tetap menahan diri untuk mempublikasikan kepada pemkot. Profesor terus menyimpan kabar dirinya sudah dapat jawaban agar si bensin bisa dioperasikan normal di kendaraan untuk diri sendiri.

Semoga Pemerintah Kota Tangerang bukan tukang tebar pesona yang suka beri harapan palsu. Pemerintah diharap menyisihkan bperhatian lebih serius, “Mau dibawa ke mana sih arah pengembangan temuan ini oleh mereka?” celoteh profesor.

Keluarga dalam Ekonomi

EKONOMI tak jauh berbeda dengan rumah tangga sebuah keluarga. Di dalam keluarga terdiri dari sejumlah orang dengan pemikiran, kebutuhan, keinginan, dan harapan yang berbeda. Melalui rumah tanggalah, keluarga idealnya bersatu padu berusaha mencapai kemakmuran bersama.

Dalam berbagai literatur disampaikan bahwa ekonomi merupakan ilmu yang mempelajari masyarakat dalam usahanya mencapai kemakmuran alias welfare. Manakala suatu rumah tangga bisa mencapai kemakmuran indikatornya kebutuhan mereka atas barang maupun jasa dapat terpenuhi.

Setiap orang dalam rumah tangga punya kepercayaan berbeda. Orientasi di antara mereka juga mungkin tidak sama satu sama lain. Belum lagi lingkungan, di luar rumah tangga keluarga, yang dimiliki berbeda. Walhasil sasaran yang ingin masing-masing capai juga tidak sama.

Misalnya, A dan B merupakan kakak beradik di dalam rumah tangga keluarga XYZ. Latar belakang pola asuh, meski satu ibu dan bapak, serta kondisi lingkungan tempat keduanya tumbuh berbeda. Walhasil saat dewasa karakter mereka tidak sama.

Perbedaan tersebut menghasilkan kebutuhan, keinginan, serta sasaran yang berbeda. Si A sewaktu bersekolah SMA bergabung dengan ekstrakulikuler Rohani Islam (Rohis) dan jatuh cinta dengan segala aktivitas di dalamnya.

Seiring waktu keislamannya terus dipupuk hingga menyentuh nilai-nilai kehidupan si A. Dia meyakini hidup hanya sekali dan harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memupuk amalan-amalan baik. Manakala mendapatkan warisan tanah sepeninggal kedua orang tua, A memutuskan menyumbangkan separuhnya sebagai wakaf untuk mushola.

Namun keputusan berbeda ditempuh oleh B, kakaknya. Sesama perempuan tetapi lingkungan yang membentuk tumbuh kembangnya berbeda dengan A. B beragama sama dengan A tetapi bisa dibilang tidak sereligius A.

Kendatipun B setuju bahwa beramal dan berbuat baik terhadap sesama penting, tetapi tidak salah pula memenuhi keinginan pribadi. Orientasinya lebih kepada memiliki hidup yang secure secara financial dalam jangka panjang. Walhasil dia memilih menjual sebagian tanahnya untuk membeli logam mulia.

Antarkeluarga tidak ada yang pola konsumsinya persis sama. Ada banyak variasi perilaku dan kenyataan hidup. Upaya mencapai kemakmuran yang versinya berbeda-beda inilah yang dikaji melalui ilmu ekonomi.

Rumah tangga yang dikaji bukan hanya rumah tangga yang terjalin berdasarkan ikatan keluarga. Ada pula rumah tangga dari dua atau lebih orang yang kerjanya memasarkan barang dan jasa. Ini disebut rumah tangga perusahaan. Masing-masing dari mereka berkolaborasi untuk mendapatkan laba.

Perbedaan dengan rumah tangga keluarga adalah pada rumah tangga perusahaan ada proses produksi suatu produk. Tidak hanya berbentuk barang tetapi juga jasa maupun sesuatu yang lain. Proses ini mencakup masukan/input, transformasi/perubahan, keluaran/output.

Antara individu secara langsung maupun melalui rumah tangga keluarga dan rumah tangga perusahaan memiliki keterkaitan. Bisa dibilang dunia usaha hadir tidak bisa lepas dari adanya hubungan yang saling menentukan dan membutuhkan di antara keduanya; si produsen dan konsumen.

Rumah tangga yang meliputi dunia usaha tidak hanya berbentuk perusahaan tetapi bisa berwujud lain. Sebut saja badan usaha, dunia usaha, industri, dan bisnis eceran. Aktivitas usaha yang dijalankan masing-masing ini tidak serupa.

Badan usaha, misalnya, suatu badan yang menggunakan faktor-faktor produksi untuk bisa memperoleh laba. Perusahaan adalah organisasi produksi yang menggunakan dan mengkoordinir sumber-sumber ekonomi untuk memuaskan kebutuhan dengan cara menguntungkan.

Beda lagi dengan dunia usaha, ini bisa dimaknai sebagai suatu lingkup yang di dalamnya ada kegiatan produksi, distribusi, dan upaya lain. Usaha-usaha ini mengarah kepada pemuasan keinginan dan kebutuhan manusia secara maksimal.

Sementara industri merupakan sekelompok perusahaan. Mereka menghasilkan produk yang sama untuk pasar yang sama. Adapun bisnis eceran adalah usaha yang berkegiatan terkait denngan penjualan barang atau jasa kepada konsumen tanpa mengubah bentuknya.

Di dalam ekonomi, individu/keluarga dan dunia usaha saling menarik. Yang satu punya kebutuhan sedangkan yang lain berusaha memproduksi berbagai hal dan barang yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Keduanya seperti gula dan semut.

CHINA BENTENG: Sebutlah Ini Budaya Asli Tangerang #3 (Selesai)

TIDAK semua daerah di Indonesia tampil ke muka publik sarat akan budaya asli nan khas, sebut saja Kota Tangerang.

Bagian 1 klik di sini

Bagian 2 klik di sini

Lingkungan depan Kelenteng Boen Tek Bio, Kota Tangerang. [ dok. pribadi]
Lingkungan depan Kelenteng Boen Tek Bio, Kota Tangerang. [ dok. pribadi]
Mungkin bagi sebagian orang, atau bahkan bagi warga Tangerang sendiri, tidak ada yang spesial dari kota satelit DKI Jakarta ini. Tidak ada kebudayaan khas seperti di Aceh, Minang, atau daerah lain. Tidak pula punya kuliner tersohor seperti Bakpia Jogja. Isinyapun tak jauh dari pabrik dan mal.

Pandangan semacam itu perlu diluruskan karena ternyata kota seluas 184,24 kilometer persegi ini punya degupnya sendiri. “Bisa dibilang China Benteng inilah budaya aslinya Kota Tangerang,” tutur Oey Tjin Eng, generasi kedelapan peranakan Tionghoa di Tangerang.

Saya menemuinya pada Jumat (19/6/2015) siang di Kelenteng Boen Tek Bio, Kota Tangerang. Pria bermata sipit dengan kulit sawo matang itu juga aktif di dalam kepengurusan kelenteng ini. Tjin Eng, demikian dirinya akrab disapa, membidani bagian hubungan masyarakat (humas).

Mungkin banyak yang pernah membuat ulasan tentang China Benten alias peranakan Tionghoa di Tangerang. Secara umum komunitas masyarakat ini dinilai memberikan warna tersendiri bagi sisi historis dan kultur Kota Tangerang.

Laman daring resmi Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang menyebutkan wilayah ini punya sejumlah aspek budaya, seperti Tarian Lenggang Cisadane, Gambang Kromong, Lenong dan Barongsai.

Namun di dalam tangerangkota.go.id tidak ada penjelasan khusus tentang komunitas China Benteng. Meski demikian, dalam penuturan soal Gambang dan Barongsai disebutkan keduanya berangkat dari akulturasi antara Tionghoa dan budaya setempat.

“[China Benteng] saat ini adalah hasil pengaruh budaya Tionghoa, Betawi, Sunda, dan Makassar,” ujar Tjin Eng.

Sebagai contoh Gambang Kromong, orkes ini memadukan gamelan dan alat-alat musik Tionghoa, seperti sukong, tehyan, dan kongahyan. Namanya diambil dari dua alat perkusi, yakni gambang dan kromong.

Pemkot mencatat awal mula orkes tersebut muncul erat terkait dengan sosok pemimpin komunitas Tionghoa bernama Nie Hoe Kong. Dia diangkat Belanda pada masa jabatan 1736 sampai dengan 1740.

Hoe Kong mengkombinasikan 18 bilah gambang dari kayu suangking, huru batu, manggarawan atau kayu jenis lain yang empuk bunyinya saat dipukul. Kromong sendiri lazimnya dibuat dari perunggu atau besi sebanyak sepuluh pencon.

Nada dalam gambang kromong adalah tangga nada pentatonik China. Ini kerap disebut salendro China atau salendro mandalungan. Instrumennya terdiri dari gambang, kromong, gong, gendang, suling, kecrek, sukong, dan tehyan atau kongahyan sebagai pembawa melodi.

Sementara Barongsai diakui sebagai salah satu kesenian khas Tangerang. Barongsai yang ada di kota ini terdiri dari jenis Kilin, Peking Say, Lang Say, Samujie. Secara umum kesenian ini menampilkan Singa Batu model dari Cieh Say.

Ada dua aliran yang dianut dalam kesenian tersebut, yaitu Aliran Utara dan Selatan. Hal ini merujuk kepada sisi Utara Sungai Yang Zi, si Barongsai berbentuk garang, berbadan tegap, dan mulutnya persegi.

Aliran selatan terdapat di sisi selatan Sungai Yang Zi. Wujudnya lebih bervariasi dan luwes tetapi kurang gagah. Aliran Selatanlah yang biasanya ada di Indonesia terutama Tangerang. Bukan mengacu kepada wujud singa melainkan Anjing Say yang pernah dipelihara kaisar dan dianggap suci.

Kini dan Dulu

Berdasarkan Instruksi Presiden No. 13/1976, Jabotabek termasuk Tangerang merupakan wilayah pengembangan yang siapkan untuk mengurangi ledakan penduduk di ibu kota.

Daerah penunjang DKI ini juga diharapkan bisa mendorong kegiatan perdagangan dan industri, mengembangkan pusat pemukiman, dan mengusahakan keserasian pembangunan antara DKI Jakarta dengan daerah yang berbatasan langsung.

Hal tersebut tertera dalam ringkasan sejarah Kota Tangerang. Hasilnya sekarang kota ini dihuni sekitar 1,7 juta jiwa. Padahal sensus pada 1990 mencatat penduduk baru berjumlah 921.848 jiwa.

Pabrik, perkantoran, gedung-gedung ritel, mal, perumahan, ini yang menghiasi Tangerang masa kini. Padahal bangunan tersohor yang ada di Tangerang tempo dulu hanya benteng. Dulunya kota ini memang dikelilingi benteng, karenanya peranakan Tionghoa di sini disebut China Benteng.

Pada era 1683, Pemerintah Kolonial Belanda membangun benteng di pinggiran Sungai Cisadane. Tujuannya tentu untuk mempertahankan diri terhadap serangan Kesultanan Banten. Tidak ada sumber resmi yang bisa memastikan seberapa panjang benteng ini terbentang.

Tjin Eng menyebutkan bangunan pertahanan itu ada dari titik yang sekarang menjadi Masjid Agung Al-Ijtihad sampai ke daerah belakang Mal Robinson, Kota Tangerang. Benteng yang berdiri di Tangerang termasuk salah satu pertahanan terdepan Belanda di Jawa.

Datang Menetap

“Pada 1407 terdampar serombongan perahu di Teluk Naga di bawah pimpinan Tjen Tjie Lung atau Halung, di dalamnya ada sembilan orang gadis,” ujar pria kelahiran Tangerang 71 tahun silam itu. Mereka mendarat di muara Sungai Cisadane yang kini dikenal sebagai Teluk Naga.

Pada era 1683 kawasan yang sekarang disebut Tangerang berada di bawah pimpinan Sanghyang Anggalarang, wakil dari Sanghyang Banyak Citra dari Kerajaan Parahyangan.

Melihat sembilan orang perempuan Tionghoa berparas cantik di perahu yang baru mendarat di muara Sungai Cisadane, hatinya tertarik. Mereka “dibeli” dengan kompensasi sebidang tanah.

Tinggal para lelaki, mereka selanjutnya hidup dan menetap di kawasan Teluk Naga lantas menikah dengan orang pribumi. Seiring waktu terbangunlah komunitas peranakan Tionghoa di sebuah desa yang selanjutnya dinamai Tanggeran.

“Kenapa disebut China Benteng? Karena orang-orang di sini tinggalnya dekat benteng. Dulu disebutnya Benteng Makassar karena saat pembangunan banyak dikerjakan orang dari Makassar,” tutur Tjin Eng.

Pada 1740 dipimpin Gubernur Jenderal Andriaan Valckenier terjadi pembantaian massal terhadap etnis Tionghoa yang ada di benteng (kini Tangerang) hingga lebih dari 10.000 orang tewas.

Warga Tionghoa itu sebelumnya berusaha mengemukakan ketidakpuasan mereka terhadap berbagai peraturan VOC (Veneenigde Oostindiche Compagnie). Peranakan Tionghoa yang berhasil menyelamatkan diri lantas mencari wilayah lain untuk bermukim, seperti di Teluk Naga.

Usai pembantaian pada 1740, pada tahun-tahun setelahnya pemerintah Belanda menyebarkan warga Tionghoa peranakan ke titik lain untuk bertani, sekarang di kenal sebagai Pondok Cabe, Pondok Jagung, dan Pondok Aren.

“[Awalnya] dari pembantaian 10.000 orang warga Tionghoa itulah sekarang ada Pondok Aren, Pondok Pinang, Pondok Cabe dan Kali Pasir,” kata Tjin Eng.

Usai pemberontakan itu teredam, Belanda lantas membangun perkampungan Tionghoa. Lokasinya ada di Tegal Pasir atau Kali Pasir bernama Petak Sembilan. Sekarang daerah ini menjelma menjadi kawasan Pasar Lama dan berkembang menjadi pusat perdagangan dan wilayah tak terpisahkan dari Kota Tangerang.

Selepas kemerdekaan, peranakan Tionghoa kembali sempat mengalami masa krisis sosial. Mereka kontra dengan warga pribumi tersentil aksi seorang tentara NICA etnis Tionghoa mengganti Merah Putih dengan bendera Belanda. Hasilnya pada pertengahan 1946 rumah warga China Benteng diporak-porandakan.

Rumah mereka dijarah hingga furnitur meja abu tempat ritual sembahyang turut dirampas. Lantas ada kelompok pemuda peranakan Tionghoa Tangerangyang pro kepada NICA mengungsikan warga China Benteng ke Batavia yang sekarang jadi Jakarta.

Setelah konflik tersebut teredam, komunitas China Benteng kembali ke tanahnya dan mereka kehilangan harta benda. Rumah tidak lagi dalam keadaan utuh bahkan hancur rata dengan tanah, isinya pun entah dijarah kemana. Klaim atas tanah pun jadi dikuasai para pribumi.

Proses panjang untuk bertahan hidup di Tangerang sampailah ke era modern seperti sekarang. Suasana khas pecinan masih terasa khususnya di kawasan Pasar Lama, komplek Poris, Selapajang, dan Teluk Naga.

Di Balik Lelucon Plastik Herbal

KOTA Tangerang bisa menghemat uang miliaran rupiah dari struktur anggaran belanja tahunannya asalkan seluruh warga yang bermukim diwajibkan menggunakan plastik herbal.

Judulnya saja herbal maka orientasinya kepada sesuatu yang alami alias berasal dari alam. Plastik yang dimaksud adalah kantong pembungkus serba guna berbahan dasar tetumbuhan.

“Bungkus makanan semua diganti pakai daun pisang. Jadinya nanti bukan sampah, semua jadi kompos,” kata Kepala Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Rawa Kucing Masan.

Plastik herbal hanya sekilas lelucon dalam obrolan dengan pria yang kerap berkecimpung dalam penghijauan Kota Tangerang itu. Perbicangan kami berkisar soal solusi pengolahan sampah yang volumenya tak pernah surut, malah sebaliknya.

Mengoperasikan TPA yang mampu menampung, mengolah, dan mengelola sampah secara terpadu bukan perkara mudah dan murah. Sulit memang bukan berarti mustahil. Tapi soal “mahal” pun tak seketika teratasi dengan pengajuan proposal permintaan tambahan dana.

Namun Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang tidak perlu khawatir. Mereka bahkan tidak perlu memusingkan perkara mahal itu. Dengan kehadiran plastik herbal, anggaran pengoperasian TPA Rawa Kucing sekitar Rp6,4 miliar per tahun tak butuh tambahan.

“Wali kota sediakan saja sekian ribu hektar untuk seluruhnya ditanami pohon pisang batu, lalu semua bungkus diganti pakai daun pisang,” ujar Masan sembari tertawa.

Dengan luas wilayah 184,24 kilometer persegi, Kota Tangerang menampung sekitar 1,7 juta jiwa. Sampah yang mereka hasilkan sedikitnya 4.964 meter kubik atau 1.241 ton. Sampah yang bisa terangkut ke TPA sehari-hari hanya 75% sekitar 3.723 meter kubik setara 1.000 ton.

Angka tersebut naik lebih dari seratus persen dibandingkan dengan lima tahun silam yang jumlahnya masih berkisar 500 ton. Dan jangan kaget kalau lima atau sepuluh tahun mendatang volumenya menyentuh 2.000 ton.

Perkiraan itu sukar terbantah jika melihat perkembangan ekonomi dan kependudukan di Kota Benteng. Posisinya yang strategis sebagai penyangga ibukota bikin Tangerang jadi sasaran investasi baik properti, jasa, industri, dan lain-lain.

“Tidak pernah ada grafik volume sampah turun. Semakin bertambah jumlah penduduk, sampah juga bertambah,” ucap Masan.

Di tengah keterbatasan dana dan kerepotan mengurus ribuan ton sampah, Rawa Kucing tetap bersolek. TPA seluas 34 hektare (ha) ini tak lagi kumuh. Masan mendandaninya jadi tempat pengelolaan sampah terintegrasi dengan taman edukasi berbasis lingkungan hidup.

Simsalabim! Memasuki gerbang Rawa Kucing sekarang tidak lagi gersang dan bau. Pepohonan rindang, kicau burung, serta hijaunya taman pembibitan pohon pelindung dan tanaman hias jadi menu utama yang tertangkap retina.

Pengembangan TPA Rawa Kucing tersebut dilakoni Masan dan timnya tanpa kucuran dana tambahan dari pemkot. Modalnya cuma rajin, yakni rajin memunguti benda-benda dan tanaman bekas fasilitas kota.

Tak sedikit jenis tanaman dan pohon yang dibudidayakan berasal dari pinggir jalan. Pepohon dan tanaman layu tak terurus diselamatkan. Balok-balok conblock bekas dipakai melapisi ruas jalan dicomot. Conblock ini sekarang jadi jalan setapak di area taman TPA.

Rasanya tidak mungkin penghijauan di sana bisa seperti sekarang kalau cuma menunggu kucuran uang pemerintah. Mengambil rupiah anggaran operasi yang adapun tak mungkin. Dana Rp6,4 miliar habis dipakai menggaji 83 PNS dan membeli ratusan bahkan ribuan liter solar dalam setahun.

Bagi Masan, ketimbang buang waktu mengeluhkan anggaran yang minim lebih baik bergerak dan melakukan apa yang bisa digarap, seperti mengumpulkan bambu dan conblock bekas. “Mau minta [tambahan dana], mintanya pun capek,” tuturnya.

Wali Kota Tangerang Arief R. Wismansyah membenarkan pihaknya ingin memposisikan Rawa Kucing bukan sekadar tempat pembuangan melainkan taman pemrosesan sampah. Tapi diapun mengakui tidak ada anggaran khusus yang disediakan untuk program penghijauan di sana.

Pemkot justru berharap ada investor swasta yang bersedia menanamkan kapital untuk menyokong pembiayaan. “Rawa Kucing harus secepatnya menjadi TPA yang berbasis taman edukasi. Kami juga terus bersinergi dengan pihak luar yang berniat meringankan,” tuturnya kepada Bisnis.

Dari sekitar 34 ha total lahan TPA Rawa Kucing yang kini berstatus aktif 10 ha. Luas ini diharapkan tidak bertambah. Untuk menemani tumpukan sampah, ruang terbuka hijau berisi taman edukasi lingkungan hidup bakal dibangun seluas 3 ha yang dirintis sejak akhir 2014.

Sejauh ini belum tuntas pengembangan ruang terbuka hijau di Rawa Kucing. Tapi kini dapat dilihat sejumlah fasilitas beroperasi, seperti taman bonsai, pengomposan sampah sayur berbekal ampas kopi, green house pusat pembibitan tanaman, lapangan bola, bahkan perkebunan eucalyptus.

Penampilan Rawa Kucing sekarang bukan berarti sudah cantik. Tetap saja ada keruwetan yang rutin terjadi, semisal antrean truk yang hendak menyetor sampah mengular ke luar gerbang. Tapi Masan tak pernah kaget lagi menyaksikan hal ini.

Antrean tersebut agaknya mustahil diberantas selama jalan raya menuju TPA tak diperlebar dan permukaannya yang berantakan tidak diperhalus. Apalagi dari gerbang menuju kantong-kantong penampungan sampah hanya ada satu jalur.

Antrean tambah parah manakala ada truk yang bannya terperosok ke dalam gunungan sampah. Rutinitas ini kerap terjadi lantaran beton sepanjang 3 meter pelapis permukaan sampah, untuk pijakan roda truk, kuantitasnya minim.

Misalnya, dari kebutuhan 100 meter jalan, setara 500 balok beton, yang terakomodir paling cuma 70 meter. Ingin beli sendiri tetapi dompet tiris. Untuk kebutuhan 500 balok butuh lebih dari Rp1 miliar dengan asumsi per balok Rp2,4 juta.

Beginilah repotnya kalau semua perkara merujuk kepada UUD, ujung-ujungnya duit. Hmm, kalau demikian tampaknya Rawa Kucing harus belajar pula mengkompos daun pisang jadi plastik herbal.

CHINA BENTENG: Restorasi Bukan Renovasi #2

PADA akhirnya kita hanya akan melestarikan apa yang kita cintai, mencintai apa yang kita mengerti, dan mengerti hanya apa yang diajarkan. (bagian #1 klik di sini)

Kalimat itu tertera di halaman belakang brosur Museum Benteng Heritage, saya membacanya saat beranjak pergi dari kawasan Pasar Lama usai mengunjungi museum dan klenteng di dekatnya. Ya, museum ini hanya sepenggal bagian tentang upaya melestarikan rekam jejak peranakan Tionghoa di Tangerang.

Usai mengunjungi museum tersebut, saya sadar warga Tionghoa tak bisa dipisahkan dari sejarah kota ini. Mereka hadir, menetap, hidup, tumbuh, dan meneruskan keturunannya di sini. Mereka ada sejak Tangerang dipenuhi benteng pada jaman kolonial Belanda. Merekalah China Benteng.

“Disebut China Benteng karena dulunya Tangerang jadi benteng pada jaman Belanda. Tidak ada info pasti benteng ini mencakup wilayah mana saja di Tangerang,terakhir ditemukan sisa benteng di daerah Batuceper,” ujar Satyadhi Hendra.

Saya banyak berbincang dengan pria keturunan Tionghoa berusia 38 tahun itu. Sejujurnya saya tak mendapatkan sebutan yang pas untuknya. Tapi anggaplah Hendra, demikian dia disapa, salah satu pengelola museum dan orang yang dipercaya Udaya Halim si pemilik museum.

Tapak pertama yang saya pijak saat menyusuri  jejak China Benteng ada di Jalan Cilame No. 18 – 20, Pasar Lama, Tangerang. Museum kelolaan Yayasan Benteng Heritage inilah yang berusaha mempatenkan China Benteng sebagai mutiaranya Tangerang, the pearl of Tangerang.

“Dari proses restorasi sampai sekarang seperti bola salju, museum ini seperti dapat pengakuan bahwa di sini bisa jadi sumber cerita tentang masyarakat peranakan di Tangerang. Sumber cerita, bukan sumber sejarah,” ujar Hendra.

Radius sekitar hingga 300 meter di sekitar museum kental suasana pecinan. Bangunan, demografi penduduk, dan suasana khas kampung China. Bukan cuma klenteng Boen Tek Bio dan Vihara Padumuttara, ada juga Masjid Kalipasir bergaya Tionghoa yang tuanya tak kalah dengan bangunan museum.

Hendra, pria berkulit putih, tubuh sintal dan berkaca mata, menemani saya berbincang di ruang depan museum sebelum tiba giliran untuk tur ke dalam. Kami duduk di atas bangku kayu di depan loket yang menjual tiket senilai Rp20.000 per orang.

Mungkin saya adalah tamu kesekian ratus yang ditemuinya selama mengurus Museum Benteng sejak 2011. Hendra sangat mengusai topik pembicaraan soal museum dan sekilas tentang China Benteng. Dia mulai menjelaskan dari apa yang tampak di ruang utama ini.

Di sisi bagian kiri, jika dari arah saya masuk, ada naga barongsai berdiri tenang. Naga Nusantara namanya, kata Hendra. Sebutan nusantara menyiratkan begitu dalam percampuran budaya Indonesia dengan Tionghoa di Tangerang.

“Lihat saja naganya pakai batik. Naga ini bernuansa naga barong Bali, garuda wisnu kencana, ditambah sentuhan Tionghoa. Ini adalah Naga Nusantara pertama,” ucapnya.

Pada sisi berlawanan dari naga di antaranya terpajang beberapa lukisan suasana sekitar museum dan Pasar Lama tempo dulu, diadopsi dari foto ukuran dompet. Adapula piala dipajang berjejer baik dari dalam negeri maupun penghargaan level internasional.

Seluruh bangunan Museum Benteng dibeli Udaya Halim untuk direstorasi bukan renovasi. Sama sekali tidak ada perubahan konstruksi, posisi, maupun bahan bangunan. Bahkan ada pahatan keramik di dinding langit-langit luar dan dalam di lantai dua tetap tersaji seperti sedia kala tanpa diubah sedikitpun.

Proses restorasi bangunan yang diperkirakan dibangun pada abad ke-17 itu bermula pada 2009. Seluruh bagian bangunan tua ini tidak memiliki struktur besi. Batu bata kuno yang ada dirawat tanpa diubah agar museum ini dapat dicatat sebagai cagar budaya, sehingga tak bisa diperjualbelikan.

Museum Benteng sepertinya dahulu bukanlah rumah. Pasalnya bangunan ini tidak memiliki kamar tidur dan ruangan dapur. Diperkirakan bangunan artistik ini pada mulanya dipakai sebagai kantor sebuah organisasi.

Setelah direstorasi selama dua tahun tepat pada 11 November 2011 pukul 20.11 WIB, cagar budaya ini diresmikan sebagai museum. Pemilihan jam peresmian memang sengat pada malam hari, ujar Hendra.

“Karena kalau dilakukan pagi bisa berantem sama orang pasar dulu, mereka  bisa bawakan kami semua golok,” katanya sembari tertawa menunjuk pasar di sekitar bangunan museum.

Untuk barang-barang yang menjadi koleksi saat ini semuanya merupakan milik pribadi Udaya Halim yang dikelola Yayasan Benteng Heritage. Tapi sayang, pada Sabtu sore itu saya tak sempat menghampiri dan berbincang langsung dengannya lantaran dia sedang sibuk berbincang dengan tamunya.

Museum Benteng Heritage, imbuh Hendra, enggan menjadi bangunan statis. Setiap tahun setidaknya ada informasi mengenai sejarah bangunan ini maupun budaya China Benteng di sekitar ditambahkan. Ini agar dapat disebut  sebagai museum pintar.

Halaman pertama pada brosur museum tersebut seolah bersahutan dengan kalimat pujangga yang saya temuka di halaman paling belakang. Restorasi bangunan ini bertolak dari kesadaran pentingnya melestarikan peninggalan sejarah, agar kita tidak mengalami amnesia sejarah.

DSC_0625

CHINA BENTENG: Museum itu Pita dalam Temali Kusut #1

PASAR Lama termasuk salah satu kawasan yang mungkin paling familiar bagi warga Kota Tangerang, selain Cikokol.

Sesuai namanya, mayoritas daerah Pasar Lama memang berupa pasar. Entah itu dengan konsep tradisional, ritel modern, pertokoan, hingga pusat kuliner pada malam hari. Gampangnya, sebut saja ini daerah pusat perdagangan. Sejak pagi sampai malam transaksi jual beli agaknya tak berhenti.

Rupanya tidak semua sudut di sana bernuansa bisnis. Saya coba merangsek masuk ke dalam pasar tradisional tak jauh dari Masjid Al-Ijtihad. Nama jalannya Cilame, jangan dikira ini terkenal. Beberapa masyarakat yang saya temui dalam perjalanan tidak tahu bahkan salah memberi arah.

Saya berjalan kaki sekitar 50 meter memasuki mulut gang menuju satu tempat. Sebetulnya ragu apa betul ini jalan yang benar. Di depan gang sama sekali tak ada papan informasi atau sekadar spanduk yang menginformasikan keberadaan lokasi yang saya tuju.

Berdasarkan informasi di laman daring dan hasil tanya tukang parkir, ini memang jalan menuju Museum Benteng Heritage. Setelah menyusuri jalanan becek berbau apak campuran sampah sayuran, lumpur, dan daging busuk  akhirnya saya tiba di depan bangunan ini sekitar pukul 16.30 pada Sabtu (4/4/2015).

Saya berhenti beberapa detik sebelum memasuki pagar besi bercat hitam selebar 1,5 meter. Garis bibir melebar. Menatap museum tersebut seperti melihat sehelai pita di dalam tumpukan tali-temali kusut yang didominasi rafia dan sumbu kompor bekas, batin saya.

DSC_0622
[Museum Benteng Heritage, Kota Tangerang / dok. pribadi]

Museum dua lantai itu dicat putih pada dindting dan hitam untuk berbagai kusen dan titik-titik penyangga bangunan. Seluruh jajaran pagar pun dicat hitam. Tak banyak hal spesial dari penataan taman di halaman cagar budaya ini. Cuma ada beberapa batang tanaman setinggi 1- 1,5 meter tertanam di dalam pot.

Rasa ingin tahu terhadap isi bangunan berusia sekitar 300 tahun ini melambung saat melihat ornamen dinding depan dan pintu utama. Ada tirai merah membalut daun pintu hitam, sepasang patung kirin laki-laki dan perempuan bak penjaga yang selalu beri hormat kepada semua tamu.

Pintu kayu tersebut diapit jendela kayu dengan warna cat sama, ada teralis warna coklat muda di tengah-tengahnya. Saat kepala mendongak, terpampang tiga lampion menggantung tenang. Warnanya lagi-lagi merah tetapi satu yang di tengah berwarna coklat.

Keramik hitam berukuran sekitar 1 x 0,5 meter tertanam pada dinding putih, tepat di samping jendela kanan. Di sana tertera informasi bangunan ini disahkan sebagai museum pada 11 November 2011 (11.11.2011) pukul 20.11 WIB oleh Harimurti Kridalaksana, Ping Supandi, dan Udaya Halim si pemilik cagar budaya ini.

“Hou de zai wu,”  tulisan di samping daun pintu ini menahan bola mata sejenak. Tindakan yang penuh kebajikan membuahkan kebaikan, demikian artinya.

Suasana yang saya dapati sebelum melintasi pintu utama sangat khas China tetapi bukan hanya itu. Betul ini museum tentang kebudayaan Tionghoa di Tangerang, tetapi saya tak merasa ini terlalu a la Tiongkok. Ya, inilah hasil peranakan Tionghoa Tangerang, inilah China Benteng.

Wow, Mobil Murah Topang 70% Penjualan City Car

Sumbangsih LCGC terhadap wholesales city car pada Oktober 2013 mencapai 70,01% setara 11.592 unit dari 16.557 unit.[http://www.blogcdn.com/]
Sumbangsih LCGC terhadap wholesales city car pada Oktober 2013 mencapai 70,01% setara 11.592 unit dari 16.557 unit.[http://www.blogcdn.com/]

SELAMA dua bulan terakhir, penjualan dari pabrik ke diler (wholesales) kendaraan perkotaan (city car) meroket tajam. Varian mobil murah ramah lingkungan (LCGC) di segmen tersebut mendongkrak wholesales mencapai 16.557 unit pada bulan lalu, setara separuhnya penjualan low MPV.

 

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat peningkatkan wholesales sekitar 18,62% pada Oktober terhadap September 13.958 unit. Ini adalah pencapaian sales tertinggi untuk segmen city carsepanjang tahun.

Sejak mengaspal pada bulan ke-9, kontribusi LCGC terhadap keseluruhan penjualan city car terus tumbuh. Dari total penjualan 13.958 unit pada September, mobil murah menyumbang 60,90% setara 8.500 unit dari Astra-Toyota Agya 4.123 unit dan Astra-Daihatsu Ayla 4.377 unit.

Sumbangsihnya membesar pada Oktober menjadi 70,01% atau 11.592 unit dari wholesales city car 16.557 unit. Pasalnya, ada tambahan produk LCGC Honda Brio Satya yang mencetak penjualan 1.320 unit, Toyota Agya 5.343 unit, dan Daihatsu Ayla 4.929 unit.

Direktur Pemasaran dan Purnajual PT Honda Prospect Motor (HPM) Jonfis Fandy mengatakan Oktober adalah periode penjualan perdana Brio Satya. Bisa dikatakan, volumenya belumlah stabil dan berpotensi terus meningkat pada bulan-bulan selanjutnya.

“Mudah-mudahan penjualan kami akan terus tumbuh. Kami berharap peningkatan penjualan terjadi secara bertahap,” tuturnya.

HPM memperkirakan kestabilan penjualan mobil murahnya berlangsung mulai awal 2014. Selama November – Desember 2013 penjualan bakal lebih beratketimbang Oktober terpengaruh akan naiknya bunga cicilan kendaraan serta rupiah yang terus terdepresiasi terhadap dolar AS.

Agen tunggal pemegang merek (ATPM) Honda itu mengumpulkan wholesales7.629 unit selama Oktober. Artinya, mobil murah Brio Satya berkontribusi 17,30% terhadap keseluruhan penjualan.

“Kami sebetulnya belum tahu [kapan penjualan LCGC Honda] akan stabil. Tapi mudah-mudahan tahun depan sudah mulai. Kami targetkan penjualannya sekitar 3.000 unit per bulan,” ujar Jonfis.

Menurut Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Rahmat Samulo, peningkatan penjualan Agya merupakan hal wajar. Pasalnya, penjualan selama September baru mulai efektif di pertengahan bulan sedangkan Oktober berlangsung sejak awal.

“[Penjualan] untuk Agya tinggi karena kami masih kejar untuk memenuhi antrean pesanan sejak tahun lalu. Kalau permintaannya per bulan itu stabil di 4.000-an unit,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Pemasaran Domestik PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Rio Sanggau memproyeksikan penyerapan Ayla hingga penghujung tahun bisa menyentuh kisaran 15.000 unit.

“Penjualan di Oktober masih tetap sekitar 4.000-an unit. Karena ini produk yang masih baru jadi produksi masih terbatas dan belum bisa lebih dari kisaran 30.000 unit [jika digabung dengan Toyota Agya],” ujarnya.

Ada 11 model lain yang bertengger di kelas city car selain mobil murah. Kontribusi mereka terhadap penjualan cuma 30% setara 4.965 unit. LCGC membawa tren baru untuk segmen ini. Sebelum mobil murah hadir rerata penjualan 5.000 – 6.000 unit tapi sekarang menembus 10.000 unit.

Penjualan LCGC dari Pabrikan ke Diler (Unit)

———————————————————————————–

Merek                           Sept      Okt                  Pertumbuhan  

Astra-Toyota Agya        4.123                5.343                29,60%

Astra-Daihatsu Ayla       4.377                4.929                12,61%

Honda Brio Satya              –                          1.320                –

City car non-LCGC          5.458                4.965                -9,03%

Total                            13.958              16.557    18,62%            

Sumber: Gaikindo, diolah