Sulit

satu waktu, sudah lama sekali
seseorang berkata dengan wajah sendu
“alangkah beratnya… alangkah banyak rintangan… alangkah berbilang sandungan… alangkah rumitnya.”

aku bertanya, “lalu?”
dia menatapku dalam-dalam, lalu menunduk
“apakah sebaiknya kuhentikan saja ikhtiar ini?”

“hanya karena itu kau menyerah kawan?”
aku bertanya meski tak begitu yakin apakah aku sanggup menghadapi selaksa badai ujian dalam ikhtiar seperti dialaminya
“yah… bagaimana lagi? tidakkah semua hadangan ini pertanda bahwa Alloh tidak meridhoinya?”

aku membersamainya menghela nafas panjang
lalu bertanya, “andai Muhammad, shallallahu ‘alaihi wa sallam berpikir sebagaimana engkau menalar, kan adakah islam di muka bumi?”
“maksudmu akhi?”, ia terbelalak

“ya, andai muhammad berpikir bahwa banyak kesulitan berarti tak diridhoi Alloh, bukankah ia akan berhenti di awal-awal risalah?”

[dokumentasi pribadi]
[dokumentasi pribadi]

ada banyak titik sepertimu saat ini, saat muhammad bisa mempertimbangkan untuk menghentikan ikhtiar
mungkin saat dalam rukuknya ia dijerat di bagian leher
mungkin saat ia sujud lalu kepalanya disiram isi perut unta
mungkin saat ia bangkit dari duduk lalu dahinya disambar batu
mungkin saat ia dikatai gila, penyair, dukun, dan tukang sihir
mungkin saat ia dan keluarga diboikot total di syi’b Abi Thalib
mungkin saat ia saksikan sahabat-sahabatnya disiksa di depan mata
atau saat paman terkasih dan istri tersayang berpulang
atau justru saat dunia ditawarkan padanya: tahta, harta, wanita…”

“jika muhammad berpikir sebagaimana engkau menalar, tidakkah ia punya banyak saat untuk memilih berhenti?”

tapi muhammad tahu, kawan
ridho Alloh tak terletak pada sulit atau mudahnya
berat atau ringannya, bahagaia atau deritanya
senyum atau lukanya, tawa atau tangisnya”

“ridho Alloh terletak pada apakah kita menaatiNya dalam menghadapi semua itu
apakah kita berjalan dengan menjaga perintah dan larangNya
dalam semua keadaan dan ikhtiar yang kita lakukan”

“maka selama di situ engkau berjalan, bersemangatlah kawan…”

[Salim A. Fillah – Dalam Dekapan Ukhuwah]

Spora Kristal*

[on my hands / dok. pribadi]
[on my hands / dok. pribadi]
MEREKA belum juga berhenti. Topik yang sama dibahas berulang kali; substansi maupun isi.

Aku duduk di sana, dalam satu kotak yang terhijab dari perhelatan keduanya; melihat, mendengar, dan merasakan sebatas apa yang bisa kupikirkan.

Kenapa pula aku tetap berdiri di san? menyaksikan betapa konsep tentang kebaikan haruslah mengikuti apa yang terpahami di benak mereka.

Ada banyak wajah yang terlihat di setiap tapak lurus, berkelok, menanjak, menurun, hingga tikungan.

Ada banyak suara yang terdengar di setiap ruang, lubang, terowongan, hingga celah.

Ada banyak aroma yang tercium di setiap tumpukan, sudut, hamparan, hingga kubangan.

Ada banyak nama yang teringat di setiap pertemuan, pembicaraan, kehidupan, hingga masa.

Aku seperti kristal. tak ada yang mulus sempurna. pilihan hanya; tampil sebagai yang retak namun tetap utuh, atau hancur sekalian.

Aku seperti angin. berembus menyelimuti setiap sudut kehidupan; yang tua, yang muda, yang teraniaya, yang menyakiti, yang salah, yang benar.

Beberapa janji terbiarkan tak terpenuhi. Beberapa cerita terlanjur dibiarkan terlupa. Beberapa sosok terlambat untuk ditemui. Beberapa ketakutan teramat sulit diatasi.

Mereka bicara tentang nasihat. mereka berdebat dengan urat. mereka bertutur tentang harapan, usia, kematian.

Ada yang bertanya, ada yang menjawab. aku tak butuh pertanyaan, aku enggan menjawab.

Daun; tertumbuh dari tunas, muda, menua, rontok, mati.

Air; terserap tanah, tersaring, tersimpan, tersedot, habis.

Batu; terlalu keras.

Embun; teruapi matahari, berbulir, lenyap.

Esok; terlihat seperti lainnya.

Jangan disuruh, karena aku sudah lebih dulu melakukannya. memukulkan godam itu tepat di atas ubun-ubun; agar hancur, agar remuk, hilang.

Mereka bicara tentang dunia yang terbentang di antara, mungkin antara kau dan aku, atau antara kita.  satu mewartakan, lainnya menanggapi lirih.

Ujung mataku melirik kepadamu . yang melihatku serupa malu-malu. yang mengerjap seolah membuka pintu. dan aku tetap saja sejenis makhluk manja di negeri itu.

Ya, aku kristal. aku kristal itu dulu. sekarang, aku sedang berkelindan bersama angin. menikmati ketidaan sosokku lagi. menjadi remah seperti spora. tertiup, hinggap, diam.

Ingkar, lalai, alpa, sukar… bisa jadi ini merupakan awal segala sesuatu.

Karena yang tersadari adalah aku cuma perlu menemui diriku sendiri.

 

 

*tuturan lintas prosa ini saya peruntukkan kepada diri sendiri yang mengulang tanggal kelahiran pada 28 Desember.

Tangerang, 15/12/2013

Robekan Kertas dan Aku #4 (selesai)

one step ahead from the greed.  [sumber: chankurappu.blogspot.com]
one step ahead from the greed.
[sumber: chankurappu.blogspot.com]

KEPADA, Aku… [simak robekan kertas dan aku #3 disini]

Rasanya nggak cukup waktu selama perjalanan dari ibukota menuju rumah kita pakai untuk ngobrol. Lebih luas, seolah 24 jam itu nggak cukup kupakai untuk menuntaskan berbagai hal dalam hitungan sehari.

“Tapi sebetulnya waktu itu tidak ada,” katamu me- ringkas maksud teori relativitas Einstein di sela obrolan kita tentang komet, “kita bisa memperlambat waktu kalau bisa mendahului kecepatan cahaya”. Dan kita tahu itu nyaris impossible (kecuali, Muhammad SAW saat Isra’ Mi’raj).

Merutuk, ngambek, marah, karena terasa sedikit sekali waktu bicara yang tersedia.. ini kerap aku lakukan. Tapi itu tak mengubah sedikitpun rentang waktu ngobrol yang tersedia, kuotanya tetap sama.

Setidaknya, di sinilah aku coba mengubah (sedikit) konsepnya. Keterbatasan perjalanan itu selalu ada, tak berubah. Untuk itu, kucari cara lain untuk menambah kontennya.

Menunggu ranjang dengan merenung; rebah dengan mengingat kebesaran Dzat Sang Punggawa Semesta; berbaring dengan memaafkan; terlelap setelah memaafkan diri sendiri; tidur dengan ilmu.

Bagiku -yang teramat jauh dari kemahiran menyelami “hikmah di balik hari”- kalimat itu terasa nyebelin.  Bagaimana mungkin menyelesaikan seluruh hiruk-pikuk kehidupan hari ini cuma dengan “menyelam” menjelang rehat? Yang ada, semakin senewen karena saat coba mengingat tindak tak sempurna maupun sikap orang tak berkenan bukannya dapat langsung memaafkan, justru geram lagi. Esmosiii.

Atau justru, manusia-manusia hebat di luar sana menutup rehatnya dengan ilmu? Mungkin… belasan jam dalam hidup mereka setiap hari juga beruntai aneka beban berat, kesulitan silih berganti sampai menguras jiwa-raga. Yup, inilah beda mereka denganku.

“Aku sulit sekali untuk berucap… kondisi ini berlangsung berjam-jam. Sama sekali tak terlintas di benak aku akan mengalami seperti ini. Keselek tanpa henti, nggak bisa napas,” ucap si Kakek Dosen Sosiologi dari Kampus Brandeis sekian tahun lalu.
“Sampailah di satu waktu, kepalaku pusing… tapi, justru aku merasa begitu damai, tenang, seolah aku sudah siap untuk berpulang,” kata Eyang Morrie menyelesaikan kalimatnya.

Bahkan, Mitch Albom bingung tenan waktu dengar jawaban Morrie tentang “Bagaimana kalau tetiba kau diberi satu hari 24 jam untuk sembuh, hari itu saja?”.

Jawabannya standar banget. Morrie cuma menjawab dengan rentet kegiatan yang akan dilakukan pada hari itu, mulai dari mandi, sarapan, jalan-jalan, menari, intinya hanya hal biasa yang selayaknya dulu dia lakukan sebelum sakit. Kalau kataku sih, “Yaelah Prof, cape dehhh!”.

Hmmm… ternyata yang Morrie maksud adalah soal …”find perfection in such average day”. Aseek!

Seperti perjalananku, baik di atas si kuda besi maupun si roda 4 bermotor; haruslah menyiagakan mata untuk memperhatikan segala yang ada di tengah jalan. Di antara semua itu terdapat debu yang nggak terhitung jumlahnya, kecil tapi menyakitkan. Lantas, akan terpejamkah mata yang memandang kepada debu yang pasti mampir? Semestinya, tidak.

Dari jamannya bocah sepertinya banyak banget orang yang menyarankan agar jalanilah hari seperti air mengalir, let it flow. Sampai-sampai, akukeingetan banget dengan istilah itu sampai detik ini. Dan… setelah sekian lama lekat dengan perumpamaan itu aku sampai lupa, air kan cuma mengalir ke tempat yang lebih rendah hahaha.

Padahal, (dulu) aku mematok suatu “tempat” yang jauh tinggi. Berharap mencapai mimpi-bertanggal (baca: cita-cita) yang kedengerannya sesuatu banget gitu. Dan sekarang (nyaris) lupa.

Supaya ingat, semestinya itu aku rapal berulang-ulang setiap hari, khususnya terhadap otakku sendiri. Supaya jadi kuat, ingat, rapat di benak, agar (mungkin) menjadi doa yang dibantu turut mengamini oleh orang-orang baik di sekeliling.

Padahal, semestinya si “sesuatu di tempat yang jauh tinggi” itu selalu aku panggil, supaya dia mendekat.

Akan kupanggil citaku itu setiap hari, setiap saat supaya terus terasa dekat!

Nah… lucunya, si cita tinggi di atas sana itu bisa bertukar tempat dengan si hawa (nafsu); setelah aku menempuh jejak meninggi menuju yang ada di atas itu lalu aku mulai merasakan angin yang kian mendingin, menusuk pori hingga ke tulang, mengkristalkan darah, hingga akhirnya hipotermia mendera.

Seberapapun mimpi-bertenggat melekat di kepala, pagari ia… agar tak menjadi hawa.

Demikianlah Aku, mungkin nggak sempat tersampaikan di sela-sela waktu perjalanan kita. Atau mungkin lupa kusampaikan, bahkan (sebetulnya) belum terpikir untuk kusampaikan. Semoga bisa membantuku untuk menutup rehat dengan sedikit ilmu.

 

Bukan kita  yang memilih takdir. Takdirlah yang memilih kita. Bagaimanpun takdir bagaikan angin bagi seorang pemanah. Kita selalu harus mencoba untuk membidik dan melesatkannya di saat yang paling tepat. [Shalahuddin Al Ayyubi]

-Tangerang, Sabtu (16/11/2013) 2:19 dinihari-

Terima Kasih, Belumlah Cukup

KATA itu, yang lebih dalam maknanya dari sekedar “terima kasih”. Kata itu, membantuku mengenal matahari kepada hangatnya bukan terangnya.

Kata itu, mendorong untuk menginsyafi bahwa bahagia bukanlah tujuan melainkan cukuplah berjumpa dengannya dalam perjalanan.

Syukur, itulah dia.

Kata itu, yang membuat nikmat kian bertambah.

water
water

Semesta beserta creator-nya mengajari untuk bersyukur. Itulah kata yang lebih luas maknanya tinimbang terima kasih.

Bercengkrama dengan (karya)-nya tegas kurasai sebagai wujud nikmat melalui manusia. Untuk yang seperti ini rasanya “terima kasih,” belumlah cukup atas berlembar-lembar kalimat yang tertulis dalam buku-bukumu.

Kecuali… sembari menyelami doa, “semoga Dzat Maha-Segala itu membalasmu dengan kebaikan yang banyak dan semoga Dia membalasmu dengan balasan yang terbaik”.

 
-Tangerang, Sabtu (16/11/2013) 15:01 WIB-

Makna

MAKNA… arti, definisi… thesaurus yang saling berkelindan. Saya coba mengambil diksi pertama, makna.

 

meaning

 
Pernah suatu masa seorang penutur sejarah di era Perang Dunia II mengungkap tentang pengalamannya selama hidup di dalam kamp konsentrasi NAZI. Dari sanalah akhirnya ia menemukan suatu gagasan tentang kebermaknaan hidup.

Ibarat seloyang steak tenderloin di atas pan panas tersaji di hadapan. Belum lengkap kalau tak terseduh saus khas steak, dengan mix vegetables di sudutnya, bisa ditambahkan pula mashed potato, dan taburi sedikit lada. Siapkan garpu dan pisau di tangan kanan-kiri, siap menyantap.

Saya analogikan steak beraroma menggugah itu selayaknya aktivitas di dalam sebuah kamp konsentrasi. Tak lengkap tanpa “saus” alias penyiksaan, mix vegetables serasa “penembakan”, “mashed potato” layaknya rangkaian pembunuhan massal. Nah, si “garpu-pisau” tak ubahnya opsi kamar gas atau eksekusi di atas kursi listrik. Nyam… nyam.. nyam… nyawapun diregang.

Seorang penutur sejarah itu menemukan orang-orang dengan pertanyaan di benak, “mengapa ini terjadi padaku?”. Ada juga yang justru berpikir, “apa yang bisa dan seharusnya kulakukan dalam situasi semencekam ini?”. Entah si penutur termasuk yang mana.

Katanya, mereka dengan pertanyaan pertama di kepala banyak yang meregang nyawa di kamar gas. Sementara kaum berpertanyaan kedua, mayoritas bisa lolos.

Apa yang membedakan kalangan dengan pertanyaan pertama dan kedua? Diferensiasinya terletak pada, “Pemberian makna!” kata Viktor E. Frankl.

Yah, setiap dari kita memiliki kebebasan yang tak bisa dibelenggu rantai maupun intimidasi dalam bentuk apapun, kebebasan memilih.

Dari tiga dimensi yang kita miliki -fisik, psikologis, dan spiritual- keinginan menjatuhkan pemaknaan, menurut si penutur, datang dari yang ketiga. Memberi pemaknaan ini tentunya terhadap kehidupan.

Melekatkan pemberian suatu makna, setidaknya membuat seseorng mampu memutar sudut pandang, hingga dapat menatap diri sendiri.

Hhmmm… jika demikian, kiranya makna apa yang mesti kulekatkan kepada diri beserta seperangkat kehidupan yang berkelindan dengannya?

 

Perawatan Tepat, Pemeliharaan Diesel Hemat

 

 

Mesin Diesel Honda [http://autoblogindonesia.files.wordpress.com/]
Mesin Diesel Honda [http://autoblogindonesia.files.wordpress.com/]
TAK jarang orang beranggapan biaya perawatan mobil bermesin diesel mahal. Padahal, para produsen otomotif terus berupaya menyempurnakan produk diesel mereka berupa reduksi getaran, suara mesin, hingga pengurangan emisi gas buang.

Sebetulnya ongkos perawatan diesel yang cenderung boros bisa dihindari asalkan pemilik mobil bisa merawat mesinnya dengan baik. Berikut ini beberapa hal yang sebaiknya dilakukan untuk menjaga performa mesin diesel.

Pertama, perhatikan kebersihan minyak pelumas alias oli. Sebaiknya lakukan penggantian oli secara rutin setelah menempuh jarak sekitar 10.000 kilometer. Jangan lupa mengganti pula saringannya.

Manajer Pemasaran Bursa Mobil Bekas WTC Mangga Dua Heriyanto Kosasih menilai kebersihan pelumas sangat vital bagi mobil bermesin diesel.

“Kalau oli di mobil diesel jarang diganti sehingga terlalu kotor nanti ongkos perawatannya malah jadi terlalu mahal,” tuturnya.

Hal lain yang perlu diperhatikan, seperti dilansir laman resmi Astra Credit Companies (ACC), ialah perlunya memanaskan mesin sebelum berkendara untuk mencapai temperatur mesin yang optimal.

Penyaring bahan bakar dan udara juga sebaiknya diganti per 15.000 kilometer. Jika penyaring bahan bakar tersumbat akibat penumpukan kotoran akan menurunkan performa mesin karena alirannya terhambat.

Perlu diingat pula agar tak pernah membiarkan tangki bahan bakar dalam kondisi nyaris kosong. Sebaiknya langsung isi kembali tangki solar ketika solar yang tersisa tingga sepertiga dari total kapasitas.

“Mesin diesel generasi baru biasanya tidak ada masalah tapi kalau mesin-mesin lama minimal tangki bahan bakar terisi seperempat,” ucap Heriyanto.

Untuk bahan bakar jangan lupa gunakan solar berkadar sulfur rendah terutama untuk mesin berteknologi common rail direct injection. Solar yang berkadar sulfur terlalu tinggi dapat menimbulkan sumbatan saluran katup common rail sehingga mesin tersendat bahkan mati seketika.

Sedangkan pada mesin diesel turborcharger sebaiknya jangan mematikan mesin seketika, tunggulah sekitar tiga menit. Sebaiknya pengendara tak menginjak pedal gas berlebihan saat mobil sedang tak bergerak.

“Mesin diesel tidak seperti mobil bensin. Kalau terlalu banyak bahan bakar yang tersemprot karena menggasnya berlebihan tidak baik untuk diesel,” ucap Heriyanto.

Terakhir yang perlu diperhatikan adalah saringan udara dengan membersihkan dan menggantinya secara teratur. Sebab, debu yang masuk ke ruang pembakaran dari saringan udara yang kotor akan mempercepat keausan komponen yang bergesekan.

Kafein

admiring you, caffeine.

 

 

Hei kafein mengapa kamu bisa menjadi sedemikian menyenangkan?
Murung menjadi senyum, panik lalu tenang, buyar kembali fokus.

Kadang kamu terlalu baik, tahukah?
Ingatku tentang nama-nama itu menjadi lega.

Kafein aku belum menemukan alasan bagaimana bisa kamu menjadi sedemikian kuat.
Gersang berubah dingin. Lupa kembali ingat. Hujan terasa cerah.

Meresapimu kedalam pori-pori tubuh rasanya seperti merapalkan mantra di depan kotak sulap.
Kosong, kosong, kosong, seketika muncul merpati.

Di tengah pacuan kompetisi ini, kamu membantuku selalu tegak dan siap.
Tisu menjadi lebih hemat karena mata tak lagi sering sembab.

Kafein, malam itu kamu pernah menjadi senyawa yang menjalinkan perbicangan dengan nama-yang-tak-boleh-dihafal.
Ingatkah?

Doa untuk Mobil Murah

Orang nomor 1 di DKI Jakarta, Joko Widodo, barang kali akan menggaruk kepala semakin keras saat memikirkan pemecahan masalah keruwetan lalu lintas ibukota. Garukkannya semakin kencang saat populasi mobil murah dan ramah lingkungan (low cost and green car/LCGC) meluas mulai beberapa bulan ke depan.

Kabarnya, Sang Gubernur ingin mempercepat penerapan kebijakan plat nomor genap dan ganjil beserta electronic road pricing (ERP). Toh inipun bukan solusi yang dalam waktu cepat bisa mengurai masalah. Karena, pada dasarnya tak ada jalan keluar instan yang diseduh air panas, tunggu tiga menit, lantas siap disantap.

Program LCGC yang digagas Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sejatinya pun bukan kebijakan buruk. Tapi yah, suatu keputusan selalu menghadirkan dua dinding bertentangan.

Pada satu sisi, mobil murah bisa memperbesar kapasitas produksi nasional plus mendongkrak volume ekspor mobil. Bahkan, bisa merangsang pengusaha komponen otomotif lokal untuk meningkatkan daya saing.

Namun, di sisi berlawanan populasi LCGC mengundang kekhawatiran bakal semakin memampat ruas jalan terutama di kota-kota besar. Sebab, gagasan mobil hijau harga terjangkau tak disertai pembangunan infrastruktur transportasi besar-besaran, baik perluasan jalan maupun perbaikan sarana transportasi publik.

Untuk meratakan sebaran LCGC, pemerintah meminta para produsen mobil tidak cuma fokus memasarkan produknya di kota-kota besar. Promosi harus menyentuh berbagai daerah di luar Pulau Jawa.

Menurut Praktisi dan pemerhati senior otomotif Suhari Sargo, apa yang dikemukakan pemerintah ibarat tong kosong diketuk nyaring. Kendati pemasaran LCGC disebarluaskan ke berbagai daerah tetap saja populasi di ulau Jawa semakin bengkak.

“Bukannya menentang sepenuhnya program LCGC ini tapi sebaiknya jika dikaitkan dengan MP3EI, cocoknya mobil murah itu untuk daerah [di luar Jawa]. Agar masyarakat di sana memiliki daya beli terhadap LCGC maka ekonomi harus digerakkan,” ucapnya, Rabu (18/9/2013).

Selain itu, pemerintah menggaungkan LCGC bakal mendongkrak perekonomian Indonesia karena basis produksinya berada di sini. Tapi, Suhari mencermati adanya kekopongan dalam rantai struktur industri. Masalahnya, Indonesia belum memiliki pabrik baja untuk pelat bodi kendaraan tapi langsung konsentrasi pada manufaktur mobil murah.

“Bayangkan, panjang jalan di Thailand sudah lebih dari 800 km per 1 juta penduduk, Korea 1.000 km, dan Jepang 8.800 km per 1 juta penduduk. Tapi Indonesia cuma 160 km per 1 juta penduduk,” ucap Suhari.

Padahal, jika melirik dari kaca mata pelaku industri otomotif nampak semangat menggebu. Empat agen tunggal pemegang merek (ATPM) berlomba merilis mobil terbaru mereka selama kurang dari dua pekan terakhir. Ada Toyota Agya, Daihatsu Ayla, Honda Brio Satya, dan Datsun GO+ yang siap berebut “kue” LCGC.

Ibarat toko kue, ATPM melihat banyak varian lezat nan menggiurkan di etalase industri otomotif Indonesia. Selayaknya makanan baru pastinya mengundang keingintahuan besar untuk mencicip, demikianlah “kue” mobil murah.

“Saya rasa [terhadap persaingan segmen LCGC] jawabannya, positif. Dengan adanya pemain lain kita terdorong untuk menjadi lebih baik,” kata Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Rahmat Samulo.

Toyota bersama kompetitor sedarah dari keluarga Astra, Daihatsu, meluncurkan mobil murah pada 9 September 2013 di lokasi berbeda. Mengingat keduanya adalah yang pertama kali merilis produk LCGC maka sebutlah mereka pionir.

Dua hari berselang, PT Honda Prospect Motor (HPM) meluncurkan New Brio Satya. Selanjutnya pada Selasa (17/9/2013), PT Nissan Motor Indonesia (NIM) menjadi ATPM terakhir yang mencocol “kue” mobil murah, Datsun GO+ bisa dibeli mulai 2014.

“Tak masalah kami disebut follower. Itulah kompetisi, konsumen yang akhirnya menentukan. Kalau ternyata mobil si follower yang lebih banyak dipilih, why not?” ucap Indriani Hadiwidjaja, General Marketing & Communication PT Nissan Motor Indonesia.

Namanya juga harga terjangkau, jangan berharap ada keunggulan luar biasa dari model-model yang ada. Setidaknya fitur yang tersedia cukup bagi ATPM meyakinkan bahwa produk mereka mampu memenuhi keinginan konsumen terutama mereka yang pertama kali membeli mobil.

Dapur pacu mesin misalnya, Toyota Agya dan Daihatsu Ayla berkapasitas 1.000 cc 3 silinder 12 valve DOHC fuel injection dengan tenaga maksimal 65 PS pada 6.000 rpm dan torsi puncak 8,8 kgm pada 3.600.

Mesin Honda Brio Satya lebih besar, yakni 1.200 cc 4 silinder 16 valve i-VTEC SOHC bertenaga terbesar 88 PS pada 6.200 rpm dan torsi maksimal 11,1 kgm pada 4.500. Sedangkan Datsun GO+ mesinnya 1.200 cc 3 silinder yang menghasilkan tenaga 68 PS dengan torsi puncak 10,6 kgm.

Setiap agen pemegang merek tentu akan menjagokan produk masing-masing. Sejauh ini, mereka mengaku tak khawatir dengan persaingan yang ada. Semakin banyak produk tersedia justru konsumen memiliki pilihan lebih beragam.

Rahmat Samulo mengaku optimitis lantaran TAM bukan cuma menjual barang tapi juga menyajikan layanan purnajual menyeluruh hingga jaminan ketersediaan suku cadang. “Strategi pemasaran kami adalah dengan hadir tak hanya di kota besar. Diler resmi kami sebarannya lengkap sampai ke daerah-daerah,” ucapnya.

Direktur Marketing dan Purnajual HPM Jonfis Fandy mengaku tak gentar kepada persaingan meski Honda baru pertama kali menjajaki bisnis mobil harga terjangkau. Target pasar LCGC adalah mereka yang baru pertama kali membeli mobil (entry level). “Semakin banyak pilihan untuk konsumen akan semakin bagus,” tuturnya.

Sedangkan bagi Indriani Hadiwidjaja tak ada yang perlu dikhawatirkan dari kompetisi karena potensi pasar Indonesia untuk LCGC ke depan sangat besar. “Tingkat kepemilikan mobil di sini masih rendah. Di Brazil dari 1000 penduduk ada 200 yang punya mobil, di Indonesia baru 45 orang. Potensinya masih banyak,” kata dia.

Tingkat komponen lokal yang terkandung di dalam produk LCGC dipastikan sudah memenuhi ketentuan minimal sekitar 80%. Para ATPM berupaya untuk memenuhi konten lokal sedikitnya 85%.

Komponen yang harus diproduksi di dalam negeri adalah bodi lengkap dengan sistem penggerak (power train). Emisi gas buang LCGC merujuk kepada standar Euro III dengan spesifikasi bahan bakar minimal RON 92 untuk motor bakar cetus api dan CN 51 bagi mesin diesel.

Harapan Kemenperin, atau sebutlah doa, terhadap program LCGC sebetulnya baik. Menteri Perindustrian M.S. Hidayat ingin kebijakan ini bisa menghadirkan kegiatan produksi mobil murah yang mampu mendongkrak daya saing industri komponen otomotif lokal.

Era LCGC, menurutnya, harus terlaksana sejak tahun ini guna mengantisipasi ketatnya kompetisi tatkala pasar bebas Asean dimulai pada 2015. Karir Indonesia sebagai basis produksi mobil murah diharapkan sudah cukup kuat ketika komunitas ekonomi Asia Tenggara itu berlangsung.

Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kemenperin Budi Darmadi mengatakan basis produksi LCGC di dalam negeri disiapkan untuk menggantikan posisi mobil impor sejenis. Program ini juga bisa mengundang lebih banyak investor asing menanamkan modal dengan menggandeng produsen lokal.

“Ini mendorong potensi produsen lokal dengan menggandeng pengusaha otomotif lokal untuk penggunaan komponen yang tidak mengusung teknologi tinggi,” ucapnya.

Keinginan pemerintah untuk menjadikan RI sebagai basis produksi mobil murah ke depan bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan domestik melainkan pula untuk bermain di pasar global. Sayangnya, belum ada satupun pemegang merek LCGC yang secara tegas menjamin komitmen ekspor.

Presiden Direktur PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Sudirman M.R. menyatakan ekspor akan dilakukan jika permintaan tumbuh signifikan. Tapi ini akan diwujudkan saat kebutuhan domestik sudah terpenuhi. Pasar luar yang dinilai ADM cukup prospektif salah satunya Afrika dan Filipina.

Sedangkan bagi TAM, target pasar utama Agya adalah Indonesia sehingga kesempatan ekspor belum menjadi fokus. “Tapi peluang untuk mengekspor Toyota Agya tetap terbuka,” kata Rahmat. Kalaupun akan jual Agya ke luar negeri TAM akan membidik negara dengan karakter pasar otomotif seperti Indonesia misalnya, Malaysia, Amerika Selatan dan Afrika Selatan.

HPM sejauh ini masih konsentrasi menembus persaingan di dalam negeri sedangkan peluang ekspor akan ditelaah belakangan. “Jangan hanya dilihat ekspor itu semata mobil saja. Kami ekspor juga kok seperti transmisi dan mesin. Lihat juga ekspor per komponen,” ujar Jonfis.

Sementara Nissan, untuk Datsun GO+, hingga kini mengambang. Penjualan ke luar negeri akan disesuaikan dengan kapasitas produksi di Indonesia sekaligus mencermati karakter pasar di negara tujuan.

“Kami tidak bilang tidak mau ekspor. Kalau ada permintaan kenapa tidak?” kata Indriani. Sejauh ini, Datsun fokus di industri otomotif Indonesia, India, Rusia, Afrika Selatan, dan Asia Tenggara.

Menurut Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D. Sugiarto, komitmen ekspor tidak bisa diputuskan sendiri oleh basis merek otomotif di Indonesia. Mereka harus meminta restu kepada prinsipal pusat.

Sementara itu, menyikapi kontra LCGC terkait pengaruhnya terhadap kemacetan, Gaikindo tak menolak. Secara langsung atau tidak, proyek ini akan menambah populasi kendaraan.

“Sekarang memang agak sedikit dibantah, ada yang komentar mengenai LCGC bahwa ini akan membuat semakin macet. Tapi kalau kita tidak buat program ini mobil impor akan banjir,” tuturnya.

Dua tahun mendatang perdagangan antarnegara anggota Asean terbuka bebas. Melalui insentif potongan pajak bagi ATPM yang memproduksi LCGC di Indonesia setidaknya serbuan mobil murah impor bisa dibendung. Sebab, harga LCGC lokal jadi lebih murah dibandingkan produk impor yang kena pajak.

Setiap merek punya peluang untuk terjun bermain di segmen mobil murah. Untuk itu, antar-ATPM tak bisa dikatakan yang satu meniru lainnya alias jadi pengikut (follower).

“LCGC tergantung kesiapan masing-masing ATPM. Kalau mereka bernafsu besar ikutan tapi tenaga kurang alias belum siap, mau apa?” ucap Jongkie.

Gaikindo menilai tren pasar mobil murah nan irit bensin ini ke depan menjanjikan. Artinya, kendaraan ini bukan menggeser pamor mobil serba guna murah (low MPV) melainkan melahirkan segmen market tersendiri.

Menjadikan RI sebagai basis produksi, mendorong volume ekspor mobil, memacu investasi lebih besar, hingga memperluas lapangan kerja semua merupakan harapan. Idealnya, asa maupun doa bermuara kepada hal-hal baik dan datang dari hati. Tapi yang mengkhawatirkan apabila doa itu berasal dari hati yang tak jernih.

Are We Living Inside a Computer Simulation?

THE popular film trilogy, The Matrix, presented a cyberuniverse where humans live in a simulated reality created by sentient machines.

Now, a philosopher and team of physicists imagine that we might really be living inside a computer-generated universe that you could call The Lattice. What’s more, we may be able to detect it.

In 2003, British philosopher Nick Bostrom published a paperthat proposed the universe we live in might in fact really be a numerical computer simulation. To give this a bizarreTwilight Zone twist, he suggested that our far-evolved distant descendants might construct such a program to simulate the past and recreate how their remote ancestors lived.

He felt that such an experiment was inevitable for a supercivilization. If it didn’t happen by now, then in meant that humanity never evolved that far and we’re doomed to a short lifespan as a species, he argued.

To extrapolate further, I’d suggest that artificial intelligent entities descended from us would be curious about looking back in time by simulating the universe of their biological ancestors.

As off-the-wall as this sounds, a team of physicists at the University of Washington (UW) recently announcedthat there is a potential test to seen if we actually live in The Lattice. Ironically, it would be the first such observation for scientifically hypothesized evidence of intelligent design behind the cosmos.

The UW team too propose that super-intelligent entities, bored with their current universe, do numerical simulations to explore all possibilities in the landscape of the underlying quantum vacuum (from which the big bang percolated) through universe simulations. “This is perhaps the most profound quest that can be undertaken by a sentient being,” write the authors.

Before you dismiss this idea as completely loony, the reality of such a Sim Universe might solve a lot of eerie mysteries about the cosmos. About two-dozen of the universe’s fundamental constants happen to fall within the narrow range thought to be compatible with life. At first glance it seems as unlikely as balancing a pencil on its tip. Jiggle these parameters and life as we know it would have never appeared. Not even stars and galaxies. This is called the Anthropic principle.

Building the Universe Inside a Supercomputer

The discovery of dark energy over a decade ago further compounds the universe’s strangeness. This sort of “antigravity” pushing space-time apart is the closest thing there is to nothing and still is something. This energy from the vacuum of space is 60 orders of magnitude weaker that what would be predicted by quantum physics.The eminent cosmologist Michael Turner ranks dark energy as “the most profound mystery in all of science.”

We are also living at a very special time in the universe’s history where it switched gears from decelerating to accelerating under the push of dark energy. This begs the question “why me why now?” (A phrase popularly attributed to Olympic figure skater Nancy Kerrigan in 1994 when she was attacked and crippled by an opponent.)

If dark energy were slightly stronger the universe would have blown apart before stars formed. Any weaker and the universe would have imploded long ago. Its incredibly anemic value has been seen as circumstantial evidence for parallel universes with their own flavor of dark energy that is typically destructive. It’s as if our universe won the lottery and got all the physical parameters just right for us to exist.

Finally, an artificial universe solves the Fermi Paradox (where are all the space aliens?) by implying that we truly are alone in the universe. It was custom made for us by our far-future progeny.

Biblical creationists can no doubt embrace these seeming cosmic coincidences as unequivocal evidence for their “theory” of Intelligent Design (ID). But is our “God” really a computer programmer rather than a bearded old man living in the sky?

Currently, supercomputers using a impressive-sounding technique called lattice quantum chromodynamics, and starting from the fundamental physical laws, can simulate only a very small portion of the universe. The scale is a little larger than the nucleus of an atom, according UW physicist Martin Savage. Mega-computers of the far future could greatly expand the size of the Sim Universe.

Artificial Universe Created Inside a Supercomputer

If we are living in such a program, there could be telltale evidence for the underlying lattice used in modeling the space-time continuum, say the researchers. This signature could show up as a limitation in the energy of cosmic rays. They would travel diagonally across the model universe and not interact equally in all directions, as they otherwise would be expected to do according to present cosmology.

If such results were measured, physicists would have to rule out any and all other natural explanations for the anomaly before flirting with the idea of intelligent design. (To avoid confusion with the purely faith-based creationist ID, this would not prove the existence of a biblical God, because you’d have to ask the question “why does God need a lattice?”)

If our universe is a simulation, then those entities controlling it could be running other simulations as well to create other universes parallel to our own. No doubt this would call for, ahem, massive parallel processing.

If all of this isn’t mind-blowing enough, Bostrom imagined “stacked” levels of reality, “we would have to suspect that the post-humans running our simulation are themselves simulated beings; and their creators, in turn, may also be simulated beings. Here may be room for a large number of levels of reality, and the number could be increasing over time.”

To compound this even further, Bostrom imagined a hierarchy of deities, “In some ways, the post-humans running a simulation are like gods. However, all the demigods except those at the fundamental level of reality are subject to sanctions by the more powerful gods living at lower levels.”

If the parallel universes are all running on the same computer platform could we communicate with them? If so, I hope the Matrix’s manic Agent Smith doesn’t materialize one day.

To borrow from the title of Isaac Asimov’s novel I Robot, the human condition might be described as I Subroutine.

[sumber: Discovery Channel]