Biru

TELAPAK jempol tanganku menyentuh layar ponsel. Menggesernya ke atas dan ke bawah, memeriksa setiap pesan yang masuk dan belum kubalas sejak dua jam terakhir. Saat inilah momentum tatkala aku merasa ada bara di dalam dada; marah. Tepatnya ketika aku membuka pesan baru di baris paling bawah. Bukan masalah dengan si pesan, tetapi perkaranya terletak pada satu chat yang ada tepat di bawah pesan ini.

 

Berubah.

 

Bukan, bukan mood-ku yang berubah. Maksudku, iya betul, mood-ku lantas berubah. Tapi yang kuceritakan di sini adalah perubahan foto profil. Gambar profil nomor yang kunamai “Bagas”, berganti dalam kurun waktu dua jam terakhir.

 

Tampak di sana selembar kertas film khusus rontgen menampilkan foto hitam putih lekuk janin berusia sembilan bulan. Ada lengkungan setengah lingkaran menyerupai kepala. Garis oval putih sisanya menunjukkan itulah si badan. Foto ini tampak syahdu karena kuyakin pasti dibubuhkan efek lawas oleh pemilik.

 

Sudah sembilan berlalu. Berusaha kujaga dan tetap kujalin komunikasi dengan Bagas. Aku hanya ingin belajar tegar dan lapang. Ini kupelajari secara khusus dalam mata kuliah “Bagas” tepat sejak suatu kamis pada bulan Desember silam. Kamis yang seharusnya bisa kukenang dengan rasa manis, kenyataannya malah menjadi sadis.

 

Memilih untuk tak menjadi tua dalam tanda tanya, aku bicara dengan Bagas tentang yang sebenarnya. Dia menunduk dan seperti sungguh menyesal. Apakah itu menyesal karena menghianatiku, atau menyesal karena aksi hidung belangnya kuketahui lebih cepat. Ah.. aku harap yang pertama.

 

Aku memutuskan untuk undur diri dari hubungan kami. Dua pekan kemudian kudengar kabar Bagas sudah menikah dengan perempuan itu. Wanita yang menikmati hangatnya pelukan bagas di atas kasur ketika aku sedang mumet memikirkan proyek kantor nun jauh di Kalimantan.

 

Sekilas tampak biasa saja kejadian pergantian foto profil Bagas. Apa yang harus aku perkarakan? Setiap kertas rontgen ada pemiliknya, terserah mereka mau menyimpan di dalam amplop saja atau mempublikasikan, via foto profil perpesanan misalnya, maka apa urusannya denganku?

 

Mmmm…

 

Mungkin, masalahnya karena itu adalah gambar profil nomor bernama Bagas, seseorang yang menyebabkan rinduku harus tabah.

 

Marahku membiru.

 

Seketika aku merasakan bayang berwarna biru merambat perlahan menutup layar ponselku, lalu leptop, kemudian membalut seluruh dinding ruangan tempatku terduduk. Biru itu seperti cat akrilik kental yang merambat perlahan dari bawah ke atas. Setitik demi setitik tertutup merata. Bahkan bola mataku kini juga ikut teraliri. I feel blue.

 

Karena Bagas aku menangis karena harus hidup di masa kini, bukan masa lalu. Ya, masa lampau saat dia bertanya, “jika benar kamu merasa kelabu, mengapa tak coba lukis dirimu dalam balutan warna lain?”

 

 

 

Advertisements

GADIS

 

GENGGAMAN tangan seorang pria berusia 30-an merenggang di sela-sela jemari wanita di sebelahnya. Mereka menelan ludah bersamaan melalui tenggorokan yang berbeda. Bersama pula merasai butiran peluh berjatuhan padahal sedang di dalam ruang steril yang dingin.

Kamar bersalin sebuah rumah sakit umum daerah itu baru saja diramaikan tangis bayi perempuan. Berlumur darah dan mengkilat-kilat badannya selepas keluar dari rahim. Tangisnya seperti nyanyian paling merdu bagi pria dan wanita tersebut; membius.

Namun dokter lama menimang si bayi. Dia ragu menyerahkan kepada sosok yang melahirkannya. Dokter terus menahan bayi merah itu di tangan; gemetar.

“Mana anak saya dok?” tanya si wanita, yang melahirkan jabang bayi, sembari berbaring bersimbah keringat.

Dokter menatap mata pasangan suami istri ini lantas membanting tatap kepada wajah si bayi. Ragu. Tak pernah dia seragu ini dalam prosesi penyerahan bayi kepada ibunya. “Ini, bu,” akhirnya dia menyerahkan.

Pasangan suami istri tersebut tentu menangis terharu. Lebur dan luruh bahagia mereka. Si ibu meletakkan anaknya tengkurap di dada agar bisa menemukan puting susu sendiri. Adapun si suami menepuk-nepuk punggung bayi lalu beradzan.

Sehabis itu tangis mereka reda, seketika, seperti setengah terpaksa lantas berganti jadi cengang. “Ayah…” suara si ibu terputus. Keduanya berpandangan. Tetiba tangis mereka kembali pecah.

Apabila kau saksikan separang pasutri tersebut menangis dari layar kaca, mereka tampak seperti sedang berteriak dalam bisu. Coba matikan volume sampai ke limit terbawah, maka yang terlihat cuma orang yang sedang meringis-ringis dan megap-megap.

Pria yang kelak dipanggil ayah dan wanita yang akan dinamai ibu itu menangkap semburat keheningan di dalam bisingnya pekik pita suara. Mereka mendapati keheningan dari derasnya laju air mata. Tak hanya itu, berdua juga meneriaki keheningan yang membungkus sukma.

Tangis yang hening, bagi si bayi demikian. Ia tengkurap menempelkan pipinya ke dada sang ibu tanpa tahu apa yang bikin suasana begitu pilu. Dia asing saja menyusu ke sepasang puting bengkak di dada ibunya. Itulah aku, si bayi berkaki satu.

++++

Apabila mengenai orang lain kita bisa menjadi pengingat jitu, apalagi terhadap diri sendiri.

Tak lekang dari amigdala otakku ketika itu berusia sekitar sepuluh tahun; masih berseragam putih dan merah; kelas empat sekolah dasar. Aku sedang di kamar mandi siswi usai pelajaran olahraga. Walaupun tidak ada satupun aktivitas olahraga yang bisa aku ikuti, tetap saja aku harus mengganti baju selama jam pelajaran berlangsung. Biasanya aku cuma teronggok bak obat nyamuk di pinggir lapangan.

Aku hendak berganti baju menjadi seragam putih dan merah kembali. Kebodohan yang paling kusumpahi sampai kesumat adalah memilih masuk bilik yang kuncinya rusak. Tetiba ada dua, tiga, atau empat kepala beserta anggota tubuh lengkap menyeruak masuk.

Kebodohan lainnya adalah aku sibuk dengan kaget. Kenapa aku sibuk kaget? Sibuk berteriak-teriak histeris karena takut ada yang mau mengintip. Kenapa tidak langsung tersadari, monyetpun rasanya tidak akan berminat kepada tubuh bau kencurku.

Mereka ramai-ramai dengan kompak dan sigap mengambil tongkat. Sepasang tongkat keramat. Benda itu dirampas; disembunyikan. Aku berusaha menengangkan diri setengah mati selepas teman-temanku yang keparat itu keluar seperti kilat.

Tidak ada air mata boleh turun, satupun. Demikian sumpahku di kepala.

Aku keluar dari kamar mandi tanpa terpikir mencari tongkatku. Aku hanya ingin sampai di kelas. Sepanjang koridor aku dianiaya secara verbal. Jalanku melompat seperti kodok dan menunduk seperti anak babi.

Memang itu yang mereka teriakkan, “Huuuuu kodok huuuu”.

++++

Para keparat itu akhirnya mengembalikan tongkatku setelah aku kembali melompat terombang-ambing dari kursi menuju pintu kelas; saat pulang sekolah. Aku tak berharap tongkatku kembali, aku hanya sibuk berusaha tak menangis dan menyimpan marah.

Kalau harus mengesot untuk sampai di rumah, biarlah, akan kucoba jalani. Begitu batin cacatku berkata.

Sesampai di rumah aku langsung meraih dada ibu yang sedang berbaring telentang, mempelkan pipi di sana; seperti ketika pertama aku menyentuhnya. Aku merangsek di sana dalam posisi tengkurap. Aku menanggis sesenggukan dan meracau.

Kenapa harus berlari jika berjalan terasa lebih menenangkan? Mengapa memaksa melihat jika segala yang ada cuma tampak seperti berkabut?

“Tidak mengapa sayang. Dan karena tidak apa-apa mengapa harus memaksa berlari dan ngotot memandang dengan mata telanjang?” jawab ibu sembari menguatkan cengkraman jemarinya dibahuku.

++++

Berjalan dan memandang menjadi ritual mewah dalam hidupku. Ritual utamaku setelah bangun tidur, pertama mencari kacamata, kedua meraba di mana tongkatku.

Hubunganku dengan tongkat dan kacamata sangat mesra, akrab, dan hangat; intim. Kedekatan kami melebihi kedekatanku dengan siapapun atau apapun.

Berkat si kacamata, aku bisa memandang dengan baik. Sementara si tongkat mampu memapah saat menapaki jalan. Komplementer yang sempurna; melihat jalan dan menjalaninya.

Aku memang bisa memandang apa yang tersaji dalam perjalanan dan mampu menjalaninya. Tapi rupanya ini saja tidak tidak cukup. Ya, seperti orang keren; keren saja enggak cukup buat hidup. Untukku melihat dan berjalan saja belum memadai, aku harus bisa melakukannya dengan cepat.

Rupanya memang omong kosong pepatah yang berkata alon-alon asal klakon, perlahan yang penting selamat. Kenyataan tidak demikian. Semua harus cepat dalam ritme yang lazim bukan yang cacat.

“Gadis kamu lambat kayak keong. Cepetan dong, antreannya panjang nih”. Pada waktu itu aku sedang mengantre pembagian seragam baru saat kenaikan kelas.

Andai keparat-keparat itu tahu, mereka tidak perlu mengolok-olok. Cukup memandangi dari ujung kaki ke kepala. Rasanya seperti tak ada helai kain nyangkut lagi di tubuhku.

++++

Ini gilirannya, si anak lamban. Betapa tidak lelet, kaki lunglai itu harus selalu ditopang tongkat. Berurusan dengannya harus mau menyediakan waktu lebih, untuk mengakomodir geraknya yang lamban. Saya sendiri bingung kenapa sekolah menerima dia. Selain lamban, aneh pula.

“Esai terakhir yang akan ibu bagikan ini adalah yang nilainya paling buruk, dapat F.”

Sebelum melanjutkan kalimat, saya membuka kacamata sampai hidung dan memandang ke tempat duduk murid berikut ini. “Gadis, maju kemari”.

Biasanya berjalan dari baris meja paling belakang butuh lima detik untuk sampai ke depan. Tapi untuk si lamban ini, lima detik harus digandakan dua kali lipat.

“Bacakan hasil esaimu”.

++++

Apa itu mimpi? Apakah itu serupa batu yang dililitkan benang sol lantas dilempar ke salah satu ranting pohon rindang nan teduh?

Jika batu benang berhasil terlilit di ranting dengan baik, itu bisa tersangkut dengan kuat. Tapi saat lemparanmu salah arah, justru keningmu yang tertimpa dan berdarah. Apakah demikian?

Atau, jangan-jangan mimpi dalam konteks apapun tak ubahnya kembang tidur belaka? Kalau begini, perbanyak saja tidur agar mimpimu terus hidup.

Ibu tertawa mendengar celotehku tersebut. “Kalau kamu cuma memberi dua opsi itu maka anggaplah mimpimu seperti opsi yang pertama,” jawabnya usai menuntaskan tawa. “Memangnya kamu punya mimpi apa?”

Aku diam dan menyeringai menatap ibu sembari terus menaburkan makanan ikan ke permukaan kolam lele. Ibu pun tidak bertanya lagi. Dia sibuk meremas-remas ikan dan mencampurnya dengan nasi. Setelah ini dia akan berkeliling komplek memberi makan kucing jalanan.

Pertanyaan ibu yang tak terjawab bukan berarti lantaran aku tak punya jawaban. Aku punya, hanya saja aku malu. Aku khawatir jika kujawab sekarang tetapi sepuluh tahun mendatang aku malah lupa dan abai.

“Gadis? Cepat dibaca paragraf yang ibu tandai dengan pulpen merah,” ibu guru menegurku.

“Saya ingin bisa membeli rumah dengan luas bangunan 100 meter persegi dan halaman kalau bisa 300 meter persegi. Lokasinya saya harap ada di pinggiran ibukota. Saya membutuhkan rumah dengan halaman luas agar teman-teman bisa bermain dan hidup dengan layak.

Saya akan membuat beberapa rumah kecil atau sebutlah kandang di halaman tersebut, ada kandang burung berukuran tiga kali tiga meter, area kucing sekitar sepuluh kali sepuluh meter, untuk anjing mungkin 15 kali lima meter persegi. Selebihnya akan saya tanami tumbuhan sayur dan pohon buah. Sementara di halaman belakang rumah akan saya buat beberapa kolam ikan.

Rumah tersebut sangat saya butuhkan ada di pinggir ibukota karena kalau di ibukota sendiri terlalu padat. Sementara di sanalah dan daerah sekitarnya banyak binatang-binatang terlantar.

Sebelum saya membeli rumah tersebut saya ingin kuliah di jurusan kedokteran hewan. Saya ingin menjadi dokter hewan dan penyelamat binatang bahasa Inggrisnya animal rescuer,” kataku sembari memandangi huruf F di sudut kanan atas.

Setelah itu kuberanikan menatap seisi kelas. Mereka bukan terperangah melainkan sibuk berbisik dengan teman sebangkunya. Aku tetap berusaha melempar senyum ke udara.

“Gadis,” aku menoleh ke arah guruku, “keinginan kamu itu aneh sekali ya. Buat apa sibuk mengurus binatang-binatang jalanan itu?

Kamu tidak pernah juara kelas, nilai matematikapun selalu merah, bagaimana bisa masuk kedokteran? Kamu juga tidak punya uang. Belum lagi keluarga kamu relatif kurang mampu, hanya beternak lele lho.

Kalau menginginkan rumah seluas itu dalam waktu sekitar sepuluh tahun dari sekarang, kamu butuh banyak uang, Dis. Coba kamu tulis ulang esaimu dengan isi yang lebih realistis, mungkin nilai F kamu bisa jadi lebih baik”.

Senyumku lenyap.

++++

“Jadi mimpi itu apa Bu?”

Sepulang sekolah hari itu, aku langsung menodong ibu yang sedang memberi makan lele dengan pertanyaan yang sama; mimpi.

Ibu menghentikan aktifitasnya dan berlutut di depanku. “Mimpi itu hidup, Dis,” katanya sambil memegang bahuku.

“Kamu tahu rahasia hidup?”

“Apa Bu?”

“Jatuhlah tujuh kali tetapi kamu harus bangun delapan kali”.

Malam itu aku memandangi esaiku yang dibubuhi huruf F sampai tertidur. Aku berpikir keras apa yang harus kuperbaiki, apa yang mesti kuubah?

Keesokan paginya aku hampiri guru Bahasa Indonesia dan menyerahkan kertas esaiku.

“Kenapa masih esai yang sama?”

“Saat awal-awal mulai berjuang demi mimpi yang saya inginkan tentu saya tidak punya pengalaman dan membuat banyak kesalahan, bu. Tapi biarpun saya jatuh seratus kali, saya akan bangun 101 kali”.

++++

Sepuluh tahun sejak saat itu benar yang diolok-olok guruku. Sampai sekarang aku belum berubah.

“Benarkah begitu?” tanya juru warta di depanku. Kami sedang berbincang di taman sebuah bangunan yang di depan pagarnya ada papan bertuliskan PITA; Pengasuh Binatang Terlantar.

“Ya, seperti yang Anda lihat. Saya masih bertongkat, lambat, dan rabun. Orang tua saya juga tetap beternak lele”.

Wartawan itu tertawa.

 

 

 

Sepertiga Hidup Ara

EMPAT rumah lampu itu disangga sebuah tiang besi yang berdiri tegak di tengah empat kursi kayu di belakang kami. Kursi-kursi sepanjang 1,5 meter ini berjejer di bawah setiap rumah lampu, membuat formasi kotak.

Tidak ada siapapun yang duduk di kursi itu selain kami. Dari atas kepala, cahaya lampu berwarna kuning temaram menghujan. Tapi tidak demikian dengan ubun-ubunnya. Lebih gelap, tak ada pendar cahaya kuning. Lampu di atas kepalanya padam.

“Rasanya sukar, berat, sulit, dan segala berjalan lambat,” kata dia sembari memerhatikan ujung sepatu kanannya yang sedang menggaruk-garuk tanah.

Kutatap samping wajahnya beberapa detik. “Lantas?” jawabku.

“Mungkin sebaiknya aku berhenti dan menyudahi saja”. Dia menangkat kepala dan melihatku, “begitukah?”

“Cuma sampai sini saja keyakinan dan usahamu? Hanya segini?” Aku justru bertanya balik kepadanya.

Nada suaraku seperti motivator yang penuh percaya diri bicara di depan audiens. Padahal, andai aku ditimpa seperti apa yang dijalaninya belum tentu aku sanggup.

“Kenapa aku berbeda?”

“Maka, kenapa kau harus sama seperti yang lain?” jawab sekaligus tanyaku diplomatis.

“Bukankah semua yang membuat ini lebih sukar bagiku menandakan semesta tak mendukung?”. Kulihat dia menghela nafas pendek setelah mengucap.

“Andai orang-orang eksentrik lain menalar sepertimu, adakah Chicken Soup, Forrest Gump, The Breakfast Club, atau Dead Poet Society di tengah-tengah kita?”

Matanya segera menyambar retinaku lagi, “maksudmu?”

******

C360_2014-05-14-10-55-34-1

Ara memasuki ruang kelas sembari berlari. Kaki bernomor sepatu 30 itu berayun menghentak-hentak lantai dengan irama tertentu. Sepasang kaki itu seperti punya energi yang takkan payah meski pemiliknya tidak makan tiga hari.

Pagi itu kami mengenakan seragam batik merah, seragam khusus hari Kamis. Rok dan kemeja batiknya yang kebesaran berayun mengikuti jejak kaki. Ara masuk ke dalam kelas lantas menyusuri setiap deret meja yang ada, dari paling kanan ke pojok kiri.

Ara, yang selalu memasuki gerbang sekolah sampai kelas berlari itu, memeriksa lipatan roknya setiap 15 menit sekali. “Mana yang berkerut? Tidak ada kan. Kau ini memang senang mengerjai aku,” ucapnya kepada angin sembari menolehkan wajah ke kiri.

Aku penasaran siapa yang diajak bicara Ara maka kuhampiri dia yang masih memeriksa lipatan rok merahnya. Ara sedang berdiri di samping mejanya yang berdiam di baris paling belakang. Menyadari langkahku mendekat, dia mengembalikan arah muka lurus ke depan. Ara berhenti bicara.

“Kenapa Ta? Bukannya mejamu di depan?” tanya Ara kepadaku saat langkahku tinggal berjarak lima kotak lantai darinya.

Aku berhenti. Coba mencari alasan bahwa tujuanku bukan untuk menghampiri dia melainkan teman yang lain. Alasan ini tak jadi kupakai karena ternyata di deret meja kami, yang kedua dari kanan ini, hanya ada Ara dan aku. Kekawan lain sedang di luar, ini jam istirahat.

“Oh iya ya, Ra. Aku lupa tempatku di paling depan, hahaha,” jawabku kikuk ditutup tawa garing.

Otomatis aku memalingkan badan dan melangkah menjauhi Ara.

Sembari langkahku bertolak darinya, kudengar dia bicara lagi dengan angin –maksudku kawan di sebelahnya. “Awas ya, nanti-nanti kalau kau bilang rokku berantakan aku takkan tertipu lagi”.

Ara selalu berlari menyeruduk pintu kelas dan mengitari setiap deret meja kursi dengan kedua lengan tangan terangkat ke samping, menyerupai sayap pesawat terbang. Dia berlari dengan mengolengkan tangannya kekanan dan kiri bergantian. Setelah memutari setiap deret barulah dia hinggap di kursinya sendiri.

Setiap menyaksikan itu pada pagi hari sebelum jam pelajaran dimulai, aku sering terpukau. Apa rasanya memiliki teman khayalan seperti yang dipunyai Ara. Tapi aku tak pernah berani bertanya. Beberapa kali sehabis bercerita kepada ibu tentang kelakuan Ara, dia selalu bilang, mempertanyakan hal itu tidaklah sopan.

Ketika jam pelajaran olahraga atau sedang istirahat aku sering memerhatikan Ara. Dia yang selalu jalan, maksudku berlari, sendirian. Tak jarang Ara tampak murung jika tidak sedang ditemani kawan imajinya.

Suatu kali aku pernah berbaris tepat di sebelahnya ketika pelajaran olahraga. Saat melakukan serangkaian gerakan senam Jumsih (Jumat Bersih), Ara malas-malasan. Tetiba dia bicara setingkat berbisik kepadaku bahwa di depan gerbang sekolah ada bapak-bapak berjaket kulit hitam sedang mengintainya. Orang itu akan berbuat jahat, kemungkinan besar ingin menculiknya sepulang sekolah.

“Kurasa kepala sekolah akan memanggilku saat pulang sekolah nanti. Dia mengira aku yang mengempeskan ban motornya tadi pagi”. “Saat jam pelajaran terakhir aku akan membolos ke WC ya. Aku tidak akan membiarkan Obet menuduh bahwa akulah yang mengerjai Pak Usman dengan mengoles balsem di kursi guru”.

Lebih sering hanya kudengarkan dan mengangguk saja. Aku tak paham dengan cerita Ara. Karena setahuku tidak ada insiden ban motor kepala sekolah bocor atau Pak Usman yang pantatnya kepanasan karena balsem.

*****

Ara sekarang tentu tidak pernah sibuk merapikan lipatan rok seragam sekolah. Pun tak pernah berputar-putar dengan tangan terangkat ke samping sambil mendengungkan suara “ngeeeeng… ngeeeeng…”. Dia pun tidak pernah lagi kusaksikan menyeruduk pintu kelas.

Sekarang, Ara lebih sering menggesek-gesekkan ujung sepatu atau sendalnya ke tanah, aspal, con block, lumpur, atau apapun yang sedang dipijak. Beberapa belas menit sekali telapak tangannya mengusap ubun-ubun memastikan belahan rambut tak berubah.

Saat dosen sedang menerangkan materi di kelas, aku sering mendapatinya menekan rapat-rapat bibir sembari menatap ke arah tertentu. Entah ke depan, kanan, kiri, bisa menoleh atau sekadar melirik. Kalau bukan bibirnya yang dirapatkan, maka wajahnya menunduk dan Ara memejamkan mata hingga sudutnya berkerut.

“Aku selalu dan terus berusaha mengabaikannya,” ucap Ara suatu sore saat kami sedang di perpustakaan kampus. “Tapi mereka selalu muncul”.

Apapun jawaban yang kulontarkan, aku tidak pernah benar-benar menasehatinya. Aku bahkan tidak pernah mampu menalar dengan tepat apa yang dihadapi perempuan kurus berambut keriting itu.

“Pernah kudengar orang berkata, imajinasi dan fiksi membentuk lebih dari tiga perempat bagian dari kehidupan nyata kita, Ra.

Tak sedikit orang-orang eksentrik lain yang pernah menjalani seperti yang kau alami. Saat mereka memutuskan untuk berhenti mungkin ketika mereka sedang dicemooh karena tidak bisa berlari lantaran kakimu penuh dengan besi penyangga.

Mungkin saat mereka harus hadir di sekolah pada akhir pekan, dari pagi sampai siang, hanya untuk menuliskan siapakah diri mereka. Padahal, orang hanya akan melihat sebagaimana dirinya.

Mungkin pula ketika seorang guru harus keluar dari sekolah karena disangka gila. Bisa jadi itu terjadi ketika dunia memaksa merangsek untuk bercokol di hati seseorang.

Kecintaan semesta kepadamu terlihat dari sejauh mana kau bersedia menerima sosokmu sendiri dan sekitaran. Selama itu mampu kau lakukan, bersemangatlah kawan”.

*****

Kotak Sabun Kucing

Kitten bathing

KUCING termasuk jenis hewan teritori, maksud saya mereka hidup dengan menetapkan secara tegas batas-batas teritorialnya. Apabila kucing lain mulai mengusik apalagi hendak merebut wilayah pengusaannya maka si empunya pasti langsung siaga berkelahi.

Saya menyayangi mereka memang, tetapi apakah lantas sekarang ini saya sudah berubah rupa menjadi kucing?

Kotak sabun raksasa berukuran 2 x3 meter dengan dinding bata merah ini adalah teritori yang saya tetapkan dan patenkan secara tak disadari orang lain. Onggokan sekantung sampah kertas, meja komputer yang dipenuhi buku, brosur, map, dan kertas tak beraturan, tempat tidur berselimut sleeping bag, satu lemari kecil berwarna coklat, dua boneka, dan beberapa tumpukan kardus. Inilah teritorial saya.

Saya sudah pisahkan beberapa helai pakaian kotor di sudut ranjang untuk dicuci sendiri pada akhir pekan. Tapi sekembali ke rumah, ke dalam kotak sabun merah muda ini, baju kotor itu tidak ada. Kemana perginya?

Rupanya mereka sudah diterjemur rapi di halaman belakang. Kenapa? Maksud saya, siapa yang melakukannya?

Ahh.. sosok itu.

Tokoh yang tak pernah absen menyiapkan sarapan itu, diri yang tak terjangkau oleh saya itulah pelakunya. Mungkin dia tak betah melihat baju kotor di dalam kotak sabun kacau ini. Padahal, demikianlah adanya kotak sabun.. bagaimanapun tetap terasa bersih dan wangi sabun, isinya kan sabun dan hakikatnya sabun itu membersihkan.

Tapi demikianlah, saya bahkan untuk membersihkan bekas diri sendiri saja sukar. Sosok itu kembali, kembali lagi lebih dulu mencucinya. Seseorang yang terkadang mengeluarkan suara tinggi itu selalu mencucinya. Mencuci seluruh pakaian kotor yang ada. Setelah itu kelelahan, sakit, dan akan kembali mencucikan.

Bahkan, kotak sabun raksasa yang berantakan ini beberapa kali pernah dibersihkan. Niatnya pasti baik, tidak mungkin tidak, terlepas bagaimanapun caranya melakukan itu. Tapi saya menyaksikan sepulang ke rumah, tempat ini tidak saya kenali. Sejumlah hal berubah bukan karena tangan saya, kotak sabun ini menjadi kotor dan tidak wangi.

bubble bath

Debu, tumpukan barang, kertas, buku bahkan sampah membuatnya hidup. Tapi mereka tidak terserak lagi, mereka mati.

Saya cemas, bagaimana yang terjadi selanjutnya. Saya bingung, saya bingung, saya marah, saya berteriak, saya bergulat, saya duduk, berdiri, berlari, ya… saya diam.

Powerless.

Perlahan saya kembalikan semua seperti semula. Seperti seharusnya atmosfir di dalam kotak sabun ini, kumuh, usang, agar tak perlu ada siapapun melirik dan berminat memilikinya.

Kotak sabun ini teritori saya. Dari sekian ratus meter persegi rumah tinggal ini hanya ini yang hendak saya patenkan sebagai teritori, cuma 2×3 meter persegi ini saja. Sungguh.

Di sinilah tempat kucing bisa mengeong lapar, mengeong sakit, mengeong untuk bernyanyi, mengeong untuk bertanya, mengeong untuk tidur, di sini saja.

Jika kucing jantan mematenkan teritorialnya dengan mengencingi, apakah saya juga perlu? Perlu kah saya kencingi daun pintu itu dengan kalimat : restricted area ?

 -Amaranthine-

Camera 360

[ini merupakan cerita lanjutan dari Semesta Ketiga Amaranthine]

Semesta Ketiga Amaranthine

bulan-bumi-matahari
bulan-bumi-matahari

Segala yang berlangsung selama periode itu hanya melahirkan kebingungan yang semakin pekat di dalam rongga kepala. Bimbang itu serupa asap hitam yang mengepul dari cerobong pabrik dan seluruhnya terhirup olehku.

 

Otak teracuni sampai tak ada lagi dopamin maupun serotonin yang mampu lelompatan antarujung syaraf. Tumpul, karena aku tak punya lagi syaraf transmisi terpenting dalam penciptaan rasa damai dan tenang. Kini, asap pekat kebingungan berpedar menyelimuti seluruh sel dalam tengkorak.

 

Alhasil, sentral perangkat pikir tersebut melemah sampai ke level terendah. Padahal, sebelumnya terabadikan di benakku bahwa semesta ketiga sungguh indah hingga kuterantuk di batasnya. Pikirku berhenti tanpa mampu lagi menerobos.

 

Aku telah memutuskan untuk menyerahkan seluruh Jiwa dan Raga-ku kepadamu bulan. Kubaringkan keduanya di atas dipan-dipan berisi sesembahan, untuk kau serap sari patinya. Selepas prosesi pengorbanan itu langsung kutemui kafein dan membeberkan seluruh kejadian yang ada kepadanya.

 

Seperti biasa.. dia ngotot diam sembari bergelombang kecil tatkala kutiup lemah pinggirnya. Dan, aku tersenyum mendapati itu. Tapi sebelumnya, apakah kau menyukai hasil seduh gerusan bebijian hitam bernenek moyang dari Afrika Timur?

 

Tak apa jika jawabanmu nein alias no. Setidaknnya kalau ”iya”, kurasa kau tahu betapa manjur secangkir espresso untuk menemanimu menarik nafas dari lembah terendah, sembari merebahkan pantat di atas sofa. Aku ada di dalam ruangan luar biasa luas berplafon hitam dengan taburan gemintang sembari memandangi lunar.

 

Berjarak sekitar 4 meter di depanku ada seorang wanita muda berusia kisaran 24 tahun duduk berhadapan dengan laptopnya. Lubang telinga disumbat headset berkabel putih entah apa yang terputar di san,a yang pasti tatapannya fokus tak beralih dari layar laptop.

 

Tepat di meja sebelahnya, 2 orang ibu masing-masing beraut wajah Chinese dan kebatakan. Mereka duduk di kursi kayu, beda dengan aku dan si wanita muda yang bertengger di sofa. Ibu-ibu itu terlihat antusias berbincang dengan rekannya berkulit hitam asal Afrika dalam bahasa Inggris.

 

Aku tak sedang memata-matai siapapun di antara mereka, pula tak kenal asal-usulnya. Sebetulnya mataku tengah mengamati sosok bulat berwarna putih keabu-abuan nun jauh jutaan kilometer dari pelupuk mata. Bulan itu mencuat di tengah jeda antara sofa si nona dan kursi ibu-ibu.

 

Dulu, bulan hanya kulirik sekilas. Melihatnya sekelebat, memperhatikan cahaya atau bentuknya sembari mengingat kalender lantas berlalu. Tapi, mereka bilang alam beserta personil tata surya tak sekedar untuk dilirik, ada dzat yang bisa dirasai.

 

Jiwa, Raga… akhirnya, kuputuskan untuk mengembalikan kalian kepada alam, semoga seluruh sari pati kehidupan yang sempat diserap turut kembali ke sumbernya. Tenang saja, walau otakku melemah tetap ada yang tersisa kok.

 

Tidak akan sentral pikir ini rusak begitu saja karena pelemahan diri yang terjadi. Sebab, itu bisa memporak-porandakan seluruh tatanan peradaban yang kususun sejak keakraban kita di periode kehidupan lampau.

 

“Wajar jika segala yang hidup akan mati. Setidaknya itu membuat kehidupan bisa terus bermetamorfosis hingga seperti sekarang ketika orientasi tak lagi terletak pada kebutuhan melainkan want,” ujar Raga sembari meloloskan asap putih dari bara tembakau lewat mulutnya.

 

Sedangkan Jiwa baru saja meletakkan benda serupa di pinggir asbak bening—yang kala itu tergeletak tepat di tengah kami bertiga. Beberapa hari sebelumnya kau bilang padaku; sepertinya gunung emas, meski ukurannya membengkak jadi dua kali lipat, takkan cukup memuaskanku.

 

Sungguh, aku tak acuh bagaimana mula hingga bisa kutemukan jasad dan ruh itu. Yang ingin kuketahui, sebetulnya apa yang menjaga kalian tetap tegak sewaktu segalanya berangsur runtuh?

 

Entah siapa yang menjadi gurumu wahai jasad, itu bukan hal pokok bagiku. Yang lebih krusial adalah mengetahui kesediaanmu melangkah memijak bara denganku tanpa undur diri teratur.

 

Apalagi kamu si ruh. Bisakah kamu tetap tersenyum menggunakan bibir dan matamu seperti itu—sendirian dengan dirimu saja? Akankah kau sungguh tetap mengindahkan kekawanmu selagi kau kelompong?

 

Aku rampung berbicang dengan kafein dan mencurahkan rindu kepada bulan. Ia tampil bulat utuh dengan sinaran perak kekuningan. Mungkin perasaanku saja, tapi sepertinya bulan kini lebih segar. Apakah karena sari patimu yang direnggut Jiwa dan Raga?

 

Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 23.05 PM. Kumatikan layar itu lantas beranjak dari sofa—yang sekian tahun lalu sempat kami duduki.

 

Kami… aku, ruh dan jasad. Kami… aku, Jiwa, dan Raga.
*****

 

 

a half love shadow.
a half love shadow.

 

 

 

Kali ini, aku ingin bicara tentang cinta. Hal yang mungkin tak bisa kamu mengerti atau aku yang sebetulnya tak tahu apa-apa. Bisa jadi memang dasarnya pengertian kita berbeda satu sama lain. Sehingga, ketika aku ingin membawamu pulang, kau menolak. Dan sewaktu kau ingin menunjukkan sepercik energi padaku malah kau habiskan seluruh dayamu sampai lunglai.

 

Apakah kita pernah bertemu di masa yang lain sebelumnya?

 

Bagaimana jika kuterangkan bahwa periode itu terbentang mengikat kita di tempat berbeda yang terpisah lembah. Di tempatmu ramai riuh senjata berdentum, duarr duarr, membuat bocah-bocah selalu gelisah. Pada sisiku; ruas jalan masih berupa tanah, banyak senyum ramah, geliat ekonomi desa saling menjamah.

 

Bagaimana jika kusampaikan, aku mencintaimu sejak dahulu. Sejak kau masih seorang berseragam tentara Eropa sedangkan aku cuma penjual karak di pasar rakyat.

 

Mendapatimu kembali setelah reinkarnasi, itu seperti rindu yang tak ada habisnya. Sayang sekali, hanya bicara satu-satunya jembatan kita selama bercengkrama dalam semesta ketigaku. Dengan jarak lutut kurang dari semeter membuatku ingin bangkit dan memelukmu.

 

Melingkarkan tangan kanan dan kiri mengelilingi rusukmu. Mendengar apa yang berdetak teratur di baliknya. Merasai diameter dadamu di kehidupan yang sekarang. Merasai bibirmu di kening lantas turun dan bertaut dengan milikku.

 

Aku bertanya-tanya, bahasa apa yang harus kugunakan untuk menyampaikan ini? Aku tak bisa pakai dialek Perancis, Belanda, Jawa terpatah-patah, Sanskerta, Latin, dan Jermanpun hanya kutahu sedikit. Bilang padaku, lingua apa yang mesti kugunakan? Sebut Raga!

 

Kamu selalu menggunakan bahasa jiwamu sendiri. Maaf, aku tak paham. Masing-masing jiwa kita memiliki warna. Bagaimana caranya putihmu menemui biruku yang labil lantaran kerap menjelma pula menjadi ungu, merah, kuning, dan lainnya?

 

“Semua akan terpahami sesuai keinginan kita untuk melihatnya dengan cara seperti apa,” katamu Raga.

 

Ha ha ha.. apakah artinnya, aku takkan pernah bisa memberitahumu tentang cinta yang ada di kepala entah di kehidupan kini maupun periode-periode baru (yang mungkin ada) di depan?

 

*****

 

Sebutlah aku ini sok tahu lantaran begitu yakin selama kita saling bicara kau menunjukkan geliat kenyamanan atasku, Jiwa. Sebaliknya, aku terlalu hiperbol sewaktu kau dalam pola yang sama tetapi aku resah pangkat 17 karena merasa kau tak nyaman lagi padaku.

 

Akukah sumber masalahnya? Kau menggeleng, Jiwa. “Ragapun kurasa menyambutmu dengan baik. Jangan berpikir demikian,” ujarmu.

 

Namun, selalu kumantapkan dalam hati adalah jawabannya “iya” atas pertanyaan tersebut. Bagaimana mungkin orang lain mau damai bersamaku selagi dengan diri sendiri saja kurasai begitu risih?

 

Sekali lagi, aku sok tahu. Kupercayai bahwa aku mengenal dengan baik siapa diriku. Siapa lagi kalau bukan seonggok daging bertulang yang bermula dari tetesan air—yang di kehidupan masa kini cenderung lebih sering menjadi sumber kehinaan manusia.

 

Dalam periode selanjutnya, aku akan menjadi bangkai busuk yang berbaring di dalam tanah. Maka, saat ini… aku tengah berjalan bolak-balik di antara tetes air dan bangkai itu. Aku sekedar hilir mudik sembari membawa kotoran.

 

Jelaskan padaku, Jiwa, mengapa sejak fase lampau hingga sekarang selalu ada yang harus dibatasi? Setidaknya untuk rasa. Cuma seperempat bisa kusampaikan, sisanya disimpan.

 

Melepaskan Raga tak mungkin bisa terlaksana jika aku tetap menggenggamu erat hingga kau sulit bernapas, Jiwa.

[on my hands / dok. pribadi]
[on my hands / dok. pribadi]
*****

Pernahkah kau tersadar bahwa seluruh dirimu tak sekedar bermula dari aktivitas senggama orang tuamu? Adakah momen kau teringat soal beberapa periode semesta yang sempat terlalui? Atau, kau merasa sosokmu sudah ada jauh sebelum sperma bapak biologismu menghampiri sel telur ibumu?

 

Ada beberapa semesta yang kulalui, totalnya tiga. Yang terakhir itu baru saja berlalu. Awalnya semesta ketiga itu senyap, cuma terdengar gerakkan jarum jam dinding seolah terus mengingatkan tentang putaran waktu.

 

Kemudian segalanya berubah menjadi lebih merekah ketika jasad dan ruh saling sepakat untuk melangkah. Tetapi, berkat konsep waktu 1×24 jam semestaku ini terasa begitu memburu apalagi saat kudengar bermacam teriakkan orang di sekeliling.

 

“Oh my God, oh my God!!”

 

“What’s going on?! What’s wrong?!”

 

“Mommy…”

 

“Honey, I’m scare! Oh my God!”

 

Pekik para penumpang yang berada di dalam pesawat Malaysia Airlines Boeing B777-200 bersamaku menambah kesan dramatis dan mengerikan terhadap jasad dan ruh ini. Tapi, aku tak mampu melontarkan kalimat apapun, hanya mampu mencengkram sandaran lengan, mata terpejam.

 

Aku mati-matian berusaha menahan tubuh agar tetap merekat dengan sandaran kursi, tak membungkuk ke depan seiring dengan moncong pesawat yang menukik tajam menuju bumi.

 

Di dalam kegelapan tetiba bulan yang tadi kupandangi saat duduk di sudut coffee shop bandara terlihat begitu dekat dalam jangkauan. Muncul pula Jiwa sambil mengusap-usap punggung tangan berusaha melemaskan remasan jemariku. Lalu, ada Raga di hadapanku menangis sekaligus tersenyum.

 

Pada semesta yang terakhir ini kucoba untuk melepaskan segala yang tertahan. Semesta ketigaku indah sekaligus terasa gerah. Aku merasa memijak tanah tinggi dibuatnya. Sayang, setelah kuperiksa justru selama di sana aku sekedar melayang hilang pijakan.

 

Bagaimanapun, takkan bisa kupilih takdir karena dia yang berhak untuk memilih. Kalau aku menjadi pemanah maka takdir tak ubahnya embusan angin. Aku cuma bisa berupaya membidik dan melesatkan anak panah di saat paling tepat.

 

“Pada akhirnya, bukan waktu yang pisahkan kita Amaranthine… melainkan ragu yang kecilkan cinta,” bisikmu Jiwa, di suatu malam sekian ribu hari lalu.

*****

Paspor Bikin Akrab Yah

KANTOR Jurusan Jurnalistrik Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik berada di semak belakang kampus. Tentu saja bukan semak dalam arti sebenarnya.

Ruang yang dihuni para dosen jurusan jurnalistrik fakultas komunikasi Kampus Tercita IISIP Jakarta itu terdiri dari 2 lantai. Posisinya tepat di samping toilet pria yang paling terpencil di kampusku. Pokoknya, dekat halaman parkir belakang, terpencil, terasing, terisolasi. Halah

Siang menjelang sore di salah satu hari pada 2009 (kalau tidak salah ingat). Bocah kriting itu mengenakan switer dan sendal jepit memasuki ruang jurusan (andai tak salah ingat pula :p ). Ada beberapa mahasiswa lain di sana, aku salah satunya. Kami yang tak saling kenal berkumpul dalam rangka pengumuman seleksi magang untuk sebuah surat kabar olahraga.

[detil soal bocah tersebut bisa ditengok disini]

Dosen mata kuliah Penulisan Berita Olahraga dan Budaya (PBOB) menugasi kami untuk menulis berita sebaik mungkin guna diseleksi, beberapa hari sebelumnya. Siapa yang lolos berkesempatan magang, sekalian KKL (kuliah kerja lapangan), plus dapat honor.

Itulah pertama kali aku mulai berinteraksi dengan bocah penggila Harry Potter tadi (sekarang usianya sama sekali sudah nggak bocah/remaja/belia sih). Satu komentarku untuk parasnya: orang ini mukanya jawa banget dah.

Setelah itu, kami berkawan. Friend of benefit, pokoknya temenan harus cari “untung” (nama siapa yah ini? :p ). Dua kalimat terakhir becanda kok. Sebab, kayaknya aku nggak menguntungkan buat digauli juga sih.

Dia itu baik deh (sambil nahan muntah nih ngetiknya). Sekarang ia men-status-isasi dirinya sebagai the (most) quality jomblo in Jabodetabek.

“Kita akrab banget yah,” celetuknya diiringi rangkulan bernuansa nyindir sambil cengar-cengir, tatkala kami sedang menghabiskan waktu di mal. Anak nongkrong coy! (Preet)

Aku tertawa, dia juga. Hari ini, 24 Januari 2014, entah sudah berapa kali bocah bermuka Jawa yang mengaku punya kecantikan abadi itu menggerakkan telunjuknya ke depan hidung. Menekan tulang lunak di antara lubang hidungnya. Membuat indra pernapasannya berbentuk menyerupai yang dimiliki babi. Ini dilakukan berulang-ulang setiap kali habis mengucapkan hal koplak atau sekedar untuk merespon tingkah goblok yang terjadi di antara kami.

Kalau aku tak ingat betapa dia ingin diakui memiliki kecantikan abadi, pasti sudah kubilang: idungmu nggak usah digituin udah berbentuk ‘begitu’ kok.

Sekitar 12,5 jam kuhabiskan bersamanya, hari ini. Kemudian, kami berpisah di depan salah satu pintu gerbang mal tersohor di Tangerang, setelah sebelumnya dari mal yang lain. (Omaigat, cinta bener sama mal)

Kalimat celetukkan tadi memang cuma sepintas. Tapi, setelah beberapa jam sampai di rumah lantas mengingatnya kembali ada rasa yang lain. Cailah… (makin nahan muntah)

Yah, aku dan wanita -yang hari ini bersorak lantaran berhasil dapat diskon 20% saat membeli sepatu baru di Khakikhakiku- itu sempat menghilang satu sama lain. Atau, mungkin yang on-invisible-mode hanya aku saja, atau sebaliknya, entahlah. Periode invisible ini berlangsung sekitar 2,5 tahun.

[Roppan, Mal TangCity, 24 Januari 2014 / dok. pribadi]
[Roppan, Mal TangCity, 24 Januari 2014 / dok. pribadi]
Ini bukanlah pertama kali aku menghabiskan waktu dengan perempuan yang namanya serupa dengan bandar udara Negeri Sakura tersebut. I am not her best woman (obviously) >> sok ngikutin Sherlock yang disebut sebagai best man-nya Watson. Tapi, demikianlah dan… ya sudahlah.

Setiap dari kami memiliki kehidupan masing-masing, khususnya dia. Setidaknya, saya senang menyadari bahwa periode invisible mode itu perlahan semakin menjauh. I am not feeling sorry for… whatever it was. Looking back, perhaps we knew ‘this’ all along.

Kami berpisah menuju rumah masing-masing. Dia menuju rumahnya sembari mlipir menemui seseorang dulu, eeyaaa’ (aku bisa tebak namanya kan, sok misterius sih lu). Aku pulang sembari berulang kali membuang ingus (ini efek pilek, bukan karena terharu).

Sebetulnya, ‘perjalanan’ 12,5 jam hari ini bermula dari obrolan pada tengah malam sebelumnya.

Kawanku yang sangat baik hari berkenan traktir makan di Roppan ini sejak pukul 00.00 WIB (semalam) ngoceh soal perkara bikin paspor tapi nggak menghasilkan kesimpulan apapun. Hasilnya, jam 6 pagi tadi nelpon [ketika mataku masih sepet dan mimpi masih nanggung]. Oknum -yang hari ini menceramahiku soal membuka hati- itu nelpon ngasih tau mau ke kantor imigrasi Tangerang pada 7.30 WIB.

Hello world, itu kejadian jam 6.10 WIB. Setidaknya, aku butuh waktu 45 menit untuk sampai di lokasi. Belum lagi kepotong prosesi mandi, bedakan, siapin berkas, etcetera.

Pada akhirnya aku tetap nyamperin dia tersebut sih.

Aaaak, ini jelang akhir bulan man… devisa di ATM cekak ditambah mesti bayar biaya pembuatan paspor sekian ratus ribu rupiah. Huuft! [Makasi yah, oknum].

Setelah meninggalkan kantor imigrasi sejak berjam-jam lalu ada pertanyaan yang tertinggal di benak. Sebenarnya, gua bikin paspor mau ngapain dah?

Ketika sedang mengisi formulir : “Duh, ini [merujuk pada lembar pertama formulir di kolom tujuan pembuatan paspor] negara tujuan dan tujuannya diisi apa?” ujar temanku yang ngarep banget jadi selingkuhan Ryan Gosling itu.

Aku tak langsung menjawab, melempar tatapan ‘menurut el?’ terlebih dulu.

Lalu dia menjawab pertanyaannya sendiri, “Yaudah ke Singapura aja yah, mau liburan aja tulisnya”.

Dalam hatiku: mmm… mmm..

Beberapa menit kemudian setelah menyelesaikan pengisian formulir permohonan paspor, dia mengantre nomor urut. Berlanjut aku yang mengisi formulir.

Biasanya, seseorang makan karena? lapar. Oke, fine. Minum disebabkan? haus. Kalau tidur? karena ngantuk atau lelah. Mmm, aku beli sepatu baru karena ? (biasanya) lantaran kondisi sepatu lama udah nggak memadai.

Nah, hari ini… aku bikin paspor, karena? mau liputan ke luar negeri (?), mau liburan ke luar negeri (?), atau mungkin mau umroh (?).

Teetooot, nggak ada yang benar dari opsi jawaban di atas.

Aku membuat paspor karena…. karena… karena ada orang yang ngajak. (tepok jidat)

……negara tujuan SINGAPURA, permohonan pembuatan paspor untuk keperluan LIBURAN….. [I wrote the same thing].

Dengan PeDe tingkat dewa kuikuti isian formulir temanku bahwa negara tujuan lancongan adalah Negeri Singa.

Obet dan Bukit Darah Naga #2

pine forest

OBET tak bisa mengetahui dengan pasti sudah berapa lama badannya berendam di dalam Sungai Aurora. Singatnya, sewaktu akan nyemplung sorot matahari masih berwarna emas muda. Sekarang, sesaat setelah menyeruakkan kepala dari dalam air, langit nampak bernuansa emas dengan semburat oranye.

 

Sinar tersebut cuma terlihat sedikit. Letaknya di atas muara sungai yang entah ada di mana. Kini, Obet sedang menghadap ke sana. Sesaat sebelum mengubur tubuhnya lagi ke dalam air, di ujung mata kanan ia melihat hamparan awan biru keabu-abuan beriring seperti hendak menutupi matahari.

 

Pertanda, akan segera turun hujan. “Plaak,” suara telapak tangan Obet memukul permukaan air. Kesal menggumpal di dalam kepala anak itu. Ia masih ingin berenang tapi terpaksa mentas sebelum air dari langit mengguyur.

 

Selama tujuh hari terakhir Obet beranjak menjauh dari rumahnya menuju Sungai Aurora setiap sore. Awalnya, ia bertekad untuk berenang sampai ke muara tapi sejauh ini angan tersebut belum terlaksana.

 

Bukan karena tidak sanggung melainkan lantaran waktu yang dimiliki untuk menjelajah sungai berdinding tebing bebatuan itu terlalu singkat. Obet cuma bisa keluar rumah mulai pukul 5 sore dan kembali sebelum jam 7 malam.

 

Selama kurun dua jam itu, waktu yang dimiliki untuk berenang hanya 45 menit lantas harus segera pulang. Dua jam, 45 menit untuk berenang dan sisanya waktu yang dihabiskan dalam perjalanan.

 

Obet sama seperti anak-anak pada umumnya, ingin menjajal segala hal yang justru dilarang orang dewasa. Termasuk nasihat kakek agar tak pernah melewati hutan pinus ketika bulan penuh terpancang di langit.

 

“Kamu tidak pernah tahu sejahat apa isi hutan itu ketika malam. Cukuplah kamu saksikan segarnya udara di tengah hamparan pinus yang jangkung ketika sore hari,” kata kakek beberapa hari sebelum nafas terakhirnya mencelos dari paru-paru.

 

Pria tua dengan garis keriput di wajah serupa serat daging sapi setengah matang itu memang tak pernah secara jelas mewartakan soal Naga Turnal kepada Obet. Bukannya tidak pernah, mungkin saja belum sempat. Karena, kakek yang sejatinya tak pernah punya pertalian darah dengan si cucu itu keburu mati.

 

Naga Turnal.

 

Akhirnya Obet mengetahui soal makhluk itu dari orang lain. Orang yang ditemuinya di sungai ketika pertama kali nyebur ke tengah Aurora sepekan lalu. Bocah bermata bulat seperti petai itu mencoba tarik kesimpulkan bahwa larangan kakek sebetulnya merujuk kepada sosok makhluk malam tersebut.

 

Orang yang menceritakan sosok Naga Turnal adalah sosok yang dipanggilnya “kakak”. Keduanya pertama kali bertemu di bawah permukaan Aurora tatkala si “kakak” itu tenggelam.

 

Jangan pernah berpikir wujudnya menyerupai ular raksasa seperti selama ini banyak digambarkan dalam berbagai warita rakyat. Yang pasti, panjangnya melebihi pinus tertinggi yang pernah dilihat Obet di dalam hutan.

 

Matanya menyala hijau seperti daun pisang. Bentuk kepalanya seperti ular sendok dengan sungut panjang mengelilingi hingga ke leher, lebat. Sekujur tubuhnya bersisik halus seperti kadal. Permukaan sisik itu licin berwarna coklat tua seperti tanah.

 

Tanpa alasan jelas, Naga Turnal dikabarkan hanya muncul pada malam hari ketika langit cerah dan menampilkan bulan secara utuh dalam berbagai wujud, baik itu purnama, separuh, maupun sabit. Kehadirannya di dalam hutan pinus untuk mencari mangsa, kata orang, tapi sebagian lain yakin si naga ada di sana untuk tidur.

 

“Mana yang benar jadinya? Apa yang dia mangsa?” tanya Obet kepada orang yang dipanggilnnya ‘kakak’ itu. Tidak ada jawaban, hanya lonjakan bahu mengisyaratkan si penceritapun tak tahu mana yang benar. Sejak hari pertama mencapai Aurora itu Obet langsung mengurungkan niatnya berenang lebih lama.

 

Kini, Obet baru saja selesai mendaki akar beringin di dekat Sungai Aurora lantas hujan deras turun begitu saja. Ia bersungut-sungut dalam hati, merutuk kenapa hujan mesti ada. Hujan hanya membuat repot.

 

Saat ini, hujan terkutuk karena memangkas waktu mainnya. Beberapa waktu ke depan hujan itu menyebalkan karena membuat perjalanan pulang jadi lebih panjang. Di tengah hujan, Obet mesti berupaya lebih ketika melangkah. Kakinya kerap terperosok tanah becek.

 

“Arrrggh..” gumamnya sembari berusaha menarik kaki dengan kedua tangah dari dalam bubur tanah yang tak sengaja terinjak.

 

Semakin berusaha menarik kaki kanannya maka pijakan kaki kiri kian dalam. Serba salah bocah itu. Setelah berhasil mengeluarkan telapak kaki kanan, dia segera mencari titik pijak terdekat yang tanahnya lebih padat.

 

Awan mendung berwarna abu ditambah guyuran hujan membuat pandangan lebih buram sehingga pekerjaan mudah macam itu terasa lebih merepotkan. Belum sempat berdiri tegak, kini giliran kaki terperosok lebih dalam hingga Obet jatuh. Sekujur tubuhnya bersimbah tanah basah.

 

“Ssssrrrrkkkh,” Obet spontan menoleh ke belakang. Sepertinya barusan terdengar suara sesuatu menyeruak di antara semak. Tapi yang terlihat hanya kabut dan air hujan yang meluncur seperti garis.

 

Hatinya kedatangan perasaan lain selain kesal, yakni takut dan…curiga. Obet mempercepat bangkitnya dan segera melanjutkan perjalanan dengan setengah berlari.

 

Sungguh hujan membuat segalanya semakin kacau. Ribuan kiloliter air dari langit ini hanya menyenangkan ketika sedang terlindung darinya. Menenangkan, sewaktu hanya mendengarkan rintiknya yang menhantam atap rumah saat sedang telentang di atas pembaringan.

 

Berkali-kali Obet mengerjapkan mata, mengusap air hujan yang menetes dari ubun-ubun ke alis. “Sssrrrrkh,” sekali lagi suara itu sekelebat terdengar dari belakang di antara riuh air hujan yang menghantam bebatuan, tanah, dan daun.

 

Obet kepikiran soal Naga Turnal. Larinya semakin kencang, terasa seperti ada yang menguntit di belakang.

hening dalam bising

MEMANDANGI layar komputer untuk membaca teks dalam rupa electronic paper mungkin menyenangkan bagi sebagian orang, tapi tidak untuk saya.

Pada dasarnya, menyenangkan atau tidak adalah pilihan.

Beberapa malam lalu saya memutuskan untuk perlahan mengikuti alur tuturan dalam kertas elektronik tersebut. Ah… migrain kumat, mata sepet. Hahaha

Tapi, dari “ke-sepet-an” mata saya mendapati beberapa runut kalimat yang… entahlah apa padanan katanya.

Begini si penulis menuturkan* :

Kokok ayam jantan inilah yang menggugah para burung yang tadinya diselimuti kegelapan malam, menyembunyikan muka ke bawah selimut tebal dan hangat dari sayap mereka, kini terjadilah gerakan-gerakan hidup di setiap pohon besar dan terdengar kicau burung yang sahut-menyahut, bermacam suaranya, bersaing indah dan ramai namun kesemuanya memiliki kermerduan yang khas. Sukar bagi telinga untuk menentukan mana yang lebih indah, karena suara yang bersahut-sahutan itu merupakan kesatuan seperangkat alat musik yang dibunyikan bersama. Yang ada pada telinga hanya indah! Sukar dikatakan mana yang lebih indah, suara burung-burung itu sendiri ataukah keheningan kosong yang terdapat di antara jarak suara-suara itu.

 

hening (pada telinga) di tengah bising (debur laut). [dok. pribadi/West Madura Offshore, 2013]
hening (pada telinga) di tengah bising (debur laut). [dok. pribadi/West Madura Offshore, 2013]

Dari penelurusan yang baru beberapa langkah, saya katakan kepada kawan, “makna ceritanya bersayap. ya nggak sih?”.

“Filsafat pasti bersayap,” jawab kawan. “Kepenuhan dalam keheningan, ya. Isi dalam kehampaan. Kenyataan dari ketidakadaan”.

Kutimpali, “hening dalam bising. Remember that”.

*Novel Bu Kek Siansu karya Kho Ping Hoo.

Obet dan Bukit Darah Naga #1

riverside-caravan-park-the-river-blackwater-from-the-bank-at-riverside-campsite

 

 

PEMANDANGAN di sekeliling sungai Aurora menampakkan gradasi dari hijau muda ke tua. Bukan cuma padang rerumput nan subur terbentang layaknya permadani, tapi seluruh sudut juga dipenuhi pepohonan rindang.

 

Sungai Aurora terletak di selatan Bukit Darah Naga. Untuk mencapainya, dari balik bukit kau harus jalan ke arah selatan sekitar 500 meter. Nanti akan kau temui turunan curam berkemiringan 90 derajat. Jalan terdekat menuju sungai dengan cara menyusuri turunan ini. Tapi jangan gegabah langsung menginjak turunan itu jika tak mau terperosok sebab tanahnya terlalu gembur sehingga sulit dipijak.

 

Jika sudah sampai di turunan tersebut coba kau tengok ke kanan dan berjalanlah 20 meter ke depan. Kau akan menemui pohon beringin raksasa. Akarnya menghujam dan ada bagian yang menyembul ke atas tanah secara teratur sampai ke bawah turunan tadi. Pijaklah setiap undakan akar Beringin itu hingga kau sampai ke bawah.

 

Tunggu dulu, walau sudah tiba di bawah kau belum langsung menemui Aurora. Sebab, sungai ini tersembunyi di balik jajaran pinus yang menjulang lebih dari 20 meter di atas lahan sehektar. Terabaslah hutan pinus itu.

 

Dan inilah… sungai Aurora yang kerap diceritakan kakek. Walau lumayan jauh dari rumah tapi, katanya, dia hampir tak pernah absen untuk singgah dan bermain dengan riak-riaknya. Aku paham apa alasannya, apa istimewanya sungai ini sehingga kakek keranjingan main kemari.

 

Nafasku lumayan tersengal setelah berjalan untuk mencapai bantaran sungai yang berpagar tebing-tebing rimbun dedaunan.

 

Baiklah, aku tak sabar merasai air di bawah sana. Kacamata air, lampu dahi, pipa untuk membantu bernapas, celana pendek, dan kaos yang ketat di tubuh sudah melekat dengan baik di tempatnya masing-masing. Kurapikan jeda nafas sembari melongok sekali lagi ke permukaan sungai delapan meter di bawahku. Berancang-ancang untuk lompat.

 

Satu… dua… tiga… byurrr!

 

****

 

Begitulah Obet akhirnya menunaikan penasaran untuk mencicip dinginnya air sungai sedalam sekitar 10 meter itu. Kakeknya kerap menceritakan sensai loncat dari tebing setinggi 8 meter di sekeliling sungai dengan mendahulukan ubun-ubun menembus permukaannya. Dan akhirnya merasakan sesumbar si Kakek.

 

Kacamata renang dan lampu dahi membantu Obet melihat dengan jelas suasana di bawah permukaan. Ratusan ikan berkeliaran dalam berbagai warna, bentuk, ukuran, jenis. Ada yang berkelompok ada pula yang menyendiri. Ada yang seketika kabur mendapati sosok asing (baca: manusia) muncul, tapi ada juga justru tak segan mendekat.

 

Bebatuan sungai bergeming memecah arus sembari terselimuti lumut. Obet menarik napas dalam-dalam sebelum mencabut pipa alat bantu pernapasan agar bisa menyelam lebih mendasar.

 

Kini dia tahu, dasar sungai Aurora yang nampak dari atas sekedar bening menembus bebatuan dan karang, ternyata di dalamnya jauh lebih menarik. “Wooww…” gumam bocah berumur 7 tahun itu dalam hati.

 

Obet meloloskan sedikit oksigen yang tertampung di rongga mulut sehingga memunculkan gelembung udara. Ia menatap lebih seksama beberapa meter ke bawah sana. Wah, ada sosok bertelanjang dada tanpa kacamata renang atau perlengkapan menyelam lain. “Hebatnya!” batin Obet.

 

Dia coba mendekati sosok yang semakin dalam menyelam itu. Sayangnya, napas Obet mulai tersengal, pandangan semakin remang, dan lampu dahi kian terang. Penyelam di depan sana sadar ada Obet di atasnya dan mereka saling berlambai tangan.

 

Pria bertelanjang dada itu semakin turun ke bawah, Obet hendak mengikuti tapi napasnya tak mengizinkan. Dia memutuskan kembali ke permukaan.

 

Obet berusaha memperbaiki ritme jeda napasnya sembari memanjat tebing terendah yang mampu tergapai. Sekitar 10 menit kemudian sosok penyelam tak berperalatan tadi menyusul. Mereka duduk berdampingan sembari cengar-cengir dengan tatapan bingung satu sama lain.

 

“Kak, kakak hebat sekali!,” akhirnya Obet memecah momen saling tatap itu. “Untuk sampai separuh dalamnya sungai itu, saya harus pakai beberapa perlengkapan. Tapi kakak tidak menggunakan apa-apa. Hebat sekali? Luar biasa! Bagaimana caranya kak?”.

 

Sosok yang dipanggil “kakak” itu menggeser pantatnya lebih dekat. Kini, Obet bisa merasakan orang tersebut masih terus-menerus berusaha mengatur napasnya, dadanya naik turun, napasnya dibantu rongga mulut.

 

Si Kakak memegang bahu lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Obet. Sekuat tenaga dia berteriak tapi yang terdengar hanya lirih, “Saya tenggelam dek!”

 

 

 

 

Robekan Kertas dan Aku #3

DSCF0308

TIBALAH malam ini, sekarang, ketika aku kembali menyalakan netbook untuk mengetik sesuatu. Melanjutkan obrolan kita dalam perjalanan menuju Jakarta, Selasa pagi lalu.

“…sebetulnya aku sudah membuat surat resign. Tapi aku nggak tau, perlukah itu disampaikan atau nggak,” kira-kira begitu runut kalimatmu ya Kellana. Maaf kalau kurang tepat, hehe.

Bingung ya… [simak robekan kertas dan aku#2 disini]

Kekhawatiran kamu mengenai kelanjutan perjalananmu itu membawa aku ke dalam satu proses turut-coba-berpikir. Aku mencoba menyelam ke dalam perasaan seperti yang ada di benakmu.

Menyelam, bukan tenggelam. Mungkin kegusaran kamu tentang ini dalamnya ribuan meter. Tapi, sekali lagi… aku menyelam. Tentu, ada batas-batas kedalaman. Mungkin penyelamanku baru semeter di bawah permukaan perasaan kamu, bisa jadi belasan meter, puluhan meter, ratusan meter. Atau jangan-jangan, sebetulnya aku cuma mengamati dari atas perahu(?).

Dalam metode survei untuk pembuatan skripsi (misalnya) ada banyak variabel. Minat, persepsi, harapan, pemahaman, dan sebagainya termasuk rangsangan dan tanggapan. Ah, tentunya aku nggak bermaksud untuk membahas metode survei (karena pahamnya cuma sebatas itu doang, hehe).

Tapi ini tentang dua variabel terakhir yang aku sebutkan, rangsangan dan tanggapan. Kamu mendapat berbagai rangsangan dari eksistensimu di tengah-tengah korporasi itu. Soal ritme kerja di sana, suasana sosial-pertemanan yang ada, bingkai kaca mata yang dipakai, hingga impuls berupa pundi-pundi rupiah yang membantumu membiayai hidup.

Sebelumnya, aku mau cerita lagi tentang penyelamanku.  Menyelam, bukan tenggelam…

Apa bedanya ya?

Kamu mungkin jauh lebih paham perbedaannya. Tapi, boleh ya aku yang sok tahu kali ini hehe.

Kesadaran, sepertinya ini pembeda paling dasar antara penyelam dengan seseorang yang tenggelam. Ketika kusebut “menyelam” artinya secara sadar aku melakukan penyelaman. Untuk itu, aku siapkan segala peralatan yang dibutuhkan; baju renang dengan bahan terbaik, kaca mata dan senter bawah air kualitas baik, sepatu katak yang pas dikakiku, dan pastinya tabung oksigen yang cukup.

Tapi… kalau aku tenggelam, maka aku “lalai”.

Udah lama banget aku pernah ikut di suatu acara dan ada sesi motivasi di sana. Pokoknya aku (dan audiens lain) diminta mengikuti instruksi si pembicara. “Sekarang, tolong pegang hidung kalian,” kata pembicara itu.

Tapi banyak yang justru memegang jidatnya (aku lupa aku termasuk yang pegang jidat atau nggak). Kenapa? Karena sewaktu pembicara memberi aba-aba “pegang hidung”, tapi dia malah menempelkan tangan ke kening.

Hahaha, koplak!

Sering banget (aku juga termasuk, pastinya), kita terhalang dari pesan-pesan dasar, pesan sejati. Gegara terlalu sibuk memperhatikan pemandangan  di sekitar. Bukan fokus pada aba-aba melainkan pada contoh yang nampak. Jadilah, kuping kalah dari mata!

Aku kerap lebih fokus pada kemasan rangsangan yang datang lantas lalai untuk menyiapkan dan mengeksekusi tanggapan.

Ternyata kesadaran ini jadi modal utama ya Kellana; untuk menangkap berbagai rangsangan yang datang menjadi tanggapan nyata.

Nah, di antara rangsang dan tanggapan itulah terdapat pilihan-pilihan. Ada yang bilang begini, “Itulah gunanya misteri takdir. Agar kita memilih di antara bermacam tawaran”. *eaaaak…!

Untuk Kellana, kamu berhak memenggal semua karirmu kini terputuslah semua kegerahan terhadap bingkai kaca mata yang dipakai korporasi itu. Tapi, ada kemudahan melalui aktivitasmu berkerja di sana tohto finance yourself.

Bukan tanpa resiko. Tapi bukankah kita memang selalu berkelana dalam pilihan-pilihan, dan itu butuh keberanian? (ingatkan aku soal ini juga yah kalau suatu ketika aku lupa).

Keberanian ada di mana yak? Yang pasti bukan di laman-laman kaskus,bukan di kandang hammy, bukan di tangki bensin ega. Bisa jadi keberanian itu bukan dicari, tapi disadari lantas dilakukan. (aseeekkkk, aku udah kayak orang bener aja yak)

Doa. Ini nih yang katanya paling mujarab. Katanyaaa…mbuh kata si-apa.

Pernah ada yang bilang, “padahal doa itu cuma salah satu tahapan aja,sebagai bentuk kepasrahan kepada apa yang dipilihkan Sang Dzat yang Maha-segala itu untuk kebaikan kita. Untuk nafas kita di dunia, dan setelahnya. Doa, dimulai jauuuh sebelum itu”.

Jauh banget kayaknya, dari mana emang? “dari acceptance, dari setiap langkah menjaga kemurnian ikhtiar (baca: upaya) kita, dan dari kepekaan menjaga hubungan baik dengan Sang Dzat itu sendiri”.

Ini jalanmu, di jalan ini tapak pertama haruslah VISI. Ah, aku mau ngutipomongan orang lagi nih (soalnya ilmuku belum nyampe) :

…tapak pertama visi, agar aku tak lagi tertidur lelap tapi bangkit terjaga. Agar aku tak lagi tertunduk sayu, tapi tegak terpancang. Agar cintaku tak lagi terpejam sendu, tapi tajam terpancar. Agar aku tak menyipit silau, tapi menatap lekat. Agar aku tak memandang serampang, tapi menelisik jeli.

Einstein kalau nggak salah pernah bilang, “…dan visi jauh lebih penting dari pengetahuan”. Sebab, katanya sih pengetahuan itu lebih bersifat lampau dan terbatas gitu deh. Sedangkan visi, ibaratnya visi itu masa depan yang nggakterbatas. Dia [visi] lebih besar dari sejarah, lebih besar daripada beban kita, lebih besar dari luka emosi kita yang udah lalu.

Jadi ingat jamannya sekolah. Setiap tahun pasti ada musim pemilu ketua OSIS. Semua calon kandidat pasti menyampaikan visi-misinya. Yaah, kenyataannya visi dibutuhkan. Ini sangat membantu kita membangun gambaran ideal dalam perspektif jangka panjang.

Dari semua obrolan kita tentang perubahan iklim yang dahsyat banget (plus mengkhawatirkan), tentang pergerakan bawah tanah orang-orang cerdas-tangkas nun jauh di balik korporasi-korporasi besar (baca: zionis/koruptor/pelanggaran HAM dsb), tentang banyak deh!

Masa’ mau kayak Soe Hok Gie yang lebih rela diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan?

Kalau memang kelak harus berhadapan dengan “musuh” ya hadapi. Pakai cinta, eaaak. Cinta kan bukan sekedar pelukan hangat, belaian lembut, atau kata-kata unyu. Kata yang ilmunya pada lebih tinggi dari aku, cinta itu bisa dipelajari dari apapun yang ada di bumi termasuk dari kebencian musuh, irinya lawan, dari ketidaktahuan penipu, termasuk dari lihainya pikiran si-munafik.

Kellana yang baik, seperti kita tau di antara rangsangan dan tanggapan itu ada pilihan, menyelam bukan tenggelam, sadari jangan terlena dalam lalai. Pertimbangkan lantas melompat, berpikir di luar kotak untuk antisipasi masa depan.

Sepertinya kita (atau sebetulnya aku aja sih) butuh lebih banyak “halte” untuk singgah, untuk berhenti sebentar dan mengingat sembari menyusun ulang si-visi itu supaya nggak nyasar.

Maka kamu, harus terus menuju mimpi-bertanggalmu (baca: cita-cita)! Tuh… dia masih ngejogrok di depan sana. Harus tetap menuju ke sana, biarpun sembari merangkak, tersandung, terpeleset.

Ibaratnya sopir bajai atau kopaja, ada aja celah untuk ngeles. Akan selalu ada alasan bagi kita untuk berhenti; perjalanan yang sulit, bekal sedikit, jarak selangit.

Di lautan nikmat, dua mahkluk terpisah. Yang satu tenggelam, yang satu menyelam. Kau tahu apa bedanya?

-Tangerang, Kamis (14/11/2013) 01.23 dinihari.-