Diri

  ADA banyak wajah yang terlihat di setiap tapak lurus, berkelok, menanjak, menurun, hingga tikungan. Ada banyak suara yang terdengar di setiap ruang, lubang, terowongan, hingga celah. Ada banyak aroma yang tercium di setiap tumpukan, sudut, hamparan, hingga kubangan. Ada banyak nama yang teringat di setiap pertemuan, pembicaraan, kehidupan, hingga masa. Beberapa janji terbiarkan tak […]

Bicara pada biji kopi

SAYA berharap bisa menahan putaran detik, memutarnya balik ke sekian jam lalu. Menyiapkan diri dan mengantisipasi apa yang ternyata akan saya alami di jam-jam sekarang.

Saya berharap semua berubah menjadi lebih hening sehingga earphone tak perlu dipasang pada volume teratas. Musik terdengar lebih sayup dan semuanya menjadi lebih nikmat di telinga.

Saya berharap ada tiga liter kopi dan semua bisa saya habiskan seketika.

Saya berharap dia hilang, seterusnya, mereka hilang, pergi, tidak pernah muncul lagi, tidak terdengar kabarnya lagi, dan semua menjadi lebih baik. Atau tidak sama sekali? Kalau detik memang bisa dikembalikan, akan saya putar ke tiga tahun lalu agar tak ada yang terjadi di sini.

Saya berharap dia hadir entah bagaimana caranya tanpa terkait dengan dia, tanpa melalui tapi ada. Saya mengenalnya, berbicara, berkelakar, bersenda, bergurau, berkawan tanpa embel-embel dia. Tanpa lewat pintunya.

Saya berharap dia ditelan bumi, menghilang, enyah, lebur, luruh, dan tidak pernah menorehkan senyum maupun nanar dalam bentuk apapun.

Saya berharap saya tidak pernah menulis apapun, hilang, selesai.

Notasi Detik [selesai]

Ini bukan tentang lelah, lebih kepada kepalamu.

 

…yang lalu tak menyoal senyum melainkan matamu.

 

Kalau mengenai air mata?

Tidak juga, tapi soal bilamana lidah dan bibir menahan diri.

 

Ada yang harus dibatasi setidaknya untuk rasa.

Sebagian laininya disimpan, seperlunya disampaikan.

 

Jangan pikirkan tentang hak milik paling tidak pernah berjumpa, itu cukup.

Jalannya bukan untuk diiringi, doakan saja.

 

Bukan keberatan yang terasa melainkan alunan not detik… berdetik…

Melodinya seperti notasi ringan, seringan ia muncul dikepalaku.

 

 

Demikianlah

Namamu bukan lagi penyemangat.
Nafasmu tak terasa hangat.

Sapamu terdengar memekakan.
Bahkan, senyummu tak menyenangkan.

Bisulku pecah. Aaahhh, nanah… sepertinya berdarah.

Ingatan tak lagi berbalut sinaran warna-warni.
Perbincangan bukan tentang kekuatan saling membersamai.

Langkah mulai berjarak.
Luka tak terbalut perban, justru tertuang arak.

Nuansamu kini sephia. Senyawa di tengah kita cuma alfa.

Demikianlah.

malam, purnama, dan…

Malam..
Hukum ilmu pengetahuan terhebat di jagat
Membuktikan gelapmu tak selalu hebat
Namun, siapa kira dapat menyungkurkan siapapun yang dahsyat
Kemudian tawa menjadi sunyi dan luka pun terbebat.

Kelak, saat manusia bermuara dalam kubangan mahsyar.
Tanpa perlu kukisahkan.. daftar dosaku bakal terpampang.

Ada dia, dia, dia, dia.. beberapa yang menemaniku mengulik kesalahan hidup.
Pun ada dia..

Malam, bolehkah aku saja yang merana?
Biarkan dia, dia, dia itu termaafkan.
Malam, datanglah bersama purnama.
Tebarkan gelapmu agar tak nampak aku yang pesakitan.

tuan tanpa huruf besar

dua tahun, sekitar itu lama yang kuperlukan untuk beranjak dari masa yang kini menjadi lalu. mengupayakan apa yang dinamakan dengan pertemanan, sebut saja begitu kalau belum tepat dinamakan sahabat. merajut apa yang menjadi ikrar untuk mencinta.

hingga akhirnya aku tau perkawanan itu mencinta, entah seperti apa yang mereka rajut. aku menyelam lalu tenggelam, nyaris sampai ke dalam. kemudian, pada malam itu segala yang ada terbuka.

aku beranjak, benar-benar menjauh, enyah, lelah. kemudian ia mengetuk usai merampungkan tugasnya di rumah kawan. betulkah kau datang untukku? tapi maaf, tak ada bagian rumahku yang perlu kau perbaiki tuan…

berdenyut-denyut dug, dug, dug. terketuk, tok, tok tok, lalu masuk.

kau bilang rumahku bagus, yang meminta izin untuk tinggal. baik sekali kau tuan datang ke lubuk tak bernyawa macam ini — yang kusebut rumah.

kamu… akh… maksudku tuan. aku tak bisa lanjutkan ini lagi. karna hingga kini tuan di sini, menemani, mewarni, mempelajari, memahami… aku.

Apa yang Dulu Mungkin…

Hhff… Sepertinya malam ini pernah aku bayangkan. Berdiam di atas kursi besi mengilatkan pantul lampu temaram, mematung menghayati tembang dalam kotak mini elektronik, dan tersenyum.

Malam ini tetap terjadi. Terduduk di kursi pipa besi di pinggir lintas kereta listrik, tak henti menelisik pikir apa yang terjadi di sini.

Aku bukan pengeluh, aku bukan budak cengeng, atau si pesimis yang merana takut tak berkawan. Iya itu bukan aku, dulu.. Karena kini yang muncul adalah si bukan yang mengaku aku.

Aku bertransformasi menjadi punguk yang begitu takut kehilangan dia hingga mengacaukan sampai pada syaraf logis terkecilku. Astaga, aku bukannya kehilangan siapa aku. Tapi aku terperangkap dalam keakuan gadis remaja yang tak mau kawan terdekatnya pergi hanya karena diien kami berbeda. Harusnya ini aku alami ketika aku masih remaja.

Terlambat, ya.. aku terlambat dalam memasuki fase ini.

In My Memoriam

(Netbook di sudut kamar mulai memperdengarkan alunan Winamp. aku, dengan pakaian tidur, menuju sudut kamar lain. kandang jeruji besi berdiri di sana. kutatap lekat-lekat makhluk-makhluk kecil tengah berlarian didalamnya. Dan berkumandanglah lagu itu…)

Air Supply – I’m all out of love : ‘it would make me believe what tomorrow could bring. when today doesn’t really know, doesn’t really know’… I’m all out of love, I’m so lost without you. I know you were right believing for so long. I’m all out of love, what am I without you. I can’t be too late to say that I was so wrong.

—-

Aku tahu diriku sangat kreatif. the most creative girl in town! buktinya pencarian nama untukmu mampu kuselesaikan hanya dalam hitungan menit. yup, ‘item’. demikianlah aku memanggilmu. tahu kenapa? karena bulu kamu hitam. kreatif abis kan?

Kamu si item yang baik, penurut, aktif, nggak caper (cari perhatian) dan bukan pemilih makanan. bahkan kamu pemaaf sekali Tem. aku lupa detail  waktu saat pertama kali kita ketemu, aku juga nggak tahu tanggal lahir serta usia pastimu, dan.. kamu tetap nggak pernah marah karena itu. kamu memaafkan aku sebelum aku memintanya. makasi ya Tem.

Kalau sedang kesepian di kosan kamu bakal segera naik ke roda putar. berlari disitu sampai putaran roda tersebut berderit keras dan menimbulkan kegaduhan. seketika aku nggak kesepian lagi. (tenagamu memang seperti kuda kalau sedang lari)

Sebagai orang tua semestinya aku dapat bersikap demokratis ya Tem. maaf aku nggak bisa bersikap demikian terhadap kamu. maaf Item…

Tapi percayalah, Sibaru adalah sosok pria paling kece yang menurutku pas buatmu. pertama kali bertemu Sibaru dia terlihat cool, nggak bawel, nggak ribet, dan agaknya pria itu penyabar. mungkin kamu merasa Sibaru bukan tipe kamu banget. tapi toh kamu pun tetap nggak protes dan berusaha menerima dia dengan lapang dada. (eniwei, Sibaru lumayan ganteng kan?)

Lagi-lagi aku mau bilang maaf (macam Mpok Minah) atas sikapku yang mempertemukan kamu dengan Sibaru nggak disaat yang tepat. aku nggak akan memaksa kamu harus menerima Sibaru ko Tem. kalau kamu nggak suka, aku pasti arikan laki-laki lain. (kok kayaknya kamu seperti wanita haus belaian lelaki ya?)

Perkenalan dan kebersamaan itu seiring waktu, meski kamu awalnya nggak terlalu nyaman dengan kehadiran Sibaru, tapi kamu belajar untuk menerimanya. (aku tau ini dari diarymu). Dan kesabaran Sibaru serta ketulusanmu akhirnya menumbuhkan benih cinta itu. (bahasaku mulai seperti sinetron Tersandung ya?)

Sibaru yang baik. pria bermata-hitam-biji-gundu itu terbukti memang sosok bertanggungjawab. hingga tiba saat persalinan pertamamu. Sibaru menemanimu terus. (mungkin dia merasa bertanggung jawab karena kamu hamil atas ‘sodokan’nya)

Kamu berhasil membesarkan Jawa, Arab, Bule, Ernesta, dan Isabel dengan baik. kemudian lahirlah Azis dan Nunung yang kamu rawat dengan api pula. semuanya dapat ASI eksklusif.

Hingga tiba saat itu.  seminggu setelah kamu melahirkan Cerybel, 7icon, Smash, Gooliath, Juliet, dan si kecil (aku lupa namanya), si kecil…. (Duh siapa ya), si kecil (Oº°˚˚°ºooHh iya!) Suju. Kamu seketika terkulai lemas, tak membuka mata, hanya bernafas. Ya, kamu cuma bernafas. (aku mulai nyeka air mata).

Tanpa sakit apa-apa kamu seketika saja koma. dan keesokan malamnya peristiwa itu pun terjadi: aku meninggalkanmu sendiri dalam liang lahat di taman seberang kampus. (mewek)

Keenam anakmu yang masih kecil itu mewarisi survival mechanism-mu Tem. Sejak kepergianmu mereka tak lantas terpuruk. Melainkan tetap bertahan, hingga kini. namun lima hari setelah kamu pergi, Sibaru pria-bermata-hitam-biji-gundu itu pun meninggalkanku. Ia menyusulmu.

Sibaru wafat dalam diam. maaf Tem tak kumakamkan Sibaru disampingmu, melainkan kuhanyutkan ia di sungai depan kampus.

Item, Sibaru, kalian selalu dalam kenangan. (Tersanjung mode on)–> ‘kesabaran dan keikhlasan kalian mengajariku agar bersikap demikian pula dalam menghadapi kepergian kalian’. semua anak-anak kalian (cucuku) hingga kini sehat. mungkin tak lama lagi kalian akan punya cucu dan berarti untukku itu cicit.

Item, Sibaru… terimakasih karena kalian banyak meninggalkan kenangan manis (dan pait), suka (dan duka pastinya), serta hal-hal indah (plus yang asem) lainnya.  Terimakasih.

this is for (in memoriam) my both beloved hamster, Item dan Sibaru.

Item sedang makan