Kekang

Ada adab untuk akhlak.

Ada hukum untuk tindak.

Tapi jangan kau rasai ini kekang dalam gerak.

Advertisements

Jalan Cinta Para Pejuang

di sana, ada cita dan tujuan yang membuatmmu menatap jauh ke depan

di kala malam begitu pekat dan mata sebaiknya dipejam saja, cintamu masih lincah melesat jauh melampaui ruang dan masa, kelananya menjejakkan mimpi-mimpi

 

lalu di sepertiga malam terakhir engkau terjaga, sadar, dan memilih menyalakan lampu, melanjutkan mimpi indah yang belum selesai dengan cita yang besar, tinggi, dan bening…

dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kata kerja

dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali

dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati

 

teruslah melanglang di jalan cinta para pejuang

menebar kebajikan, menghentikan kebiadapan, menyeru kepada iman

walau duri merantaskan kaki, walau kerikil mencacah telapak

sampai engkau lelah, sampai engkau payah, sampai keringat dan darah tumpah

-Salim A. Fillah-

 

“PHP” Kepada Profesor

PHP . Istilah ini mungkin tidak asing di telinga kita. Pikiran langsung tertuju kepada sosok pria atau wanita yang kerap mengumbar cinta dan janji kepada lawan jenis.

Tulisan ini memang soal PHP tetapi bukan pemberi harapan palsu, melainkan pemerintah harap perhatian. Subjeknya Pemerintah Kota Tangerang sedangkan objek ialah seorang pegawai honorer di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Rawa Kucing yang dijuluki si profesor.

 DSC_0898

Hamidi nama aslinya, sebutlah Prof. Hamidi. Pria berjuluk profesor ini sama sekali tak punya gelar akademis setingkat profesor. Tapi dari gagasannya, nama Kota Tangerang bisa harum berkat serangkaian riset yang berhasil menciptakan bahan bakar minyak berbasis sampah plastik.

“Awal mula melakukan percobaan ini pada 2008, tetapi masih gagal terus. Mulanya hasilnya masih minyak mentah yang keruh,” katanya saat berbincang dengan saya di salah satu bilik di TPA Rawa Kucing, Kota Tangerang.

Keingintahuan dan keisengan itu awalnya di lakukan di rumah. Percobaan demi percobaan untuk menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) setara premium dan solar dari sampah plastik maupun sayur dan buah diseriusi total sejak akhir 2014.

Kegiatan itulah yang membawa Hamidi akhirnya gabung dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Tangerang, khususnya TPA Rawa Kucing. Dia menerima resmi ajakan joint dari pemkot pada April 2015 karena penasaran bakal sejauh mana pemerintah mau membantu.

Bagi pria ramping berkaca mata itu temuannya layak diapresiasi serius oleh Pemkot Tangerang bahkan kalau perlu pemerintah pusat. Keberhasilan menghasilkan bensin daur ulang dari sampah plastik bisa bikin kota ini, bahkan Indonesia, lebih mandiri dalam pemenuhan kebutuhan BBM.

Berdasarkan catatan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) realisasi penyaluran bahan bakar minyak (BBM) solar bersubsidi selama semester  pertama tahun ini sejumlah 6,95 juta kiloliter (kl). Adapun kuota solar bersubsidi dalam pagu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015 dialokasikan 17,05 juta kiloliter atau baru terealisasi 41%.

Kuota bahan bakar minyak bersubsidi pada tahun ini turun dari 46 juta kiloliter menjadi 17, 85 juta kiloliter setelah pemerintah mencabut subsidi premium per 1 Januari 2015 atau turun 61,19%. Perinciannya, kuota solar dan minyak tanah masing-masing sebanyak 17,05 juta KL dan 0,85 juta KL.

“Kalau berpikir secara ekonomi, ini akan sanngat menguntungkan karena bahan bakunya murah bahkan gratis cuma sampah. Ini bernilai tambah tinggi,” tutur Hamidi.

Kenyataan yang ada belum menunjukkan sikap antusias berarti dari pemerintah. Peran dia di jajaran pemerintahan Kota Benteng saja, ibaratnya,  cuma remah-remah kerupuk. Laboratorium, alias ruang kerja tempatnya mangkal, hanya bilik triplex 3 x 4 meter yang pengap.

Pada tahun lalu, Hamidi bercerita, dia menemui wali kota membawa proposal tentang riset bensin daur ulangnya. Kala itu dia sembari membawa bukti, ada beberapa sampel berupa bahan bakar setara minyak tanah, solar dan premium hasil mesin daur ulang plastik buatannya.

Wali Kota Tangerang, imbuh dia, tampak antusias dengan temuan tersebut. Proposal tersebut selanjutnya diarahkan ke meja DKP.

Opsi yang muncul dua, pertama, pemkot memberikan bantuan sekali lantas selesai atau, kedua, Hamidi gabung dengan DKP untuk mendalami studinya. Penuh prasangka baik, walhasil tawaran kedua yang diambil.

Hamidi mengklaim dari 100% ilmu memroduksi BBM berbasis sampah plastik sekitar 80% dia kuasai. Dari satu proses produksi bahkan dia tahu bagaimana agar hasil akhir lebih banyak mengeluarkan solar, premium atau minyak tanah.

Sedikit banyak dia menjelaskan kepada Bisnis perincian proses produksi. Mulai dari jumlah sampah plastik yang dibutuhkan, sistem pengapian, cara kerja mesin, sampai hasil akhir. Tapi Hamidi enggan hal ini diekspos tetapi dipastikan harga ecernya tak lebih mahal dari Rp5.000 per liter.

Alasannya? Dia menjawab, “Sekarang saya tanya, saya cuma tenaga honorer, layakkan hal seperti ini saya keluarkan? Apalagi temuan ini berguna sampai anak cucu kita”. Mungkin bukan hanya sampai cicit tetapi hingga dunia berakhir karena sampah tidak akan habis.

Oleh karena itu jika menemuinya sekilas di TPA Rawa Kucing tidak akan ditemukan rangkaian mesin apapun yang sedang beroperasi mengolah sampah plastik jadi bensin. Di sana Hamidi hanya berkenan menjalankan riset daur ulang sampah sayur jadi BBM.

Hamidi menjelaskan alasan temuannya layak diapresiasi lebih serius oleh pemkot karena bahan bakar yang dia hasilkan sudah bening dan nyaris layak dipakai pada kendaraan. Bensin daur ulang dari sampah plastiknya hanya perlu dipoles sejengkal lagi tetapi dia sengaja menahan diri.

“Saya lihat banyak orang lakukan percobaan serupa tetapi hasilnya belum memuaskan,” ucapnya. Tidak memuaskan yang dimaksud  ialah hasilnya biasanya masih minyak mentah yang ketika didiamkan kembali beku, kalaupun jadi bensin tetapi masih keruh.

Jika demikian mengapa tidak kembangkan sendiri saja? Pertanyaan ini mungkin mengambang di benak orang dan sayapun demikian. Hamidi mengaku ingin mengembangkan semua percobaannya secara mandiri sampai bisa dimanfaatkan masyarakat secara massal.

Namun ada punya pertimbangan lain. “Regulasi kita memberatkan. Dan lagi kalau terus saya kembangkan ini, secara pribadi bisa berdampak buruk ke saya. Mungkin saya akan banyak dapat ancaman”.

Ada kepentingan bisnis lebih besar yang kemungkinan menjegal. Sebut saja, sikap kontra dari para pengusaha stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Bisa-bisa mereka mencak-mencak karena bensin buatan Hamidi dipastikan lebih murah ketimbang premium dan solar.

Apabila temuan Hamidi disosialisasi masif tentu bakal mengedukasi masyarakat lebih baik. Mereka mungkin jadi lebih cinta kepada sampah. Ya betapa tidak, rongsokan yang sekilas tak berguna itu ternyata bernilai tambah tinggi.

Pada akhirnya bisa memberi solusi domino. Masyarakat lebih peduli terhadap sampah dengan mengumpulkan dan memilahnya. Pengelolaan sampah kota lebih efisien. Masyarakat bisa mendapatkan bensin lebih murah dan pemkot dapat tambahan pendapatan.

Seluruh komponen dari proses pengolahan plastik jadi BBM pun tidak ada yang sia-sia. Sisa air dari bensin yang dihasilkan bisa jadi pestisida dan ampas plastik diubah menjadi briket. “Ini juga bisa jadi usaha kreatif masyarakat cuma bermodal rajin ngumpulin sampah,” ucap Hamidi.

Itu baru dari aneka plastik belum lagi sampah sayur dan bebuahan. Hasil akhirnya berupa etanol dapat dipakai untuk mendongkrak kualitas kimiawi BBM temuan Hamidi.

Terpisah dari percobaan si profesor, pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian ESDM dikabarkan akan menghibahkan mesin khusus pendaur ulang sampah menjadi bahan bakar minyak. Kemungkinan harus menunggu lebih dari setahun lagi sampai alat buatan India ini datang ke Rawa Kucing.

Hamidi mengaku tidak terintimidasi. Sistem kerja alat ini tampaknya berbeda dengan mesin buatannya, entah mana yang lebih baik. Yang pasti, hasil akhirnya pun kemungkinan besar perlu diproses lebih lanjut.  Padahal untuk taraf yang sama alat pirolisis si profesor bekerja lebih simpel dan murah.

“Kalau alat itu datang, katanya akan dijadikan operator, sekadar operator. Mana penghargaan dari pemerintah kepada anak kreatif negeri sendiri?” kata pria berusia 36 tahun itu.

Kini Hamidi tetap menjali tugas hariannya di laboratorium mini di Rawa Kucing. Dia tetap menahan diri untuk mempublikasikan kepada pemkot. Profesor terus menyimpan kabar dirinya sudah dapat jawaban agar si bensin bisa dioperasikan normal di kendaraan untuk diri sendiri.

Semoga Pemerintah Kota Tangerang bukan tukang tebar pesona yang suka beri harapan palsu. Pemerintah diharap menyisihkan bperhatian lebih serius, “Mau dibawa ke mana sih arah pengembangan temuan ini oleh mereka?” celoteh profesor.

GADIS

 

GENGGAMAN tangan seorang pria berusia 30-an merenggang di sela-sela jemari wanita di sebelahnya. Mereka menelan ludah bersamaan melalui tenggorokan yang berbeda. Bersama pula merasai butiran peluh berjatuhan padahal sedang di dalam ruang steril yang dingin.

Kamar bersalin sebuah rumah sakit umum daerah itu baru saja diramaikan tangis bayi perempuan. Berlumur darah dan mengkilat-kilat badannya selepas keluar dari rahim. Tangisnya seperti nyanyian paling merdu bagi pria dan wanita tersebut; membius.

Namun dokter lama menimang si bayi. Dia ragu menyerahkan kepada sosok yang melahirkannya. Dokter terus menahan bayi merah itu di tangan; gemetar.

“Mana anak saya dok?” tanya si wanita, yang melahirkan jabang bayi, sembari berbaring bersimbah keringat.

Dokter menatap mata pasangan suami istri ini lantas membanting tatap kepada wajah si bayi. Ragu. Tak pernah dia seragu ini dalam prosesi penyerahan bayi kepada ibunya. “Ini, bu,” akhirnya dia menyerahkan.

Pasangan suami istri tersebut tentu menangis terharu. Lebur dan luruh bahagia mereka. Si ibu meletakkan anaknya tengkurap di dada agar bisa menemukan puting susu sendiri. Adapun si suami menepuk-nepuk punggung bayi lalu beradzan.

Sehabis itu tangis mereka reda, seketika, seperti setengah terpaksa lantas berganti jadi cengang. “Ayah…” suara si ibu terputus. Keduanya berpandangan. Tetiba tangis mereka kembali pecah.

Apabila kau saksikan separang pasutri tersebut menangis dari layar kaca, mereka tampak seperti sedang berteriak dalam bisu. Coba matikan volume sampai ke limit terbawah, maka yang terlihat cuma orang yang sedang meringis-ringis dan megap-megap.

Pria yang kelak dipanggil ayah dan wanita yang akan dinamai ibu itu menangkap semburat keheningan di dalam bisingnya pekik pita suara. Mereka mendapati keheningan dari derasnya laju air mata. Tak hanya itu, berdua juga meneriaki keheningan yang membungkus sukma.

Tangis yang hening, bagi si bayi demikian. Ia tengkurap menempelkan pipinya ke dada sang ibu tanpa tahu apa yang bikin suasana begitu pilu. Dia asing saja menyusu ke sepasang puting bengkak di dada ibunya. Itulah aku, si bayi berkaki satu.

++++

Apabila mengenai orang lain kita bisa menjadi pengingat jitu, apalagi terhadap diri sendiri.

Tak lekang dari amigdala otakku ketika itu berusia sekitar sepuluh tahun; masih berseragam putih dan merah; kelas empat sekolah dasar. Aku sedang di kamar mandi siswi usai pelajaran olahraga. Walaupun tidak ada satupun aktivitas olahraga yang bisa aku ikuti, tetap saja aku harus mengganti baju selama jam pelajaran berlangsung. Biasanya aku cuma teronggok bak obat nyamuk di pinggir lapangan.

Aku hendak berganti baju menjadi seragam putih dan merah kembali. Kebodohan yang paling kusumpahi sampai kesumat adalah memilih masuk bilik yang kuncinya rusak. Tetiba ada dua, tiga, atau empat kepala beserta anggota tubuh lengkap menyeruak masuk.

Kebodohan lainnya adalah aku sibuk dengan kaget. Kenapa aku sibuk kaget? Sibuk berteriak-teriak histeris karena takut ada yang mau mengintip. Kenapa tidak langsung tersadari, monyetpun rasanya tidak akan berminat kepada tubuh bau kencurku.

Mereka ramai-ramai dengan kompak dan sigap mengambil tongkat. Sepasang tongkat keramat. Benda itu dirampas; disembunyikan. Aku berusaha menengangkan diri setengah mati selepas teman-temanku yang keparat itu keluar seperti kilat.

Tidak ada air mata boleh turun, satupun. Demikian sumpahku di kepala.

Aku keluar dari kamar mandi tanpa terpikir mencari tongkatku. Aku hanya ingin sampai di kelas. Sepanjang koridor aku dianiaya secara verbal. Jalanku melompat seperti kodok dan menunduk seperti anak babi.

Memang itu yang mereka teriakkan, “Huuuuu kodok huuuu”.

++++

Para keparat itu akhirnya mengembalikan tongkatku setelah aku kembali melompat terombang-ambing dari kursi menuju pintu kelas; saat pulang sekolah. Aku tak berharap tongkatku kembali, aku hanya sibuk berusaha tak menangis dan menyimpan marah.

Kalau harus mengesot untuk sampai di rumah, biarlah, akan kucoba jalani. Begitu batin cacatku berkata.

Sesampai di rumah aku langsung meraih dada ibu yang sedang berbaring telentang, mempelkan pipi di sana; seperti ketika pertama aku menyentuhnya. Aku merangsek di sana dalam posisi tengkurap. Aku menanggis sesenggukan dan meracau.

Kenapa harus berlari jika berjalan terasa lebih menenangkan? Mengapa memaksa melihat jika segala yang ada cuma tampak seperti berkabut?

“Tidak mengapa sayang. Dan karena tidak apa-apa mengapa harus memaksa berlari dan ngotot memandang dengan mata telanjang?” jawab ibu sembari menguatkan cengkraman jemarinya dibahuku.

++++

Berjalan dan memandang menjadi ritual mewah dalam hidupku. Ritual utamaku setelah bangun tidur, pertama mencari kacamata, kedua meraba di mana tongkatku.

Hubunganku dengan tongkat dan kacamata sangat mesra, akrab, dan hangat; intim. Kedekatan kami melebihi kedekatanku dengan siapapun atau apapun.

Berkat si kacamata, aku bisa memandang dengan baik. Sementara si tongkat mampu memapah saat menapaki jalan. Komplementer yang sempurna; melihat jalan dan menjalaninya.

Aku memang bisa memandang apa yang tersaji dalam perjalanan dan mampu menjalaninya. Tapi rupanya ini saja tidak tidak cukup. Ya, seperti orang keren; keren saja enggak cukup buat hidup. Untukku melihat dan berjalan saja belum memadai, aku harus bisa melakukannya dengan cepat.

Rupanya memang omong kosong pepatah yang berkata alon-alon asal klakon, perlahan yang penting selamat. Kenyataan tidak demikian. Semua harus cepat dalam ritme yang lazim bukan yang cacat.

“Gadis kamu lambat kayak keong. Cepetan dong, antreannya panjang nih”. Pada waktu itu aku sedang mengantre pembagian seragam baru saat kenaikan kelas.

Andai keparat-keparat itu tahu, mereka tidak perlu mengolok-olok. Cukup memandangi dari ujung kaki ke kepala. Rasanya seperti tak ada helai kain nyangkut lagi di tubuhku.

++++

Ini gilirannya, si anak lamban. Betapa tidak lelet, kaki lunglai itu harus selalu ditopang tongkat. Berurusan dengannya harus mau menyediakan waktu lebih, untuk mengakomodir geraknya yang lamban. Saya sendiri bingung kenapa sekolah menerima dia. Selain lamban, aneh pula.

“Esai terakhir yang akan ibu bagikan ini adalah yang nilainya paling buruk, dapat F.”

Sebelum melanjutkan kalimat, saya membuka kacamata sampai hidung dan memandang ke tempat duduk murid berikut ini. “Gadis, maju kemari”.

Biasanya berjalan dari baris meja paling belakang butuh lima detik untuk sampai ke depan. Tapi untuk si lamban ini, lima detik harus digandakan dua kali lipat.

“Bacakan hasil esaimu”.

++++

Apa itu mimpi? Apakah itu serupa batu yang dililitkan benang sol lantas dilempar ke salah satu ranting pohon rindang nan teduh?

Jika batu benang berhasil terlilit di ranting dengan baik, itu bisa tersangkut dengan kuat. Tapi saat lemparanmu salah arah, justru keningmu yang tertimpa dan berdarah. Apakah demikian?

Atau, jangan-jangan mimpi dalam konteks apapun tak ubahnya kembang tidur belaka? Kalau begini, perbanyak saja tidur agar mimpimu terus hidup.

Ibu tertawa mendengar celotehku tersebut. “Kalau kamu cuma memberi dua opsi itu maka anggaplah mimpimu seperti opsi yang pertama,” jawabnya usai menuntaskan tawa. “Memangnya kamu punya mimpi apa?”

Aku diam dan menyeringai menatap ibu sembari terus menaburkan makanan ikan ke permukaan kolam lele. Ibu pun tidak bertanya lagi. Dia sibuk meremas-remas ikan dan mencampurnya dengan nasi. Setelah ini dia akan berkeliling komplek memberi makan kucing jalanan.

Pertanyaan ibu yang tak terjawab bukan berarti lantaran aku tak punya jawaban. Aku punya, hanya saja aku malu. Aku khawatir jika kujawab sekarang tetapi sepuluh tahun mendatang aku malah lupa dan abai.

“Gadis? Cepat dibaca paragraf yang ibu tandai dengan pulpen merah,” ibu guru menegurku.

“Saya ingin bisa membeli rumah dengan luas bangunan 100 meter persegi dan halaman kalau bisa 300 meter persegi. Lokasinya saya harap ada di pinggiran ibukota. Saya membutuhkan rumah dengan halaman luas agar teman-teman bisa bermain dan hidup dengan layak.

Saya akan membuat beberapa rumah kecil atau sebutlah kandang di halaman tersebut, ada kandang burung berukuran tiga kali tiga meter, area kucing sekitar sepuluh kali sepuluh meter, untuk anjing mungkin 15 kali lima meter persegi. Selebihnya akan saya tanami tumbuhan sayur dan pohon buah. Sementara di halaman belakang rumah akan saya buat beberapa kolam ikan.

Rumah tersebut sangat saya butuhkan ada di pinggir ibukota karena kalau di ibukota sendiri terlalu padat. Sementara di sanalah dan daerah sekitarnya banyak binatang-binatang terlantar.

Sebelum saya membeli rumah tersebut saya ingin kuliah di jurusan kedokteran hewan. Saya ingin menjadi dokter hewan dan penyelamat binatang bahasa Inggrisnya animal rescuer,” kataku sembari memandangi huruf F di sudut kanan atas.

Setelah itu kuberanikan menatap seisi kelas. Mereka bukan terperangah melainkan sibuk berbisik dengan teman sebangkunya. Aku tetap berusaha melempar senyum ke udara.

“Gadis,” aku menoleh ke arah guruku, “keinginan kamu itu aneh sekali ya. Buat apa sibuk mengurus binatang-binatang jalanan itu?

Kamu tidak pernah juara kelas, nilai matematikapun selalu merah, bagaimana bisa masuk kedokteran? Kamu juga tidak punya uang. Belum lagi keluarga kamu relatif kurang mampu, hanya beternak lele lho.

Kalau menginginkan rumah seluas itu dalam waktu sekitar sepuluh tahun dari sekarang, kamu butuh banyak uang, Dis. Coba kamu tulis ulang esaimu dengan isi yang lebih realistis, mungkin nilai F kamu bisa jadi lebih baik”.

Senyumku lenyap.

++++

“Jadi mimpi itu apa Bu?”

Sepulang sekolah hari itu, aku langsung menodong ibu yang sedang memberi makan lele dengan pertanyaan yang sama; mimpi.

Ibu menghentikan aktifitasnya dan berlutut di depanku. “Mimpi itu hidup, Dis,” katanya sambil memegang bahuku.

“Kamu tahu rahasia hidup?”

“Apa Bu?”

“Jatuhlah tujuh kali tetapi kamu harus bangun delapan kali”.

Malam itu aku memandangi esaiku yang dibubuhi huruf F sampai tertidur. Aku berpikir keras apa yang harus kuperbaiki, apa yang mesti kuubah?

Keesokan paginya aku hampiri guru Bahasa Indonesia dan menyerahkan kertas esaiku.

“Kenapa masih esai yang sama?”

“Saat awal-awal mulai berjuang demi mimpi yang saya inginkan tentu saya tidak punya pengalaman dan membuat banyak kesalahan, bu. Tapi biarpun saya jatuh seratus kali, saya akan bangun 101 kali”.

++++

Sepuluh tahun sejak saat itu benar yang diolok-olok guruku. Sampai sekarang aku belum berubah.

“Benarkah begitu?” tanya juru warta di depanku. Kami sedang berbincang di taman sebuah bangunan yang di depan pagarnya ada papan bertuliskan PITA; Pengasuh Binatang Terlantar.

“Ya, seperti yang Anda lihat. Saya masih bertongkat, lambat, dan rabun. Orang tua saya juga tetap beternak lele”.

Wartawan itu tertawa.

 

 

 

Keluarga dalam Ekonomi

EKONOMI tak jauh berbeda dengan rumah tangga sebuah keluarga. Di dalam keluarga terdiri dari sejumlah orang dengan pemikiran, kebutuhan, keinginan, dan harapan yang berbeda. Melalui rumah tanggalah, keluarga idealnya bersatu padu berusaha mencapai kemakmuran bersama.

Dalam berbagai literatur disampaikan bahwa ekonomi merupakan ilmu yang mempelajari masyarakat dalam usahanya mencapai kemakmuran alias welfare. Manakala suatu rumah tangga bisa mencapai kemakmuran indikatornya kebutuhan mereka atas barang maupun jasa dapat terpenuhi.

Setiap orang dalam rumah tangga punya kepercayaan berbeda. Orientasi di antara mereka juga mungkin tidak sama satu sama lain. Belum lagi lingkungan, di luar rumah tangga keluarga, yang dimiliki berbeda. Walhasil sasaran yang ingin masing-masing capai juga tidak sama.

Misalnya, A dan B merupakan kakak beradik di dalam rumah tangga keluarga XYZ. Latar belakang pola asuh, meski satu ibu dan bapak, serta kondisi lingkungan tempat keduanya tumbuh berbeda. Walhasil saat dewasa karakter mereka tidak sama.

Perbedaan tersebut menghasilkan kebutuhan, keinginan, serta sasaran yang berbeda. Si A sewaktu bersekolah SMA bergabung dengan ekstrakulikuler Rohani Islam (Rohis) dan jatuh cinta dengan segala aktivitas di dalamnya.

Seiring waktu keislamannya terus dipupuk hingga menyentuh nilai-nilai kehidupan si A. Dia meyakini hidup hanya sekali dan harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memupuk amalan-amalan baik. Manakala mendapatkan warisan tanah sepeninggal kedua orang tua, A memutuskan menyumbangkan separuhnya sebagai wakaf untuk mushola.

Namun keputusan berbeda ditempuh oleh B, kakaknya. Sesama perempuan tetapi lingkungan yang membentuk tumbuh kembangnya berbeda dengan A. B beragama sama dengan A tetapi bisa dibilang tidak sereligius A.

Kendatipun B setuju bahwa beramal dan berbuat baik terhadap sesama penting, tetapi tidak salah pula memenuhi keinginan pribadi. Orientasinya lebih kepada memiliki hidup yang secure secara financial dalam jangka panjang. Walhasil dia memilih menjual sebagian tanahnya untuk membeli logam mulia.

Antarkeluarga tidak ada yang pola konsumsinya persis sama. Ada banyak variasi perilaku dan kenyataan hidup. Upaya mencapai kemakmuran yang versinya berbeda-beda inilah yang dikaji melalui ilmu ekonomi.

Rumah tangga yang dikaji bukan hanya rumah tangga yang terjalin berdasarkan ikatan keluarga. Ada pula rumah tangga dari dua atau lebih orang yang kerjanya memasarkan barang dan jasa. Ini disebut rumah tangga perusahaan. Masing-masing dari mereka berkolaborasi untuk mendapatkan laba.

Perbedaan dengan rumah tangga keluarga adalah pada rumah tangga perusahaan ada proses produksi suatu produk. Tidak hanya berbentuk barang tetapi juga jasa maupun sesuatu yang lain. Proses ini mencakup masukan/input, transformasi/perubahan, keluaran/output.

Antara individu secara langsung maupun melalui rumah tangga keluarga dan rumah tangga perusahaan memiliki keterkaitan. Bisa dibilang dunia usaha hadir tidak bisa lepas dari adanya hubungan yang saling menentukan dan membutuhkan di antara keduanya; si produsen dan konsumen.

Rumah tangga yang meliputi dunia usaha tidak hanya berbentuk perusahaan tetapi bisa berwujud lain. Sebut saja badan usaha, dunia usaha, industri, dan bisnis eceran. Aktivitas usaha yang dijalankan masing-masing ini tidak serupa.

Badan usaha, misalnya, suatu badan yang menggunakan faktor-faktor produksi untuk bisa memperoleh laba. Perusahaan adalah organisasi produksi yang menggunakan dan mengkoordinir sumber-sumber ekonomi untuk memuaskan kebutuhan dengan cara menguntungkan.

Beda lagi dengan dunia usaha, ini bisa dimaknai sebagai suatu lingkup yang di dalamnya ada kegiatan produksi, distribusi, dan upaya lain. Usaha-usaha ini mengarah kepada pemuasan keinginan dan kebutuhan manusia secara maksimal.

Sementara industri merupakan sekelompok perusahaan. Mereka menghasilkan produk yang sama untuk pasar yang sama. Adapun bisnis eceran adalah usaha yang berkegiatan terkait denngan penjualan barang atau jasa kepada konsumen tanpa mengubah bentuknya.

Di dalam ekonomi, individu/keluarga dan dunia usaha saling menarik. Yang satu punya kebutuhan sedangkan yang lain berusaha memproduksi berbagai hal dan barang yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Keduanya seperti gula dan semut.

CHINA BENTENG: Sebutlah Ini Budaya Asli Tangerang #3 (Selesai)

TIDAK semua daerah di Indonesia tampil ke muka publik sarat akan budaya asli nan khas, sebut saja Kota Tangerang.

Bagian 1 klik di sini

Bagian 2 klik di sini

Lingkungan depan Kelenteng Boen Tek Bio, Kota Tangerang. [ dok. pribadi]
Lingkungan depan Kelenteng Boen Tek Bio, Kota Tangerang. [ dok. pribadi]
Mungkin bagi sebagian orang, atau bahkan bagi warga Tangerang sendiri, tidak ada yang spesial dari kota satelit DKI Jakarta ini. Tidak ada kebudayaan khas seperti di Aceh, Minang, atau daerah lain. Tidak pula punya kuliner tersohor seperti Bakpia Jogja. Isinyapun tak jauh dari pabrik dan mal.

Pandangan semacam itu perlu diluruskan karena ternyata kota seluas 184,24 kilometer persegi ini punya degupnya sendiri. “Bisa dibilang China Benteng inilah budaya aslinya Kota Tangerang,” tutur Oey Tjin Eng, generasi kedelapan peranakan Tionghoa di Tangerang.

Saya menemuinya pada Jumat (19/6/2015) siang di Kelenteng Boen Tek Bio, Kota Tangerang. Pria bermata sipit dengan kulit sawo matang itu juga aktif di dalam kepengurusan kelenteng ini. Tjin Eng, demikian dirinya akrab disapa, membidani bagian hubungan masyarakat (humas).

Mungkin banyak yang pernah membuat ulasan tentang China Benten alias peranakan Tionghoa di Tangerang. Secara umum komunitas masyarakat ini dinilai memberikan warna tersendiri bagi sisi historis dan kultur Kota Tangerang.

Laman daring resmi Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang menyebutkan wilayah ini punya sejumlah aspek budaya, seperti Tarian Lenggang Cisadane, Gambang Kromong, Lenong dan Barongsai.

Namun di dalam tangerangkota.go.id tidak ada penjelasan khusus tentang komunitas China Benteng. Meski demikian, dalam penuturan soal Gambang dan Barongsai disebutkan keduanya berangkat dari akulturasi antara Tionghoa dan budaya setempat.

“[China Benteng] saat ini adalah hasil pengaruh budaya Tionghoa, Betawi, Sunda, dan Makassar,” ujar Tjin Eng.

Sebagai contoh Gambang Kromong, orkes ini memadukan gamelan dan alat-alat musik Tionghoa, seperti sukong, tehyan, dan kongahyan. Namanya diambil dari dua alat perkusi, yakni gambang dan kromong.

Pemkot mencatat awal mula orkes tersebut muncul erat terkait dengan sosok pemimpin komunitas Tionghoa bernama Nie Hoe Kong. Dia diangkat Belanda pada masa jabatan 1736 sampai dengan 1740.

Hoe Kong mengkombinasikan 18 bilah gambang dari kayu suangking, huru batu, manggarawan atau kayu jenis lain yang empuk bunyinya saat dipukul. Kromong sendiri lazimnya dibuat dari perunggu atau besi sebanyak sepuluh pencon.

Nada dalam gambang kromong adalah tangga nada pentatonik China. Ini kerap disebut salendro China atau salendro mandalungan. Instrumennya terdiri dari gambang, kromong, gong, gendang, suling, kecrek, sukong, dan tehyan atau kongahyan sebagai pembawa melodi.

Sementara Barongsai diakui sebagai salah satu kesenian khas Tangerang. Barongsai yang ada di kota ini terdiri dari jenis Kilin, Peking Say, Lang Say, Samujie. Secara umum kesenian ini menampilkan Singa Batu model dari Cieh Say.

Ada dua aliran yang dianut dalam kesenian tersebut, yaitu Aliran Utara dan Selatan. Hal ini merujuk kepada sisi Utara Sungai Yang Zi, si Barongsai berbentuk garang, berbadan tegap, dan mulutnya persegi.

Aliran selatan terdapat di sisi selatan Sungai Yang Zi. Wujudnya lebih bervariasi dan luwes tetapi kurang gagah. Aliran Selatanlah yang biasanya ada di Indonesia terutama Tangerang. Bukan mengacu kepada wujud singa melainkan Anjing Say yang pernah dipelihara kaisar dan dianggap suci.

Kini dan Dulu

Berdasarkan Instruksi Presiden No. 13/1976, Jabotabek termasuk Tangerang merupakan wilayah pengembangan yang siapkan untuk mengurangi ledakan penduduk di ibu kota.

Daerah penunjang DKI ini juga diharapkan bisa mendorong kegiatan perdagangan dan industri, mengembangkan pusat pemukiman, dan mengusahakan keserasian pembangunan antara DKI Jakarta dengan daerah yang berbatasan langsung.

Hal tersebut tertera dalam ringkasan sejarah Kota Tangerang. Hasilnya sekarang kota ini dihuni sekitar 1,7 juta jiwa. Padahal sensus pada 1990 mencatat penduduk baru berjumlah 921.848 jiwa.

Pabrik, perkantoran, gedung-gedung ritel, mal, perumahan, ini yang menghiasi Tangerang masa kini. Padahal bangunan tersohor yang ada di Tangerang tempo dulu hanya benteng. Dulunya kota ini memang dikelilingi benteng, karenanya peranakan Tionghoa di sini disebut China Benteng.

Pada era 1683, Pemerintah Kolonial Belanda membangun benteng di pinggiran Sungai Cisadane. Tujuannya tentu untuk mempertahankan diri terhadap serangan Kesultanan Banten. Tidak ada sumber resmi yang bisa memastikan seberapa panjang benteng ini terbentang.

Tjin Eng menyebutkan bangunan pertahanan itu ada dari titik yang sekarang menjadi Masjid Agung Al-Ijtihad sampai ke daerah belakang Mal Robinson, Kota Tangerang. Benteng yang berdiri di Tangerang termasuk salah satu pertahanan terdepan Belanda di Jawa.

Datang Menetap

“Pada 1407 terdampar serombongan perahu di Teluk Naga di bawah pimpinan Tjen Tjie Lung atau Halung, di dalamnya ada sembilan orang gadis,” ujar pria kelahiran Tangerang 71 tahun silam itu. Mereka mendarat di muara Sungai Cisadane yang kini dikenal sebagai Teluk Naga.

Pada era 1683 kawasan yang sekarang disebut Tangerang berada di bawah pimpinan Sanghyang Anggalarang, wakil dari Sanghyang Banyak Citra dari Kerajaan Parahyangan.

Melihat sembilan orang perempuan Tionghoa berparas cantik di perahu yang baru mendarat di muara Sungai Cisadane, hatinya tertarik. Mereka “dibeli” dengan kompensasi sebidang tanah.

Tinggal para lelaki, mereka selanjutnya hidup dan menetap di kawasan Teluk Naga lantas menikah dengan orang pribumi. Seiring waktu terbangunlah komunitas peranakan Tionghoa di sebuah desa yang selanjutnya dinamai Tanggeran.

“Kenapa disebut China Benteng? Karena orang-orang di sini tinggalnya dekat benteng. Dulu disebutnya Benteng Makassar karena saat pembangunan banyak dikerjakan orang dari Makassar,” tutur Tjin Eng.

Pada 1740 dipimpin Gubernur Jenderal Andriaan Valckenier terjadi pembantaian massal terhadap etnis Tionghoa yang ada di benteng (kini Tangerang) hingga lebih dari 10.000 orang tewas.

Warga Tionghoa itu sebelumnya berusaha mengemukakan ketidakpuasan mereka terhadap berbagai peraturan VOC (Veneenigde Oostindiche Compagnie). Peranakan Tionghoa yang berhasil menyelamatkan diri lantas mencari wilayah lain untuk bermukim, seperti di Teluk Naga.

Usai pembantaian pada 1740, pada tahun-tahun setelahnya pemerintah Belanda menyebarkan warga Tionghoa peranakan ke titik lain untuk bertani, sekarang di kenal sebagai Pondok Cabe, Pondok Jagung, dan Pondok Aren.

“[Awalnya] dari pembantaian 10.000 orang warga Tionghoa itulah sekarang ada Pondok Aren, Pondok Pinang, Pondok Cabe dan Kali Pasir,” kata Tjin Eng.

Usai pemberontakan itu teredam, Belanda lantas membangun perkampungan Tionghoa. Lokasinya ada di Tegal Pasir atau Kali Pasir bernama Petak Sembilan. Sekarang daerah ini menjelma menjadi kawasan Pasar Lama dan berkembang menjadi pusat perdagangan dan wilayah tak terpisahkan dari Kota Tangerang.

Selepas kemerdekaan, peranakan Tionghoa kembali sempat mengalami masa krisis sosial. Mereka kontra dengan warga pribumi tersentil aksi seorang tentara NICA etnis Tionghoa mengganti Merah Putih dengan bendera Belanda. Hasilnya pada pertengahan 1946 rumah warga China Benteng diporak-porandakan.

Rumah mereka dijarah hingga furnitur meja abu tempat ritual sembahyang turut dirampas. Lantas ada kelompok pemuda peranakan Tionghoa Tangerangyang pro kepada NICA mengungsikan warga China Benteng ke Batavia yang sekarang jadi Jakarta.

Setelah konflik tersebut teredam, komunitas China Benteng kembali ke tanahnya dan mereka kehilangan harta benda. Rumah tidak lagi dalam keadaan utuh bahkan hancur rata dengan tanah, isinya pun entah dijarah kemana. Klaim atas tanah pun jadi dikuasai para pribumi.

Proses panjang untuk bertahan hidup di Tangerang sampailah ke era modern seperti sekarang. Suasana khas pecinan masih terasa khususnya di kawasan Pasar Lama, komplek Poris, Selapajang, dan Teluk Naga.

Di Balik Lelucon Plastik Herbal

KOTA Tangerang bisa menghemat uang miliaran rupiah dari struktur anggaran belanja tahunannya asalkan seluruh warga yang bermukim diwajibkan menggunakan plastik herbal.

Judulnya saja herbal maka orientasinya kepada sesuatu yang alami alias berasal dari alam. Plastik yang dimaksud adalah kantong pembungkus serba guna berbahan dasar tetumbuhan.

“Bungkus makanan semua diganti pakai daun pisang. Jadinya nanti bukan sampah, semua jadi kompos,” kata Kepala Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Rawa Kucing Masan.

Plastik herbal hanya sekilas lelucon dalam obrolan dengan pria yang kerap berkecimpung dalam penghijauan Kota Tangerang itu. Perbicangan kami berkisar soal solusi pengolahan sampah yang volumenya tak pernah surut, malah sebaliknya.

Mengoperasikan TPA yang mampu menampung, mengolah, dan mengelola sampah secara terpadu bukan perkara mudah dan murah. Sulit memang bukan berarti mustahil. Tapi soal “mahal” pun tak seketika teratasi dengan pengajuan proposal permintaan tambahan dana.

Namun Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang tidak perlu khawatir. Mereka bahkan tidak perlu memusingkan perkara mahal itu. Dengan kehadiran plastik herbal, anggaran pengoperasian TPA Rawa Kucing sekitar Rp6,4 miliar per tahun tak butuh tambahan.

“Wali kota sediakan saja sekian ribu hektar untuk seluruhnya ditanami pohon pisang batu, lalu semua bungkus diganti pakai daun pisang,” ujar Masan sembari tertawa.

Dengan luas wilayah 184,24 kilometer persegi, Kota Tangerang menampung sekitar 1,7 juta jiwa. Sampah yang mereka hasilkan sedikitnya 4.964 meter kubik atau 1.241 ton. Sampah yang bisa terangkut ke TPA sehari-hari hanya 75% sekitar 3.723 meter kubik setara 1.000 ton.

Angka tersebut naik lebih dari seratus persen dibandingkan dengan lima tahun silam yang jumlahnya masih berkisar 500 ton. Dan jangan kaget kalau lima atau sepuluh tahun mendatang volumenya menyentuh 2.000 ton.

Perkiraan itu sukar terbantah jika melihat perkembangan ekonomi dan kependudukan di Kota Benteng. Posisinya yang strategis sebagai penyangga ibukota bikin Tangerang jadi sasaran investasi baik properti, jasa, industri, dan lain-lain.

“Tidak pernah ada grafik volume sampah turun. Semakin bertambah jumlah penduduk, sampah juga bertambah,” ucap Masan.

Di tengah keterbatasan dana dan kerepotan mengurus ribuan ton sampah, Rawa Kucing tetap bersolek. TPA seluas 34 hektare (ha) ini tak lagi kumuh. Masan mendandaninya jadi tempat pengelolaan sampah terintegrasi dengan taman edukasi berbasis lingkungan hidup.

Simsalabim! Memasuki gerbang Rawa Kucing sekarang tidak lagi gersang dan bau. Pepohonan rindang, kicau burung, serta hijaunya taman pembibitan pohon pelindung dan tanaman hias jadi menu utama yang tertangkap retina.

Pengembangan TPA Rawa Kucing tersebut dilakoni Masan dan timnya tanpa kucuran dana tambahan dari pemkot. Modalnya cuma rajin, yakni rajin memunguti benda-benda dan tanaman bekas fasilitas kota.

Tak sedikit jenis tanaman dan pohon yang dibudidayakan berasal dari pinggir jalan. Pepohon dan tanaman layu tak terurus diselamatkan. Balok-balok conblock bekas dipakai melapisi ruas jalan dicomot. Conblock ini sekarang jadi jalan setapak di area taman TPA.

Rasanya tidak mungkin penghijauan di sana bisa seperti sekarang kalau cuma menunggu kucuran uang pemerintah. Mengambil rupiah anggaran operasi yang adapun tak mungkin. Dana Rp6,4 miliar habis dipakai menggaji 83 PNS dan membeli ratusan bahkan ribuan liter solar dalam setahun.

Bagi Masan, ketimbang buang waktu mengeluhkan anggaran yang minim lebih baik bergerak dan melakukan apa yang bisa digarap, seperti mengumpulkan bambu dan conblock bekas. “Mau minta [tambahan dana], mintanya pun capek,” tuturnya.

Wali Kota Tangerang Arief R. Wismansyah membenarkan pihaknya ingin memposisikan Rawa Kucing bukan sekadar tempat pembuangan melainkan taman pemrosesan sampah. Tapi diapun mengakui tidak ada anggaran khusus yang disediakan untuk program penghijauan di sana.

Pemkot justru berharap ada investor swasta yang bersedia menanamkan kapital untuk menyokong pembiayaan. “Rawa Kucing harus secepatnya menjadi TPA yang berbasis taman edukasi. Kami juga terus bersinergi dengan pihak luar yang berniat meringankan,” tuturnya kepada Bisnis.

Dari sekitar 34 ha total lahan TPA Rawa Kucing yang kini berstatus aktif 10 ha. Luas ini diharapkan tidak bertambah. Untuk menemani tumpukan sampah, ruang terbuka hijau berisi taman edukasi lingkungan hidup bakal dibangun seluas 3 ha yang dirintis sejak akhir 2014.

Sejauh ini belum tuntas pengembangan ruang terbuka hijau di Rawa Kucing. Tapi kini dapat dilihat sejumlah fasilitas beroperasi, seperti taman bonsai, pengomposan sampah sayur berbekal ampas kopi, green house pusat pembibitan tanaman, lapangan bola, bahkan perkebunan eucalyptus.

Penampilan Rawa Kucing sekarang bukan berarti sudah cantik. Tetap saja ada keruwetan yang rutin terjadi, semisal antrean truk yang hendak menyetor sampah mengular ke luar gerbang. Tapi Masan tak pernah kaget lagi menyaksikan hal ini.

Antrean tersebut agaknya mustahil diberantas selama jalan raya menuju TPA tak diperlebar dan permukaannya yang berantakan tidak diperhalus. Apalagi dari gerbang menuju kantong-kantong penampungan sampah hanya ada satu jalur.

Antrean tambah parah manakala ada truk yang bannya terperosok ke dalam gunungan sampah. Rutinitas ini kerap terjadi lantaran beton sepanjang 3 meter pelapis permukaan sampah, untuk pijakan roda truk, kuantitasnya minim.

Misalnya, dari kebutuhan 100 meter jalan, setara 500 balok beton, yang terakomodir paling cuma 70 meter. Ingin beli sendiri tetapi dompet tiris. Untuk kebutuhan 500 balok butuh lebih dari Rp1 miliar dengan asumsi per balok Rp2,4 juta.

Beginilah repotnya kalau semua perkara merujuk kepada UUD, ujung-ujungnya duit. Hmm, kalau demikian tampaknya Rawa Kucing harus belajar pula mengkompos daun pisang jadi plastik herbal.

Sepertiga Hidup Ara

EMPAT rumah lampu itu disangga sebuah tiang besi yang berdiri tegak di tengah empat kursi kayu di belakang kami. Kursi-kursi sepanjang 1,5 meter ini berjejer di bawah setiap rumah lampu, membuat formasi kotak.

Tidak ada siapapun yang duduk di kursi itu selain kami. Dari atas kepala, cahaya lampu berwarna kuning temaram menghujan. Tapi tidak demikian dengan ubun-ubunnya. Lebih gelap, tak ada pendar cahaya kuning. Lampu di atas kepalanya padam.

“Rasanya sukar, berat, sulit, dan segala berjalan lambat,” kata dia sembari memerhatikan ujung sepatu kanannya yang sedang menggaruk-garuk tanah.

Kutatap samping wajahnya beberapa detik. “Lantas?” jawabku.

“Mungkin sebaiknya aku berhenti dan menyudahi saja”. Dia menangkat kepala dan melihatku, “begitukah?”

“Cuma sampai sini saja keyakinan dan usahamu? Hanya segini?” Aku justru bertanya balik kepadanya.

Nada suaraku seperti motivator yang penuh percaya diri bicara di depan audiens. Padahal, andai aku ditimpa seperti apa yang dijalaninya belum tentu aku sanggup.

“Kenapa aku berbeda?”

“Maka, kenapa kau harus sama seperti yang lain?” jawab sekaligus tanyaku diplomatis.

“Bukankah semua yang membuat ini lebih sukar bagiku menandakan semesta tak mendukung?”. Kulihat dia menghela nafas pendek setelah mengucap.

“Andai orang-orang eksentrik lain menalar sepertimu, adakah Chicken Soup, Forrest Gump, The Breakfast Club, atau Dead Poet Society di tengah-tengah kita?”

Matanya segera menyambar retinaku lagi, “maksudmu?”

******

C360_2014-05-14-10-55-34-1

Ara memasuki ruang kelas sembari berlari. Kaki bernomor sepatu 30 itu berayun menghentak-hentak lantai dengan irama tertentu. Sepasang kaki itu seperti punya energi yang takkan payah meski pemiliknya tidak makan tiga hari.

Pagi itu kami mengenakan seragam batik merah, seragam khusus hari Kamis. Rok dan kemeja batiknya yang kebesaran berayun mengikuti jejak kaki. Ara masuk ke dalam kelas lantas menyusuri setiap deret meja yang ada, dari paling kanan ke pojok kiri.

Ara, yang selalu memasuki gerbang sekolah sampai kelas berlari itu, memeriksa lipatan roknya setiap 15 menit sekali. “Mana yang berkerut? Tidak ada kan. Kau ini memang senang mengerjai aku,” ucapnya kepada angin sembari menolehkan wajah ke kiri.

Aku penasaran siapa yang diajak bicara Ara maka kuhampiri dia yang masih memeriksa lipatan rok merahnya. Ara sedang berdiri di samping mejanya yang berdiam di baris paling belakang. Menyadari langkahku mendekat, dia mengembalikan arah muka lurus ke depan. Ara berhenti bicara.

“Kenapa Ta? Bukannya mejamu di depan?” tanya Ara kepadaku saat langkahku tinggal berjarak lima kotak lantai darinya.

Aku berhenti. Coba mencari alasan bahwa tujuanku bukan untuk menghampiri dia melainkan teman yang lain. Alasan ini tak jadi kupakai karena ternyata di deret meja kami, yang kedua dari kanan ini, hanya ada Ara dan aku. Kekawan lain sedang di luar, ini jam istirahat.

“Oh iya ya, Ra. Aku lupa tempatku di paling depan, hahaha,” jawabku kikuk ditutup tawa garing.

Otomatis aku memalingkan badan dan melangkah menjauhi Ara.

Sembari langkahku bertolak darinya, kudengar dia bicara lagi dengan angin –maksudku kawan di sebelahnya. “Awas ya, nanti-nanti kalau kau bilang rokku berantakan aku takkan tertipu lagi”.

Ara selalu berlari menyeruduk pintu kelas dan mengitari setiap deret meja kursi dengan kedua lengan tangan terangkat ke samping, menyerupai sayap pesawat terbang. Dia berlari dengan mengolengkan tangannya kekanan dan kiri bergantian. Setelah memutari setiap deret barulah dia hinggap di kursinya sendiri.

Setiap menyaksikan itu pada pagi hari sebelum jam pelajaran dimulai, aku sering terpukau. Apa rasanya memiliki teman khayalan seperti yang dipunyai Ara. Tapi aku tak pernah berani bertanya. Beberapa kali sehabis bercerita kepada ibu tentang kelakuan Ara, dia selalu bilang, mempertanyakan hal itu tidaklah sopan.

Ketika jam pelajaran olahraga atau sedang istirahat aku sering memerhatikan Ara. Dia yang selalu jalan, maksudku berlari, sendirian. Tak jarang Ara tampak murung jika tidak sedang ditemani kawan imajinya.

Suatu kali aku pernah berbaris tepat di sebelahnya ketika pelajaran olahraga. Saat melakukan serangkaian gerakan senam Jumsih (Jumat Bersih), Ara malas-malasan. Tetiba dia bicara setingkat berbisik kepadaku bahwa di depan gerbang sekolah ada bapak-bapak berjaket kulit hitam sedang mengintainya. Orang itu akan berbuat jahat, kemungkinan besar ingin menculiknya sepulang sekolah.

“Kurasa kepala sekolah akan memanggilku saat pulang sekolah nanti. Dia mengira aku yang mengempeskan ban motornya tadi pagi”. “Saat jam pelajaran terakhir aku akan membolos ke WC ya. Aku tidak akan membiarkan Obet menuduh bahwa akulah yang mengerjai Pak Usman dengan mengoles balsem di kursi guru”.

Lebih sering hanya kudengarkan dan mengangguk saja. Aku tak paham dengan cerita Ara. Karena setahuku tidak ada insiden ban motor kepala sekolah bocor atau Pak Usman yang pantatnya kepanasan karena balsem.

*****

Ara sekarang tentu tidak pernah sibuk merapikan lipatan rok seragam sekolah. Pun tak pernah berputar-putar dengan tangan terangkat ke samping sambil mendengungkan suara “ngeeeeng… ngeeeeng…”. Dia pun tidak pernah lagi kusaksikan menyeruduk pintu kelas.

Sekarang, Ara lebih sering menggesek-gesekkan ujung sepatu atau sendalnya ke tanah, aspal, con block, lumpur, atau apapun yang sedang dipijak. Beberapa belas menit sekali telapak tangannya mengusap ubun-ubun memastikan belahan rambut tak berubah.

Saat dosen sedang menerangkan materi di kelas, aku sering mendapatinya menekan rapat-rapat bibir sembari menatap ke arah tertentu. Entah ke depan, kanan, kiri, bisa menoleh atau sekadar melirik. Kalau bukan bibirnya yang dirapatkan, maka wajahnya menunduk dan Ara memejamkan mata hingga sudutnya berkerut.

“Aku selalu dan terus berusaha mengabaikannya,” ucap Ara suatu sore saat kami sedang di perpustakaan kampus. “Tapi mereka selalu muncul”.

Apapun jawaban yang kulontarkan, aku tidak pernah benar-benar menasehatinya. Aku bahkan tidak pernah mampu menalar dengan tepat apa yang dihadapi perempuan kurus berambut keriting itu.

“Pernah kudengar orang berkata, imajinasi dan fiksi membentuk lebih dari tiga perempat bagian dari kehidupan nyata kita, Ra.

Tak sedikit orang-orang eksentrik lain yang pernah menjalani seperti yang kau alami. Saat mereka memutuskan untuk berhenti mungkin ketika mereka sedang dicemooh karena tidak bisa berlari lantaran kakimu penuh dengan besi penyangga.

Mungkin saat mereka harus hadir di sekolah pada akhir pekan, dari pagi sampai siang, hanya untuk menuliskan siapakah diri mereka. Padahal, orang hanya akan melihat sebagaimana dirinya.

Mungkin pula ketika seorang guru harus keluar dari sekolah karena disangka gila. Bisa jadi itu terjadi ketika dunia memaksa merangsek untuk bercokol di hati seseorang.

Kecintaan semesta kepadamu terlihat dari sejauh mana kau bersedia menerima sosokmu sendiri dan sekitaran. Selama itu mampu kau lakukan, bersemangatlah kawan”.

*****

Sulit

satu waktu, sudah lama sekali
seseorang berkata dengan wajah sendu
“alangkah beratnya… alangkah banyak rintangan… alangkah berbilang sandungan… alangkah rumitnya.”

aku bertanya, “lalu?”
dia menatapku dalam-dalam, lalu menunduk
“apakah sebaiknya kuhentikan saja ikhtiar ini?”

“hanya karena itu kau menyerah kawan?”
aku bertanya meski tak begitu yakin apakah aku sanggup menghadapi selaksa badai ujian dalam ikhtiar seperti dialaminya
“yah… bagaimana lagi? tidakkah semua hadangan ini pertanda bahwa Alloh tidak meridhoinya?”

aku membersamainya menghela nafas panjang
lalu bertanya, “andai Muhammad, shallallahu ‘alaihi wa sallam berpikir sebagaimana engkau menalar, kan adakah islam di muka bumi?”
“maksudmu akhi?”, ia terbelalak

“ya, andai muhammad berpikir bahwa banyak kesulitan berarti tak diridhoi Alloh, bukankah ia akan berhenti di awal-awal risalah?”

[dokumentasi pribadi]
[dokumentasi pribadi]

ada banyak titik sepertimu saat ini, saat muhammad bisa mempertimbangkan untuk menghentikan ikhtiar
mungkin saat dalam rukuknya ia dijerat di bagian leher
mungkin saat ia sujud lalu kepalanya disiram isi perut unta
mungkin saat ia bangkit dari duduk lalu dahinya disambar batu
mungkin saat ia dikatai gila, penyair, dukun, dan tukang sihir
mungkin saat ia dan keluarga diboikot total di syi’b Abi Thalib
mungkin saat ia saksikan sahabat-sahabatnya disiksa di depan mata
atau saat paman terkasih dan istri tersayang berpulang
atau justru saat dunia ditawarkan padanya: tahta, harta, wanita…”

“jika muhammad berpikir sebagaimana engkau menalar, tidakkah ia punya banyak saat untuk memilih berhenti?”

tapi muhammad tahu, kawan
ridho Alloh tak terletak pada sulit atau mudahnya
berat atau ringannya, bahagaia atau deritanya
senyum atau lukanya, tawa atau tangisnya”

“ridho Alloh terletak pada apakah kita menaatiNya dalam menghadapi semua itu
apakah kita berjalan dengan menjaga perintah dan larangNya
dalam semua keadaan dan ikhtiar yang kita lakukan”

“maka selama di situ engkau berjalan, bersemangatlah kawan…”

[Salim A. Fillah – Dalam Dekapan Ukhuwah]

Changi, Tak Sekadar Pangkalan Pesawat

PENERBANGAN pada Selasa (24/6/2014) siang berlangsung kurang dari 2 jam. Pesawat bernomor GA830 itu memindahkan saya dan ransel dari Soekarno-Hatta di Jakarta ke Changi di Singapura.

Saya menghela napas dalam pascakeluar dari garbarata Bandara Changi, maklum sindrom mabuk udara bikin perut mual. Tapi pusing dan mual berkurang drastis dalam waktu tak lebih dari 5 menit tertolong pemandangan interior terminal yang ramah retina.

Taman dengan bebungaan, kolam air, rerumput, dan pohon berdaun jarum di salah satu sudut terminal 2 membantu saya jadi lebih rileks. Changi menyajikan lantai berpermukaan marmer dan karpet dengan harapan langkah penumpang jadi lebih nyaman.

Suasana ruang terminal 2 disirami cahaya lampu berwarna kekuningan menjauhkan mata dari silau. Perbedaan paling mencolok dengan bandara di Jakarta adalah pelayanan imigrasi yang lebih cepat tanpa antrean berarti, akses wifi yang leluasa, plus kehadiran papan informasi yang tourist friendly.

 

Tak banyak lokasi wisata yang saya singgahi selama di Singapura pada 24 – 26 Juni 2014. Tujuan perjalanan ini memang untuk mengeksplorasi Changi yang notabene bandar udara terbaik di dunia pada tahun lalu.

Setiap hari saya habiskan waktu berkelana di terminal 1 – 3 Changi menggunakan kereta listrik bernama Sky Train. Bukan cuma terminal penumpang umum, bandar udara ini juga juga punya terminal VIP untuk commercial important person (CIP).

Beberapa orang dari manajemen Changi menemani selama di Singapura, salah satunya Badariah Badaruddin. Perempuan berkulit putih langsat, mata sipit, dan rambut lurus itu menjabat assistant manager corporate & marketing communications Changi Airport Group.

“[Versi Skytrax] kami [Bandara Changi] menjadi airport terbaik di dunia pada 2013 dan 2014. Pesaing terberat kami jelaslah Incheon di Korea,” ujarnya dalam salah satu perbincangan.

Kawasan pangkalan pesawat komersil tersebut tak sekedar gateway tapi juga menjadi tujuan wisata itu sendiri. Koneksi internet gratis, pusat perbelanjaan, restoran, area bermain anak, hotel transit, rest area, bioskop, kolam ikan, kolam renang, berbagai gerai ritel, dan taman tersedia di Changi.

Ada empat tempat yang membekas di benak dari Changi, yaitu Singapore Tour gratis, tabung perosotan Slide @T3, taman bunga, dan taman kupu-kupu. Tur keliling ruas jalan utama Singapura yang singgah sejenak di Marlion tersedia bagi penumpang yang hendak mengisi waktu senggang selama transit.

Untuk menggambarkan perosotan Slide @T3, Anda bisa tengok tabung perosotan di FX, Sudirman, Jakarta. Perosotan setinggi empat lantai di Changi ini mirip dengan yang ada di mal itu. Perbedaan Slide @T3 dengan tabung perosotan di FX lebih kepada ketinggian, jumlah liukkan, dan panjangnya.

Singapura dikenal sebagai garden country, kesan ini pula saya tangkap di dalam Changi. Bandara ini punya beberapa taman tematik, di antaranya taman kaktus (terminal 1), taman orchid dan bunga matahari (terminal 2), serta taman kupu-kupu (terminal 3).

Yang paling unik, bagi saya, adalah taman berisi 500 bunga matahari dan 1.000 ekor dari 30 spesies kupu-kupu. Selain kesuburan dan ekosistem yang terjaga, lokasi yang menawan di rooftop bikin kepincut karena pengunjung bisa sekalian mengamati lalu lintas pesawat.

[Taman Bunga Matahari, Bandara Changi, Singapura / dok. pribadi]
[Taman Bunga Matahari, Bandara Changi, Singapura / dok. pribadi]

Ritel Jadi Andalan

Assistant Vice Presiden Corporate & Marketing Communication Changi Airport Group Robin Goh mengatakan keuangan Changi kini tak semata mengandalkan aktivitas penerbangan. Ritelah yang menjadi bisnis andalan korporat dengan kontribusi setara separuh total pendapatan grup Changi.

“Pendapatan nonaeronautika yang sehat memperkuat daya saing kami sebagai hub udara skala global,” ujarnya.

Pendapatan dari bisnis ritel sepanjang tahun lalu mencapai S$2 miliar. Jumlah ini tumbuh 9% terhadap perolehan pada 2012. Angka tersebut merupakan pendapatan terbesar keempat di dunia yang diperoleh pengelola bandara dari penjualan ritel.

Tanpa menyebutkan angka detil, Robin menyatakan sumbangsih tiga bisnis ritel terbesar adalah rokok dan minuman keras, parfum dan kosmetik, serta produk mewah. Total gerai ritel yang dimiliki Changi berjumlah 350 toko.

Robin mengklaim harga yang ditawarkan di seluruh gerai ritel di dalam bandara tak lebih mahal dibandingkan dengan yang ada di pusat perbelanjaan di luar bandara. Transaksi ritel di Changi berkisar 120.000 setiap hari.

Minister Mentor Singapura Lee Kwan Yew pernah bilang, “Barang kali keputusan pemerintah yang paling berani terjadi pada 1975, yakni meninggalkan bandara Paya Lebar yang sudah ada lantas mengembangkan Changi”.

Pernyataan tersebut merujuk kepada pembangunan Changi yang dimulai pada 1975 di ujung timur Singapura. Bandar udara ini menjadi proyek dengan investasi termahal di negeri singa kala itu senilai S$1,5 miliar.

Sebelum Changi lahir, bandara pertama di Singapura adalah Seletar beroperasi pada 1929 – 1937. Pangkalan pesawat komersil selanjutnya adalah Kallang (1937 – 1955) kemudian Paya Lebar yang beroperasi sampai 1981.

Singapura mengambang serupa pulau seluas sekitar 137 kilometer persegi. Jika melihat peta dunia, negara bersimbol kepala singa ini mungkin cuma nampak seperti bulatan hitam di dekat Malaysia dan Indonesia. Sisi utara berbatasan dengan Malaysia, sedangkan Indonesia di selatan.

Setiap sudut Negeri Singa dipenuhi papan informasi yang jelas, sehingga wisatawan tak perlu khawatir nyasar maupun kecopetan. Konsep ini pula diterapkan manajemen Bandar udara Changi.

Wisata alam yang dimiliki mungkin tak seeksotis Raja Ampat, Pulau Dewata, atau Borobudur. Tapi Singapura tak habis akal, mereka menata serapi dan apik mungkin infrastruktur transportasi, lingkungan, dan setiap lokasi yang potensial jadi tujuan wisata.