Changi, Tak Sekadar Pangkalan Pesawat

PENERBANGAN pada Selasa (24/6/2014) siang berlangsung kurang dari 2 jam. Pesawat bernomor GA830 itu memindahkan saya dan ransel dari Soekarno-Hatta di Jakarta ke Changi di Singapura.

Saya menghela napas dalam pascakeluar dari garbarata Bandara Changi, maklum sindrom mabuk udara bikin perut mual. Tapi pusing dan mual berkurang drastis dalam waktu tak lebih dari 5 menit tertolong pemandangan interior terminal yang ramah retina.

Taman dengan bebungaan, kolam air, rerumput, dan pohon berdaun jarum di salah satu sudut terminal 2 membantu saya jadi lebih rileks. Changi menyajikan lantai berpermukaan marmer dan karpet dengan harapan langkah penumpang jadi lebih nyaman.

Suasana ruang terminal 2 disirami cahaya lampu berwarna kekuningan menjauhkan mata dari silau. Perbedaan paling mencolok dengan bandara di Jakarta adalah pelayanan imigrasi yang lebih cepat tanpa antrean berarti, akses wifi yang leluasa, plus kehadiran papan informasi yang tourist friendly.

 

Tak banyak lokasi wisata yang saya singgahi selama di Singapura pada 24 – 26 Juni 2014. Tujuan perjalanan ini memang untuk mengeksplorasi Changi yang notabene bandar udara terbaik di dunia pada tahun lalu.

Setiap hari saya habiskan waktu berkelana di terminal 1 – 3 Changi menggunakan kereta listrik bernama Sky Train. Bukan cuma terminal penumpang umum, bandar udara ini juga juga punya terminal VIP untuk commercial important person (CIP).

Beberapa orang dari manajemen Changi menemani selama di Singapura, salah satunya Badariah Badaruddin. Perempuan berkulit putih langsat, mata sipit, dan rambut lurus itu menjabat assistant manager corporate & marketing communications Changi Airport Group.

“[Versi Skytrax] kami [Bandara Changi] menjadi airport terbaik di dunia pada 2013 dan 2014. Pesaing terberat kami jelaslah Incheon di Korea,” ujarnya dalam salah satu perbincangan.

Kawasan pangkalan pesawat komersil tersebut tak sekedar gateway tapi juga menjadi tujuan wisata itu sendiri. Koneksi internet gratis, pusat perbelanjaan, restoran, area bermain anak, hotel transit, rest area, bioskop, kolam ikan, kolam renang, berbagai gerai ritel, dan taman tersedia di Changi.

Ada empat tempat yang membekas di benak dari Changi, yaitu Singapore Tour gratis, tabung perosotan Slide @T3, taman bunga, dan taman kupu-kupu. Tur keliling ruas jalan utama Singapura yang singgah sejenak di Marlion tersedia bagi penumpang yang hendak mengisi waktu senggang selama transit.

Untuk menggambarkan perosotan Slide @T3, Anda bisa tengok tabung perosotan di FX, Sudirman, Jakarta. Perosotan setinggi empat lantai di Changi ini mirip dengan yang ada di mal itu. Perbedaan Slide @T3 dengan tabung perosotan di FX lebih kepada ketinggian, jumlah liukkan, dan panjangnya.

Singapura dikenal sebagai garden country, kesan ini pula saya tangkap di dalam Changi. Bandara ini punya beberapa taman tematik, di antaranya taman kaktus (terminal 1), taman orchid dan bunga matahari (terminal 2), serta taman kupu-kupu (terminal 3).

Yang paling unik, bagi saya, adalah taman berisi 500 bunga matahari dan 1.000 ekor dari 30 spesies kupu-kupu. Selain kesuburan dan ekosistem yang terjaga, lokasi yang menawan di rooftop bikin kepincut karena pengunjung bisa sekalian mengamati lalu lintas pesawat.

[Taman Bunga Matahari, Bandara Changi, Singapura / dok. pribadi]
[Taman Bunga Matahari, Bandara Changi, Singapura / dok. pribadi]

Ritel Jadi Andalan

Assistant Vice Presiden Corporate & Marketing Communication Changi Airport Group Robin Goh mengatakan keuangan Changi kini tak semata mengandalkan aktivitas penerbangan. Ritelah yang menjadi bisnis andalan korporat dengan kontribusi setara separuh total pendapatan grup Changi.

“Pendapatan nonaeronautika yang sehat memperkuat daya saing kami sebagai hub udara skala global,” ujarnya.

Pendapatan dari bisnis ritel sepanjang tahun lalu mencapai S$2 miliar. Jumlah ini tumbuh 9% terhadap perolehan pada 2012. Angka tersebut merupakan pendapatan terbesar keempat di dunia yang diperoleh pengelola bandara dari penjualan ritel.

Tanpa menyebutkan angka detil, Robin menyatakan sumbangsih tiga bisnis ritel terbesar adalah rokok dan minuman keras, parfum dan kosmetik, serta produk mewah. Total gerai ritel yang dimiliki Changi berjumlah 350 toko.

Robin mengklaim harga yang ditawarkan di seluruh gerai ritel di dalam bandara tak lebih mahal dibandingkan dengan yang ada di pusat perbelanjaan di luar bandara. Transaksi ritel di Changi berkisar 120.000 setiap hari.

Minister Mentor Singapura Lee Kwan Yew pernah bilang, “Barang kali keputusan pemerintah yang paling berani terjadi pada 1975, yakni meninggalkan bandara Paya Lebar yang sudah ada lantas mengembangkan Changi”.

Pernyataan tersebut merujuk kepada pembangunan Changi yang dimulai pada 1975 di ujung timur Singapura. Bandar udara ini menjadi proyek dengan investasi termahal di negeri singa kala itu senilai S$1,5 miliar.

Sebelum Changi lahir, bandara pertama di Singapura adalah Seletar beroperasi pada 1929 – 1937. Pangkalan pesawat komersil selanjutnya adalah Kallang (1937 – 1955) kemudian Paya Lebar yang beroperasi sampai 1981.

Singapura mengambang serupa pulau seluas sekitar 137 kilometer persegi. Jika melihat peta dunia, negara bersimbol kepala singa ini mungkin cuma nampak seperti bulatan hitam di dekat Malaysia dan Indonesia. Sisi utara berbatasan dengan Malaysia, sedangkan Indonesia di selatan.

Setiap sudut Negeri Singa dipenuhi papan informasi yang jelas, sehingga wisatawan tak perlu khawatir nyasar maupun kecopetan. Konsep ini pula diterapkan manajemen Bandar udara Changi.

Wisata alam yang dimiliki mungkin tak seeksotis Raja Ampat, Pulau Dewata, atau Borobudur. Tapi Singapura tak habis akal, mereka menata serapi dan apik mungkin infrastruktur transportasi, lingkungan, dan setiap lokasi yang potensial jadi tujuan wisata.

Advertisements

CHINA BENTENG: Restorasi Bukan Renovasi #2

PADA akhirnya kita hanya akan melestarikan apa yang kita cintai, mencintai apa yang kita mengerti, dan mengerti hanya apa yang diajarkan. (bagian #1 klik di sini)

Kalimat itu tertera di halaman belakang brosur Museum Benteng Heritage, saya membacanya saat beranjak pergi dari kawasan Pasar Lama usai mengunjungi museum dan klenteng di dekatnya. Ya, museum ini hanya sepenggal bagian tentang upaya melestarikan rekam jejak peranakan Tionghoa di Tangerang.

Usai mengunjungi museum tersebut, saya sadar warga Tionghoa tak bisa dipisahkan dari sejarah kota ini. Mereka hadir, menetap, hidup, tumbuh, dan meneruskan keturunannya di sini. Mereka ada sejak Tangerang dipenuhi benteng pada jaman kolonial Belanda. Merekalah China Benteng.

“Disebut China Benteng karena dulunya Tangerang jadi benteng pada jaman Belanda. Tidak ada info pasti benteng ini mencakup wilayah mana saja di Tangerang,terakhir ditemukan sisa benteng di daerah Batuceper,” ujar Satyadhi Hendra.

Saya banyak berbincang dengan pria keturunan Tionghoa berusia 38 tahun itu. Sejujurnya saya tak mendapatkan sebutan yang pas untuknya. Tapi anggaplah Hendra, demikian dia disapa, salah satu pengelola museum dan orang yang dipercaya Udaya Halim si pemilik museum.

Tapak pertama yang saya pijak saat menyusuri  jejak China Benteng ada di Jalan Cilame No. 18 – 20, Pasar Lama, Tangerang. Museum kelolaan Yayasan Benteng Heritage inilah yang berusaha mempatenkan China Benteng sebagai mutiaranya Tangerang, the pearl of Tangerang.

“Dari proses restorasi sampai sekarang seperti bola salju, museum ini seperti dapat pengakuan bahwa di sini bisa jadi sumber cerita tentang masyarakat peranakan di Tangerang. Sumber cerita, bukan sumber sejarah,” ujar Hendra.

Radius sekitar hingga 300 meter di sekitar museum kental suasana pecinan. Bangunan, demografi penduduk, dan suasana khas kampung China. Bukan cuma klenteng Boen Tek Bio dan Vihara Padumuttara, ada juga Masjid Kalipasir bergaya Tionghoa yang tuanya tak kalah dengan bangunan museum.

Hendra, pria berkulit putih, tubuh sintal dan berkaca mata, menemani saya berbincang di ruang depan museum sebelum tiba giliran untuk tur ke dalam. Kami duduk di atas bangku kayu di depan loket yang menjual tiket senilai Rp20.000 per orang.

Mungkin saya adalah tamu kesekian ratus yang ditemuinya selama mengurus Museum Benteng sejak 2011. Hendra sangat mengusai topik pembicaraan soal museum dan sekilas tentang China Benteng. Dia mulai menjelaskan dari apa yang tampak di ruang utama ini.

Di sisi bagian kiri, jika dari arah saya masuk, ada naga barongsai berdiri tenang. Naga Nusantara namanya, kata Hendra. Sebutan nusantara menyiratkan begitu dalam percampuran budaya Indonesia dengan Tionghoa di Tangerang.

“Lihat saja naganya pakai batik. Naga ini bernuansa naga barong Bali, garuda wisnu kencana, ditambah sentuhan Tionghoa. Ini adalah Naga Nusantara pertama,” ucapnya.

Pada sisi berlawanan dari naga di antaranya terpajang beberapa lukisan suasana sekitar museum dan Pasar Lama tempo dulu, diadopsi dari foto ukuran dompet. Adapula piala dipajang berjejer baik dari dalam negeri maupun penghargaan level internasional.

Seluruh bangunan Museum Benteng dibeli Udaya Halim untuk direstorasi bukan renovasi. Sama sekali tidak ada perubahan konstruksi, posisi, maupun bahan bangunan. Bahkan ada pahatan keramik di dinding langit-langit luar dan dalam di lantai dua tetap tersaji seperti sedia kala tanpa diubah sedikitpun.

Proses restorasi bangunan yang diperkirakan dibangun pada abad ke-17 itu bermula pada 2009. Seluruh bagian bangunan tua ini tidak memiliki struktur besi. Batu bata kuno yang ada dirawat tanpa diubah agar museum ini dapat dicatat sebagai cagar budaya, sehingga tak bisa diperjualbelikan.

Museum Benteng sepertinya dahulu bukanlah rumah. Pasalnya bangunan ini tidak memiliki kamar tidur dan ruangan dapur. Diperkirakan bangunan artistik ini pada mulanya dipakai sebagai kantor sebuah organisasi.

Setelah direstorasi selama dua tahun tepat pada 11 November 2011 pukul 20.11 WIB, cagar budaya ini diresmikan sebagai museum. Pemilihan jam peresmian memang sengat pada malam hari, ujar Hendra.

“Karena kalau dilakukan pagi bisa berantem sama orang pasar dulu, mereka  bisa bawakan kami semua golok,” katanya sembari tertawa menunjuk pasar di sekitar bangunan museum.

Untuk barang-barang yang menjadi koleksi saat ini semuanya merupakan milik pribadi Udaya Halim yang dikelola Yayasan Benteng Heritage. Tapi sayang, pada Sabtu sore itu saya tak sempat menghampiri dan berbincang langsung dengannya lantaran dia sedang sibuk berbincang dengan tamunya.

Museum Benteng Heritage, imbuh Hendra, enggan menjadi bangunan statis. Setiap tahun setidaknya ada informasi mengenai sejarah bangunan ini maupun budaya China Benteng di sekitar ditambahkan. Ini agar dapat disebut  sebagai museum pintar.

Halaman pertama pada brosur museum tersebut seolah bersahutan dengan kalimat pujangga yang saya temuka di halaman paling belakang. Restorasi bangunan ini bertolak dari kesadaran pentingnya melestarikan peninggalan sejarah, agar kita tidak mengalami amnesia sejarah.

DSC_0625

CHINA BENTENG: Museum itu Pita dalam Temali Kusut #1

PASAR Lama termasuk salah satu kawasan yang mungkin paling familiar bagi warga Kota Tangerang, selain Cikokol.

Sesuai namanya, mayoritas daerah Pasar Lama memang berupa pasar. Entah itu dengan konsep tradisional, ritel modern, pertokoan, hingga pusat kuliner pada malam hari. Gampangnya, sebut saja ini daerah pusat perdagangan. Sejak pagi sampai malam transaksi jual beli agaknya tak berhenti.

Rupanya tidak semua sudut di sana bernuansa bisnis. Saya coba merangsek masuk ke dalam pasar tradisional tak jauh dari Masjid Al-Ijtihad. Nama jalannya Cilame, jangan dikira ini terkenal. Beberapa masyarakat yang saya temui dalam perjalanan tidak tahu bahkan salah memberi arah.

Saya berjalan kaki sekitar 50 meter memasuki mulut gang menuju satu tempat. Sebetulnya ragu apa betul ini jalan yang benar. Di depan gang sama sekali tak ada papan informasi atau sekadar spanduk yang menginformasikan keberadaan lokasi yang saya tuju.

Berdasarkan informasi di laman daring dan hasil tanya tukang parkir, ini memang jalan menuju Museum Benteng Heritage. Setelah menyusuri jalanan becek berbau apak campuran sampah sayuran, lumpur, dan daging busuk  akhirnya saya tiba di depan bangunan ini sekitar pukul 16.30 pada Sabtu (4/4/2015).

Saya berhenti beberapa detik sebelum memasuki pagar besi bercat hitam selebar 1,5 meter. Garis bibir melebar. Menatap museum tersebut seperti melihat sehelai pita di dalam tumpukan tali-temali kusut yang didominasi rafia dan sumbu kompor bekas, batin saya.

DSC_0622
[Museum Benteng Heritage, Kota Tangerang / dok. pribadi]

Museum dua lantai itu dicat putih pada dindting dan hitam untuk berbagai kusen dan titik-titik penyangga bangunan. Seluruh jajaran pagar pun dicat hitam. Tak banyak hal spesial dari penataan taman di halaman cagar budaya ini. Cuma ada beberapa batang tanaman setinggi 1- 1,5 meter tertanam di dalam pot.

Rasa ingin tahu terhadap isi bangunan berusia sekitar 300 tahun ini melambung saat melihat ornamen dinding depan dan pintu utama. Ada tirai merah membalut daun pintu hitam, sepasang patung kirin laki-laki dan perempuan bak penjaga yang selalu beri hormat kepada semua tamu.

Pintu kayu tersebut diapit jendela kayu dengan warna cat sama, ada teralis warna coklat muda di tengah-tengahnya. Saat kepala mendongak, terpampang tiga lampion menggantung tenang. Warnanya lagi-lagi merah tetapi satu yang di tengah berwarna coklat.

Keramik hitam berukuran sekitar 1 x 0,5 meter tertanam pada dinding putih, tepat di samping jendela kanan. Di sana tertera informasi bangunan ini disahkan sebagai museum pada 11 November 2011 (11.11.2011) pukul 20.11 WIB oleh Harimurti Kridalaksana, Ping Supandi, dan Udaya Halim si pemilik cagar budaya ini.

“Hou de zai wu,”  tulisan di samping daun pintu ini menahan bola mata sejenak. Tindakan yang penuh kebajikan membuahkan kebaikan, demikian artinya.

Suasana yang saya dapati sebelum melintasi pintu utama sangat khas China tetapi bukan hanya itu. Betul ini museum tentang kebudayaan Tionghoa di Tangerang, tetapi saya tak merasa ini terlalu a la Tiongkok. Ya, inilah hasil peranakan Tionghoa Tangerang, inilah China Benteng.

Kotak Sabun Kucing

Kitten bathing

KUCING termasuk jenis hewan teritori, maksud saya mereka hidup dengan menetapkan secara tegas batas-batas teritorialnya. Apabila kucing lain mulai mengusik apalagi hendak merebut wilayah pengusaannya maka si empunya pasti langsung siaga berkelahi.

Saya menyayangi mereka memang, tetapi apakah lantas sekarang ini saya sudah berubah rupa menjadi kucing?

Kotak sabun raksasa berukuran 2 x3 meter dengan dinding bata merah ini adalah teritori yang saya tetapkan dan patenkan secara tak disadari orang lain. Onggokan sekantung sampah kertas, meja komputer yang dipenuhi buku, brosur, map, dan kertas tak beraturan, tempat tidur berselimut sleeping bag, satu lemari kecil berwarna coklat, dua boneka, dan beberapa tumpukan kardus. Inilah teritorial saya.

Saya sudah pisahkan beberapa helai pakaian kotor di sudut ranjang untuk dicuci sendiri pada akhir pekan. Tapi sekembali ke rumah, ke dalam kotak sabun merah muda ini, baju kotor itu tidak ada. Kemana perginya?

Rupanya mereka sudah diterjemur rapi di halaman belakang. Kenapa? Maksud saya, siapa yang melakukannya?

Ahh.. sosok itu.

Tokoh yang tak pernah absen menyiapkan sarapan itu, diri yang tak terjangkau oleh saya itulah pelakunya. Mungkin dia tak betah melihat baju kotor di dalam kotak sabun kacau ini. Padahal, demikianlah adanya kotak sabun.. bagaimanapun tetap terasa bersih dan wangi sabun, isinya kan sabun dan hakikatnya sabun itu membersihkan.

Tapi demikianlah, saya bahkan untuk membersihkan bekas diri sendiri saja sukar. Sosok itu kembali, kembali lagi lebih dulu mencucinya. Seseorang yang terkadang mengeluarkan suara tinggi itu selalu mencucinya. Mencuci seluruh pakaian kotor yang ada. Setelah itu kelelahan, sakit, dan akan kembali mencucikan.

Bahkan, kotak sabun raksasa yang berantakan ini beberapa kali pernah dibersihkan. Niatnya pasti baik, tidak mungkin tidak, terlepas bagaimanapun caranya melakukan itu. Tapi saya menyaksikan sepulang ke rumah, tempat ini tidak saya kenali. Sejumlah hal berubah bukan karena tangan saya, kotak sabun ini menjadi kotor dan tidak wangi.

bubble bath

Debu, tumpukan barang, kertas, buku bahkan sampah membuatnya hidup. Tapi mereka tidak terserak lagi, mereka mati.

Saya cemas, bagaimana yang terjadi selanjutnya. Saya bingung, saya bingung, saya marah, saya berteriak, saya bergulat, saya duduk, berdiri, berlari, ya… saya diam.

Powerless.

Perlahan saya kembalikan semua seperti semula. Seperti seharusnya atmosfir di dalam kotak sabun ini, kumuh, usang, agar tak perlu ada siapapun melirik dan berminat memilikinya.

Kotak sabun ini teritori saya. Dari sekian ratus meter persegi rumah tinggal ini hanya ini yang hendak saya patenkan sebagai teritori, cuma 2×3 meter persegi ini saja. Sungguh.

Di sinilah tempat kucing bisa mengeong lapar, mengeong sakit, mengeong untuk bernyanyi, mengeong untuk bertanya, mengeong untuk tidur, di sini saja.

Jika kucing jantan mematenkan teritorialnya dengan mengencingi, apakah saya juga perlu? Perlu kah saya kencingi daun pintu itu dengan kalimat : restricted area ?

 -Amaranthine-

Camera 360

[ini merupakan cerita lanjutan dari Semesta Ketiga Amaranthine]

Random Word

I don’t really know what to write actually, insomnia kicked me (again).

Words just spread out in my head but too many until none of them I could arranged. Avadakadavra…. I have got a word: heaven!

Well yes, everybody has right to choose the concept of heaven by their own comprehensions,  as do most of religions.

Sure, I don’t exactly know how the heaven seems like because I alive. But in some ways, (most of) people have faith for the afterlife. Term of ‘heaven’ emerged from this hereafter concept.

Well, no matter about version do we have about heaven, they should all be respected.

tik tok tik tok…

…….

Out the very blue, the words are vanished (again) just it is..

Dua Prolog tentang Cinta

THE ALCHEMIST piked up a book that someone in the caravan had bought. Leafing through the pages, he found a story about Narcissus.

The Alchemist knew the legend of Narcissus, a youth who knelt daily beside a lake to comtemplate his own beauty. He was so fascinated by himself that, one morning, he fell into the lake and drowned. At the spot where he felt, a flower was born, which was called the narcissus.

But this was not how the author of the book ended the story.

He said that when Narcisuss died, the goddesses of the forest appeared and found the lake, which had been fresh water, transformed into the a lake of salty tears.

“Why do you weep?” the goddesses asked.

“I weep for Narcissus,” the lake replied.

“Ah, it is no surprise that you weep for Narcissus,” they said, “for though we always pursued him in the forest, you alone could contemplate hiw beauty close at hand.”

“But… was Nrcissus beautiful?” the lake asked.

“Who better than you to know that?” the goddesses said in wonder. “After all, it was by your banks that he knelt each day to contemplate himself.”

The lake was silent for some time. Finally, it said:

“I weep for Narcissus, but I never noticed that Narcissus was beautiful. I weep because, each time he knelt beside my banks, I could see, in the depths of his eyes, my own beauty reflected.”

“What a lovely story,” the Alchemist tought.

*   *   *   *

sumber: nimeshkiranverma.wordpress.com
sumber: nimeshkiranverma.wordpress.com

Ya, memikat sekali prolog di dalam buku The Alchemist karya Paulo Coelho tersebut. Tapi saya merasa ada yang mengganjal. Soal sosok danau dan si Narcissus tersebut, mengenai kesalingkaguman di antara mereka, rasanya saya merasa ada sesuatu.

Usai membaca prolog tersebutpun saya langsung terperanjat sejenak. Rasa-rasanya kilas cerita tentang Narcissus itu sudah lebih dulu saya baca, tapi di dalam buku apa saya lupa.

Akhirnya saya berhasil mengingat. Dalam Dekapan Ukhuwah karya Salim A. Fillah. Diapun menggunakannya sekilas di dalam prolog.

Ganjalan yang saya rasakan seusai membaca prolog The Narcissus tersebutpun terjawab. Dan jawabannya ada di dalam prolog yang dibuat Salim.

Si sungai berkata: I weep because, each time he knelt beside my banks, I could see, in the depths of his eyes, my own beauty reflected.

Cerna terhadap kalimat itu dikemukakan Salim bahwa “Kisah tentang Narcissus menginsyafkan kita bahwa setinggi-tinggi nilai yang kita peroleh dari sikap itu adalah ketakmengertian dari yang jauh dan abainya orang dekat.

…”telaga itu hanya menjadikan Narcissus sebagai sarana untuk mengagumi bayangannya sendiri. Persis sebagaimana Narcissus memperlakukannya,” tulis pria yang menjuluki diri sendiri sebagai hamba Alloh yang tertawan dosanya itu.

Pada dasarnya, tiap-tiap jiwa hanya takjub pada dirinya, tulis Salim mengakhiri paragraf.

Narcissus memang indah, demikian pula si danau. Tapi rasanya terlampau dangkal apabila cinta itu hanya teruntuk diri sendiri. Ke-narcissus-an hanya menciptakan gagal paham mereka yang jauh dan abainya yang di sekeliling.

Cinta sesama. Bukankah ini yang dibutuhkan?

Tapi saya sendiripun terlena karena lebih sering memikirkan bagaimana menjadi pohon yang kokoh, tegak menjulang dengan akar menghujam. Padahal, ha ha ha, yang dinantikan sekeliling adalah dahan-reranting-daun yang meneduhkan, serta buah yang ranum nan bermanfaat.

Cinta sesama itu, Salim berpandangan, persaudaraan yang sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji.

Malu

Kulit mukaku coklat kemerahan.
Rambut di sekujur tubuh menengah, merinding.
Suaraku terbata, pertanyannya mengambang, dan tuturan tak jelas maksud.
Bola mata naik turun, ke kanan sesaat ke kiri.
Nafas berat untuk kuhirup dan terlepas tanpa kuembuskan.
Ketika itu, aku malu.

 

Jakarta, 23 Juli 2014.

Semesta Ketiga Amaranthine

bulan-bumi-matahari
bulan-bumi-matahari

Segala yang berlangsung selama periode itu hanya melahirkan kebingungan yang semakin pekat di dalam rongga kepala. Bimbang itu serupa asap hitam yang mengepul dari cerobong pabrik dan seluruhnya terhirup olehku.

 

Otak teracuni sampai tak ada lagi dopamin maupun serotonin yang mampu lelompatan antarujung syaraf. Tumpul, karena aku tak punya lagi syaraf transmisi terpenting dalam penciptaan rasa damai dan tenang. Kini, asap pekat kebingungan berpedar menyelimuti seluruh sel dalam tengkorak.

 

Alhasil, sentral perangkat pikir tersebut melemah sampai ke level terendah. Padahal, sebelumnya terabadikan di benakku bahwa semesta ketiga sungguh indah hingga kuterantuk di batasnya. Pikirku berhenti tanpa mampu lagi menerobos.

 

Aku telah memutuskan untuk menyerahkan seluruh Jiwa dan Raga-ku kepadamu bulan. Kubaringkan keduanya di atas dipan-dipan berisi sesembahan, untuk kau serap sari patinya. Selepas prosesi pengorbanan itu langsung kutemui kafein dan membeberkan seluruh kejadian yang ada kepadanya.

 

Seperti biasa.. dia ngotot diam sembari bergelombang kecil tatkala kutiup lemah pinggirnya. Dan, aku tersenyum mendapati itu. Tapi sebelumnya, apakah kau menyukai hasil seduh gerusan bebijian hitam bernenek moyang dari Afrika Timur?

 

Tak apa jika jawabanmu nein alias no. Setidaknnya kalau ”iya”, kurasa kau tahu betapa manjur secangkir espresso untuk menemanimu menarik nafas dari lembah terendah, sembari merebahkan pantat di atas sofa. Aku ada di dalam ruangan luar biasa luas berplafon hitam dengan taburan gemintang sembari memandangi lunar.

 

Berjarak sekitar 4 meter di depanku ada seorang wanita muda berusia kisaran 24 tahun duduk berhadapan dengan laptopnya. Lubang telinga disumbat headset berkabel putih entah apa yang terputar di san,a yang pasti tatapannya fokus tak beralih dari layar laptop.

 

Tepat di meja sebelahnya, 2 orang ibu masing-masing beraut wajah Chinese dan kebatakan. Mereka duduk di kursi kayu, beda dengan aku dan si wanita muda yang bertengger di sofa. Ibu-ibu itu terlihat antusias berbincang dengan rekannya berkulit hitam asal Afrika dalam bahasa Inggris.

 

Aku tak sedang memata-matai siapapun di antara mereka, pula tak kenal asal-usulnya. Sebetulnya mataku tengah mengamati sosok bulat berwarna putih keabu-abuan nun jauh jutaan kilometer dari pelupuk mata. Bulan itu mencuat di tengah jeda antara sofa si nona dan kursi ibu-ibu.

 

Dulu, bulan hanya kulirik sekilas. Melihatnya sekelebat, memperhatikan cahaya atau bentuknya sembari mengingat kalender lantas berlalu. Tapi, mereka bilang alam beserta personil tata surya tak sekedar untuk dilirik, ada dzat yang bisa dirasai.

 

Jiwa, Raga… akhirnya, kuputuskan untuk mengembalikan kalian kepada alam, semoga seluruh sari pati kehidupan yang sempat diserap turut kembali ke sumbernya. Tenang saja, walau otakku melemah tetap ada yang tersisa kok.

 

Tidak akan sentral pikir ini rusak begitu saja karena pelemahan diri yang terjadi. Sebab, itu bisa memporak-porandakan seluruh tatanan peradaban yang kususun sejak keakraban kita di periode kehidupan lampau.

 

“Wajar jika segala yang hidup akan mati. Setidaknya itu membuat kehidupan bisa terus bermetamorfosis hingga seperti sekarang ketika orientasi tak lagi terletak pada kebutuhan melainkan want,” ujar Raga sembari meloloskan asap putih dari bara tembakau lewat mulutnya.

 

Sedangkan Jiwa baru saja meletakkan benda serupa di pinggir asbak bening—yang kala itu tergeletak tepat di tengah kami bertiga. Beberapa hari sebelumnya kau bilang padaku; sepertinya gunung emas, meski ukurannya membengkak jadi dua kali lipat, takkan cukup memuaskanku.

 

Sungguh, aku tak acuh bagaimana mula hingga bisa kutemukan jasad dan ruh itu. Yang ingin kuketahui, sebetulnya apa yang menjaga kalian tetap tegak sewaktu segalanya berangsur runtuh?

 

Entah siapa yang menjadi gurumu wahai jasad, itu bukan hal pokok bagiku. Yang lebih krusial adalah mengetahui kesediaanmu melangkah memijak bara denganku tanpa undur diri teratur.

 

Apalagi kamu si ruh. Bisakah kamu tetap tersenyum menggunakan bibir dan matamu seperti itu—sendirian dengan dirimu saja? Akankah kau sungguh tetap mengindahkan kekawanmu selagi kau kelompong?

 

Aku rampung berbicang dengan kafein dan mencurahkan rindu kepada bulan. Ia tampil bulat utuh dengan sinaran perak kekuningan. Mungkin perasaanku saja, tapi sepertinya bulan kini lebih segar. Apakah karena sari patimu yang direnggut Jiwa dan Raga?

 

Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 23.05 PM. Kumatikan layar itu lantas beranjak dari sofa—yang sekian tahun lalu sempat kami duduki.

 

Kami… aku, ruh dan jasad. Kami… aku, Jiwa, dan Raga.
*****

 

 

a half love shadow.
a half love shadow.

 

 

 

Kali ini, aku ingin bicara tentang cinta. Hal yang mungkin tak bisa kamu mengerti atau aku yang sebetulnya tak tahu apa-apa. Bisa jadi memang dasarnya pengertian kita berbeda satu sama lain. Sehingga, ketika aku ingin membawamu pulang, kau menolak. Dan sewaktu kau ingin menunjukkan sepercik energi padaku malah kau habiskan seluruh dayamu sampai lunglai.

 

Apakah kita pernah bertemu di masa yang lain sebelumnya?

 

Bagaimana jika kuterangkan bahwa periode itu terbentang mengikat kita di tempat berbeda yang terpisah lembah. Di tempatmu ramai riuh senjata berdentum, duarr duarr, membuat bocah-bocah selalu gelisah. Pada sisiku; ruas jalan masih berupa tanah, banyak senyum ramah, geliat ekonomi desa saling menjamah.

 

Bagaimana jika kusampaikan, aku mencintaimu sejak dahulu. Sejak kau masih seorang berseragam tentara Eropa sedangkan aku cuma penjual karak di pasar rakyat.

 

Mendapatimu kembali setelah reinkarnasi, itu seperti rindu yang tak ada habisnya. Sayang sekali, hanya bicara satu-satunya jembatan kita selama bercengkrama dalam semesta ketigaku. Dengan jarak lutut kurang dari semeter membuatku ingin bangkit dan memelukmu.

 

Melingkarkan tangan kanan dan kiri mengelilingi rusukmu. Mendengar apa yang berdetak teratur di baliknya. Merasai diameter dadamu di kehidupan yang sekarang. Merasai bibirmu di kening lantas turun dan bertaut dengan milikku.

 

Aku bertanya-tanya, bahasa apa yang harus kugunakan untuk menyampaikan ini? Aku tak bisa pakai dialek Perancis, Belanda, Jawa terpatah-patah, Sanskerta, Latin, dan Jermanpun hanya kutahu sedikit. Bilang padaku, lingua apa yang mesti kugunakan? Sebut Raga!

 

Kamu selalu menggunakan bahasa jiwamu sendiri. Maaf, aku tak paham. Masing-masing jiwa kita memiliki warna. Bagaimana caranya putihmu menemui biruku yang labil lantaran kerap menjelma pula menjadi ungu, merah, kuning, dan lainnya?

 

“Semua akan terpahami sesuai keinginan kita untuk melihatnya dengan cara seperti apa,” katamu Raga.

 

Ha ha ha.. apakah artinnya, aku takkan pernah bisa memberitahumu tentang cinta yang ada di kepala entah di kehidupan kini maupun periode-periode baru (yang mungkin ada) di depan?

 

*****

 

Sebutlah aku ini sok tahu lantaran begitu yakin selama kita saling bicara kau menunjukkan geliat kenyamanan atasku, Jiwa. Sebaliknya, aku terlalu hiperbol sewaktu kau dalam pola yang sama tetapi aku resah pangkat 17 karena merasa kau tak nyaman lagi padaku.

 

Akukah sumber masalahnya? Kau menggeleng, Jiwa. “Ragapun kurasa menyambutmu dengan baik. Jangan berpikir demikian,” ujarmu.

 

Namun, selalu kumantapkan dalam hati adalah jawabannya “iya” atas pertanyaan tersebut. Bagaimana mungkin orang lain mau damai bersamaku selagi dengan diri sendiri saja kurasai begitu risih?

 

Sekali lagi, aku sok tahu. Kupercayai bahwa aku mengenal dengan baik siapa diriku. Siapa lagi kalau bukan seonggok daging bertulang yang bermula dari tetesan air—yang di kehidupan masa kini cenderung lebih sering menjadi sumber kehinaan manusia.

 

Dalam periode selanjutnya, aku akan menjadi bangkai busuk yang berbaring di dalam tanah. Maka, saat ini… aku tengah berjalan bolak-balik di antara tetes air dan bangkai itu. Aku sekedar hilir mudik sembari membawa kotoran.

 

Jelaskan padaku, Jiwa, mengapa sejak fase lampau hingga sekarang selalu ada yang harus dibatasi? Setidaknya untuk rasa. Cuma seperempat bisa kusampaikan, sisanya disimpan.

 

Melepaskan Raga tak mungkin bisa terlaksana jika aku tetap menggenggamu erat hingga kau sulit bernapas, Jiwa.

[on my hands / dok. pribadi]
[on my hands / dok. pribadi]
*****

Pernahkah kau tersadar bahwa seluruh dirimu tak sekedar bermula dari aktivitas senggama orang tuamu? Adakah momen kau teringat soal beberapa periode semesta yang sempat terlalui? Atau, kau merasa sosokmu sudah ada jauh sebelum sperma bapak biologismu menghampiri sel telur ibumu?

 

Ada beberapa semesta yang kulalui, totalnya tiga. Yang terakhir itu baru saja berlalu. Awalnya semesta ketiga itu senyap, cuma terdengar gerakkan jarum jam dinding seolah terus mengingatkan tentang putaran waktu.

 

Kemudian segalanya berubah menjadi lebih merekah ketika jasad dan ruh saling sepakat untuk melangkah. Tetapi, berkat konsep waktu 1×24 jam semestaku ini terasa begitu memburu apalagi saat kudengar bermacam teriakkan orang di sekeliling.

 

“Oh my God, oh my God!!”

 

“What’s going on?! What’s wrong?!”

 

“Mommy…”

 

“Honey, I’m scare! Oh my God!”

 

Pekik para penumpang yang berada di dalam pesawat Malaysia Airlines Boeing B777-200 bersamaku menambah kesan dramatis dan mengerikan terhadap jasad dan ruh ini. Tapi, aku tak mampu melontarkan kalimat apapun, hanya mampu mencengkram sandaran lengan, mata terpejam.

 

Aku mati-matian berusaha menahan tubuh agar tetap merekat dengan sandaran kursi, tak membungkuk ke depan seiring dengan moncong pesawat yang menukik tajam menuju bumi.

 

Di dalam kegelapan tetiba bulan yang tadi kupandangi saat duduk di sudut coffee shop bandara terlihat begitu dekat dalam jangkauan. Muncul pula Jiwa sambil mengusap-usap punggung tangan berusaha melemaskan remasan jemariku. Lalu, ada Raga di hadapanku menangis sekaligus tersenyum.

 

Pada semesta yang terakhir ini kucoba untuk melepaskan segala yang tertahan. Semesta ketigaku indah sekaligus terasa gerah. Aku merasa memijak tanah tinggi dibuatnya. Sayang, setelah kuperiksa justru selama di sana aku sekedar melayang hilang pijakan.

 

Bagaimanapun, takkan bisa kupilih takdir karena dia yang berhak untuk memilih. Kalau aku menjadi pemanah maka takdir tak ubahnya embusan angin. Aku cuma bisa berupaya membidik dan melesatkan anak panah di saat paling tepat.

 

“Pada akhirnya, bukan waktu yang pisahkan kita Amaranthine… melainkan ragu yang kecilkan cinta,” bisikmu Jiwa, di suatu malam sekian ribu hari lalu.

*****

Paspor Bikin Akrab Yah

KANTOR Jurusan Jurnalistrik Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik berada di semak belakang kampus. Tentu saja bukan semak dalam arti sebenarnya.

Ruang yang dihuni para dosen jurusan jurnalistrik fakultas komunikasi Kampus Tercita IISIP Jakarta itu terdiri dari 2 lantai. Posisinya tepat di samping toilet pria yang paling terpencil di kampusku. Pokoknya, dekat halaman parkir belakang, terpencil, terasing, terisolasi. Halah

Siang menjelang sore di salah satu hari pada 2009 (kalau tidak salah ingat). Bocah kriting itu mengenakan switer dan sendal jepit memasuki ruang jurusan (andai tak salah ingat pula :p ). Ada beberapa mahasiswa lain di sana, aku salah satunya. Kami yang tak saling kenal berkumpul dalam rangka pengumuman seleksi magang untuk sebuah surat kabar olahraga.

[detil soal bocah tersebut bisa ditengok disini]

Dosen mata kuliah Penulisan Berita Olahraga dan Budaya (PBOB) menugasi kami untuk menulis berita sebaik mungkin guna diseleksi, beberapa hari sebelumnya. Siapa yang lolos berkesempatan magang, sekalian KKL (kuliah kerja lapangan), plus dapat honor.

Itulah pertama kali aku mulai berinteraksi dengan bocah penggila Harry Potter tadi (sekarang usianya sama sekali sudah nggak bocah/remaja/belia sih). Satu komentarku untuk parasnya: orang ini mukanya jawa banget dah.

Setelah itu, kami berkawan. Friend of benefit, pokoknya temenan harus cari “untung” (nama siapa yah ini? :p ). Dua kalimat terakhir becanda kok. Sebab, kayaknya aku nggak menguntungkan buat digauli juga sih.

Dia itu baik deh (sambil nahan muntah nih ngetiknya). Sekarang ia men-status-isasi dirinya sebagai the (most) quality jomblo in Jabodetabek.

“Kita akrab banget yah,” celetuknya diiringi rangkulan bernuansa nyindir sambil cengar-cengir, tatkala kami sedang menghabiskan waktu di mal. Anak nongkrong coy! (Preet)

Aku tertawa, dia juga. Hari ini, 24 Januari 2014, entah sudah berapa kali bocah bermuka Jawa yang mengaku punya kecantikan abadi itu menggerakkan telunjuknya ke depan hidung. Menekan tulang lunak di antara lubang hidungnya. Membuat indra pernapasannya berbentuk menyerupai yang dimiliki babi. Ini dilakukan berulang-ulang setiap kali habis mengucapkan hal koplak atau sekedar untuk merespon tingkah goblok yang terjadi di antara kami.

Kalau aku tak ingat betapa dia ingin diakui memiliki kecantikan abadi, pasti sudah kubilang: idungmu nggak usah digituin udah berbentuk ‘begitu’ kok.

Sekitar 12,5 jam kuhabiskan bersamanya, hari ini. Kemudian, kami berpisah di depan salah satu pintu gerbang mal tersohor di Tangerang, setelah sebelumnya dari mal yang lain. (Omaigat, cinta bener sama mal)

Kalimat celetukkan tadi memang cuma sepintas. Tapi, setelah beberapa jam sampai di rumah lantas mengingatnya kembali ada rasa yang lain. Cailah… (makin nahan muntah)

Yah, aku dan wanita -yang hari ini bersorak lantaran berhasil dapat diskon 20% saat membeli sepatu baru di Khakikhakiku- itu sempat menghilang satu sama lain. Atau, mungkin yang on-invisible-mode hanya aku saja, atau sebaliknya, entahlah. Periode invisible ini berlangsung sekitar 2,5 tahun.

[Roppan, Mal TangCity, 24 Januari 2014 / dok. pribadi]
[Roppan, Mal TangCity, 24 Januari 2014 / dok. pribadi]
Ini bukanlah pertama kali aku menghabiskan waktu dengan perempuan yang namanya serupa dengan bandar udara Negeri Sakura tersebut. I am not her best woman (obviously) >> sok ngikutin Sherlock yang disebut sebagai best man-nya Watson. Tapi, demikianlah dan… ya sudahlah.

Setiap dari kami memiliki kehidupan masing-masing, khususnya dia. Setidaknya, saya senang menyadari bahwa periode invisible mode itu perlahan semakin menjauh. I am not feeling sorry for… whatever it was. Looking back, perhaps we knew ‘this’ all along.

Kami berpisah menuju rumah masing-masing. Dia menuju rumahnya sembari mlipir menemui seseorang dulu, eeyaaa’ (aku bisa tebak namanya kan, sok misterius sih lu). Aku pulang sembari berulang kali membuang ingus (ini efek pilek, bukan karena terharu).

Sebetulnya, ‘perjalanan’ 12,5 jam hari ini bermula dari obrolan pada tengah malam sebelumnya.

Kawanku yang sangat baik hari berkenan traktir makan di Roppan ini sejak pukul 00.00 WIB (semalam) ngoceh soal perkara bikin paspor tapi nggak menghasilkan kesimpulan apapun. Hasilnya, jam 6 pagi tadi nelpon [ketika mataku masih sepet dan mimpi masih nanggung]. Oknum -yang hari ini menceramahiku soal membuka hati- itu nelpon ngasih tau mau ke kantor imigrasi Tangerang pada 7.30 WIB.

Hello world, itu kejadian jam 6.10 WIB. Setidaknya, aku butuh waktu 45 menit untuk sampai di lokasi. Belum lagi kepotong prosesi mandi, bedakan, siapin berkas, etcetera.

Pada akhirnya aku tetap nyamperin dia tersebut sih.

Aaaak, ini jelang akhir bulan man… devisa di ATM cekak ditambah mesti bayar biaya pembuatan paspor sekian ratus ribu rupiah. Huuft! [Makasi yah, oknum].

Setelah meninggalkan kantor imigrasi sejak berjam-jam lalu ada pertanyaan yang tertinggal di benak. Sebenarnya, gua bikin paspor mau ngapain dah?

Ketika sedang mengisi formulir : “Duh, ini [merujuk pada lembar pertama formulir di kolom tujuan pembuatan paspor] negara tujuan dan tujuannya diisi apa?” ujar temanku yang ngarep banget jadi selingkuhan Ryan Gosling itu.

Aku tak langsung menjawab, melempar tatapan ‘menurut el?’ terlebih dulu.

Lalu dia menjawab pertanyaannya sendiri, “Yaudah ke Singapura aja yah, mau liburan aja tulisnya”.

Dalam hatiku: mmm… mmm..

Beberapa menit kemudian setelah menyelesaikan pengisian formulir permohonan paspor, dia mengantre nomor urut. Berlanjut aku yang mengisi formulir.

Biasanya, seseorang makan karena? lapar. Oke, fine. Minum disebabkan? haus. Kalau tidur? karena ngantuk atau lelah. Mmm, aku beli sepatu baru karena ? (biasanya) lantaran kondisi sepatu lama udah nggak memadai.

Nah, hari ini… aku bikin paspor, karena? mau liputan ke luar negeri (?), mau liburan ke luar negeri (?), atau mungkin mau umroh (?).

Teetooot, nggak ada yang benar dari opsi jawaban di atas.

Aku membuat paspor karena…. karena… karena ada orang yang ngajak. (tepok jidat)

……negara tujuan SINGAPURA, permohonan pembuatan paspor untuk keperluan LIBURAN….. [I wrote the same thing].

Dengan PeDe tingkat dewa kuikuti isian formulir temanku bahwa negara tujuan lancongan adalah Negeri Singa.

Not Enough

e63(284)

WAKTU kerap  seperti usapan telapak ketika kening berpeluh. Begitu saja lalu  kerin. Atau, serupa menantikan kopi dalam cangkir di depanku adem agar bisa diseruput, lambat sekali.

Ah… waktu. Adakah itu sebetulnya?

Aku rasa itu hanya akal-akalan orang gila saja.

Setelah waktu dibuat lantas segala terasa seperti berbatas. Oke, memang tak ada yang terhampar luas tanpa ujung sih.